Sore itu aku belajar, bahwa persahabatan sejati tidak menghitung seberapa keras kita bisa menendang, melainkan seberapa tenang kita menjaga agar kawan tak pernah merasa berjuang sendirian.
Mubadalah.id – Hari itu, rasa lelah menyergap setelah aku menuntaskan rutinitas kuliah yang padat. Sesampainya di asrama, aku hanya ingin melepas penat sambil menggulir linimasa Instagram. Awalnya, mataku tertuju pada sebuah ilustrasi manis dari konten kreator @alfinrizalisme yang mengangkat judul: “Dua hal manis dalam persahabatan: memahami dan dipahami.” Kalimat itu terasa hangat, namun kejutan sebenarnya muncul pada slide berikutnya.
Sebuah video kiriman akun TikTok @kidut pratama mendadak mencuri seluruh perhatianku. Di sana, sekelompok anak laki-laki tengah asik bermain bola di sebuah lapangan kampung. Fokusku langsung tertuju pada sang penjaga gawang, seorang anak difabel yang berdiri sigap menjaga kedaulatan timnya. Namun, bukan keterbatasannya yang membuatku terpaku, melainkan bagaimana kawan-kawannya memperlakukan dia dengan penuh martabat.
Aku menyaksikan pemandangan yang jarang terjadi di dunia orang dewasa yang kompetitif. Teman-temannya tidak sekadar “mengizinkan” dia bermain, mereka aktif menciptakan ruang aman baginya. Setiap kali sang kiper berhasil menangkap bola, teman-temannya segera menghujani dia dengan apresiasi yang tulus. Mereka bersorak, menepuk bahu, dan merayakan keberaniannya seolah ia baru saja menyelamatkan gawang di partai final piala dunia.
Seni Menyesuaikan Ritme demi Kesalingan
Di balik sorak-sorai itu, aku menangkap sebuah detail yang sangat mahal, cara kawan-kawannya menendang bola. Alih-alih melesatkan sepakan keras yang mematikan, mereka justru mengontrol tenaga dengan sangat sadar. Mereka mengirimkan “tendangan pelan” yang terukur, sebuah umpan yang memungkinkan sang kiper untuk tetap berdaulat di bawah gawangnya sendiri. Tindakan ini bukan bentuk belas kasihan yang merendahkan, melainkan sebuah penghormatan atas kehadiran kawan.
Namun, jempolku terhenti pada sebuah komentar dengan lebih dari seribu tanda suka yang berbunyi: “Syukurlah dia punya teman.” Sepintas, kalimat itu terdengar manis, tapi jika kita selami lebih dalam, ada nada “kasihan” yang justru memojokkan sang kiper sebagai pihak yang pasif.
Seolah-olah keberadaannya di lapangan hanyalah sebuah keberuntungan karena “kebaikan hati” orang lain. Pandangan seperti inilah yang sering kali menjebak kita, kita menganggap difabel sebagai objek yang perlu dikasihani, bukan subjek yang setara untuk diajak berkolaborasi.
Padahal, di lapangan itu, bukan hanya sang kiper yang beruntung memiliki teman seperti mereka. Teman-temannya pun justru sangat beruntung memiliki kawan yang mengajarkan mereka arti empati sejak dini. Anak-anak ini tidak sedang melakukan aksi amal, mereka sedang bermain bersama. Mereka aktif mempraktikkan bahwa persahabatan sejati tidak mengenal kasta antara “si penolong” dan “si tertolong”, melainkan tentang bagaimana setiap orang memiliki peran yang sama pentingnya untuk merayakan kehidupan.
Merawat Empati yang Melampaui Waktu
Menyaksikan video dari tahun 2024 itu di tengah kelelahan pulang kuliah memberiku sebuah perspektif baru. Kita tidak butuh algoritma rumit atau teori hukum yang kaku untuk menciptakan dunia yang inklusif, kita hanya butuh kemauan untuk melenturkan ego. Jika anak-anak di lapangan kampung saja mampu meredam ambisi demi menjaga senyum kawannya, mengapa kita yang dewasa justru sering kali saling sikut demi mengejar validasi dan angka?
Pelajaran dari tendangan pelan itu harusnya menjadi standar baru dalam kita berinteraksi. Menghargai orang lain bukan berarti menaruh rasa kasihan dari tempat yang lebih tinggi, melainkan bersedia duduk sejajar dan menyesuaikan ritme agar tak ada satu pun yang tertinggal. Kita perlu aktif menciptakan “lapangan-lapangan” baru dalam kehidupan sehari-hari di kantor, di kampus, maupun di lingkungan rumah di mana setiap orang, dengan segala keterbatasannya, tetap bisa merasa berdaulat dan berharga.
Aku menutup aplikasi media sosial saat semburat jingga mulai memenuhi jendela asrama. Di tengah keriuhan teman-teman mahasantri yang mulai sibuk membawa hidangan berbuka, pikiranku masih tertahan pada video tadi. Aku menyadari satu hal, meski dunia tak langsung berubah karena sebuah video viral, ia telah berhasil mencetak “gol” di hatiku tentang arti memahami dan dipahami. Sambil menunggu azan maghrib berkumandang, aku berjanji akan selalu membawa semangat “tendangan pelan” itu dalam setiap interaksiku, sebuah kesalingan yang menjaga martabat setiap kawan. []





Comments are closed.