Sun,26 July 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Indonesiana
  3. Perlunya Kohesivitas Masyarakat

Perlunya Kohesivitas Masyarakat

perlunya-kohesivitas-masyarakat
Perlunya Kohesivitas Masyarakat
service

Ilustrasi./Pemkab Tanah Bumbu


Saya tidak habis pikir membaca berita dan tayangan televisi tentang seorang yang menyekap dan menyiksa kekasihnya selama 3 tahun—ya, betul 3 tahun, bukan 3 hari atau 3 bulan. Saya bertanya dalam hati, bagaimana seseorang yang tinggal di suatu tempat selama 3 tahun menyekap dan menyiksa kekasihnya itu tidak diketahui orang? Apakah tetangga dan RT setempat tidak mengetahui sepak terjang pelaku selama tinggal di wilayahnya? Apakah pihak RT menerima dokumen-dokumen si pelaku, misalnya KTP, Kartu Keluarga, dan buku nikah?

Pelaku yang kejam itu bernama Taufik Hidayat. Ia tega menyekap dan menyiksa kekasihnya selama 3 tahun di wilayah Cileunyi, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Kekasihnya, seorang perempuan 29 tahun berinisial YTR, mengalami luka berat hingga tidak bisa melihat secara normal, mengalami bibir sumbing, sulit berbicara, juga tidak bisa berjalan.

Kapolda Jabar, Irjen Polisi Rudi Setiawan, mengungkapkan, YTR mengalami luka berat di sekujur tubuhnya. Untuk keperluan penyelidikan, kata Rudi, dokter forensik telah mengidentifikasi organ-organ tubuh yang rusak.

“(Organ-organ tubuh) yang tidak berfungsi di antaranya adalah mata, kemudian bibir, ada bekas sayatan di kaki. Ini benda tajam. Kemudian ada sundutan rokok dan sebagainya. Tentunya, ini menjadi bukti dari apa yang telah terjadi atau dilakukan tersangka,” kata Rudi.

Saya tidak ingin membahas kejiwaan Taufik Hidayat, apakah dia gila atau psikopat, sebab banyak ahli yang sudah membahasnya. Saya hanya ingin mengingatkan lagi perlu adanya kohesivitas di masyarakat kita. Mengingat di perkembangan zaman yang modern dan cepat berubah ini, kehidupan masyarakat yang dulunya rukun sesuai dengan budaya luhur bangsa, saat ini banyak yang sudah berubah cenderung ke arah individualisme.

Secara umum, pengertian kohesivitas adalah derajat kekuatan ikatan atau rasa kebersamaan yang membuat anggota sebuah kelompok tetap bersatu. Istilah ini menggambarkan tingkat solidaritas, komitmen, dan dorongan psikologis individu untuk mempertahankan hubungan dan bekerja sama demi mencapai tujuan bersama. Secara singkat menurut saya, kohesivitas masyarakat itu sejatinya merupakan tingkat keguyuban atau kerukunan sosial di masyarakat. Oleh karena itu, untuk mengikat kohesivitas atau kerukunan itu, hadirlah lembaga di level bawah yang disebut Rukun Tetangga (RT) dan Rukun Warga (RW).

Kalau saya menggambarkan tingkat keguyuban sosial masyarakat di tahun-tahun masa kecil saya pada era 1950, 1960, dan 1970-an, bukan berarti kondisinya lebih baik dari zaman sekarang. Namun, minimal ini menjadi bahan referensi bagi kehidupan ke depannya. Ibarat perusahaan yang selalu melihat performa laporan keuangan tahun-tahun sebelumnya, itu dimaksudkan agar perusahaan bisa menjadikannya tolok ukur atau tren perkembangan kemajuan keuangan perusahaan. Demikian pula melihat kondisi masyarakat masa lalu (yang positif).

Saya ingat di kampung saya, Kapasari, Surabaya, pada tahun-tahun tersebut, apabila ada tamu yang menginap di rumah familinya, maka sang tamu diantar familinya lapor ke Ketua RT setempat sambil membawa dokumen yang diperlukan seperti KTP atau lainnya. Tamu tadi juga dikenalkan ke tetangga kiri dan kanan rumah familinya.

Bahkan kalau ada seseorang pria yang bertamu ke seorang perempuan dengan maksud silaturahmi atau apel ke kekasihnya, maka pihak kampung (RT) sudah memiliki aturan bahwa siapa pun yang bertamu di wilayahnya tidak boleh melebihi jam 24.00. Kalau ada yang tidak menghiraukan aturan itu, bisa-bisa anak-anak muda kampung menggedor-gedor rumah yang dikunjungi pria tersebut untuk disuruh keluar dari rumah. Saya waktu kecil pernah ikut “nggruduk” sebuah rumah dengan para pemuda kampung untuk mengusir pemuda yang bertamu ke pacarnya lebih dari jam yang sudah ditentukan tadi.

Di dunia yang modern ini memang kondisi sosial kita banyak berubah, apalagi di kota-kota besar banyak bermunculan apartemen yang meskipun punya tim keamanan lengkap, namun kerap kali kecolongan. Ada tamu yang tinggal di apartemen dengan orang lain yang bukan suami istri bisa bebas, tetangga kiri kanannya tidak mengenalnya, bahkan ada warga negara asing yang tinggal overstay di Indonesia dengan lenggang kangkung saja keluar masuk apartemen yang disewanya. Para WNA itu ada yang membuat kerusuhan, ada pula yang terlibat narkoba, ada pula sindikat penipuan cyber seperti love scamming, pemerasan, dan lain-lain.

Balik lagi ke soal Taufik Hidayat si penyiksa ini. Saya melihat tayangan televisi di mana seorang tetangga (atau Ketua RT?) mengatakan pada awak media bahwa Taufik mengaku pacarnya adalah istrinya. Jadi, orang-orang di sekitarnya tahunya mereka itu suami istri. Saya tidak tahu apakah Pak RT itu sudah menerima bukti surat nikah atau tidak dari Taufik.

Sahabat saya satu angkatan di universitas punya pertanyaan: “Lha, keluarganya bagaimana? Kok enggak mencari tahu ada keluarganya yang hilang selama 3 tahun? Atau kenapa kok tidak pernah berkunjung waktu Lebaran?”

Kejadian penyekapan dan penyiksaan selama tiga tahun ini menjadi wake-up call bagi kita semua untuk tidak melupakan budaya luhur bangsa tentang kerukunan dan keguyuban sosial di masyarakat kita masing-masing.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.