Fri,17 April 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Indonesiana
  3. Perunding Berlatar Belakang Penjual Rumah

Perunding Berlatar Belakang Penjual Rumah

perunding-berlatar-belakang-penjual-rumah
Perunding Berlatar Belakang Penjual Rumah
service

Perunding Berlatar Belakang Penjual Rumah

images info

Perunding Berlatar Belakang Penjual Rumah


Banyak pendapat dan komentar masyarakat dunia tentang gagalnya perundingan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran di Islamabad, Pakistan, pada Sabtu (11/4/2026) lalu. Pendapat-pendapat itu sebagian besar soal bagaimana masing-masing pihak tidak menerima poin-poin usulan perdamaian. Namun, banyak juga yang pendapatnya dari sudut pandang latar belakang pendidikan delegasi kedua negara.

Banyak diberitakan di media, keempat tokoh kunci delegasi Iran dalam perundingan perdamaian ini memang setidaknya memegang titel edukasi doktoral dari latar belakang berbeda. Mereka juga disebut memiliki pengalaman dalam negosiasi Iran dengan utusan Amerika Serikat sebelumnya.

Sebut saja Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, yang sebelumnya berkarier sebagai diplomat senior. Ia tercatat meraih gelar doktor politik dari University of Kent, Inggris pada 1996. Sementara itu, Mohammad-Bagher Ghalibaf merupakan tokoh senior Iran yang pernah menjadi komandan garda revolusi Iran (IRGC) dan Wali Kota Teheran. Ia disebut memegang gelar doktoral pada bidang geografi politik dari Universitas Tarbiat Modares, Iran. Ali Akbar Ahmadian dan Abdolnaser Hemmati juga tercatat memegang gelar doktoral dari Universitas Pertahanan Nasional Iran dan Universitas Teheran untuk dua bidang berbeda. Ahmadian lulus sebagai doktor bidang manajemen strategis pertahanan sementara Hemmati meraih titel doktor pada bidang ekonomi.

Pada sisi lain, meskipun ketiga anggota delegasi AS yakni JD Vance, Jared Kushner, dan Steve Witkoff memiliki gelar sarjana dan pascasarjana tingkat profesi bidang hukum dan property, banyak pendapat yang meragukan kemampuan mereka terutama sahabat dan menantu Presiden AS Donald Trump, yakni Witkoff dan Kushner, yang tidak memiliki latar belakang politik dan diplomasi. Di media sosial, masyarakat AS mempertanyakan bagaimana kedua orang itu yang biasanya berjualan rumah dan properti tiba-tiba menjadi juru runding pertemuan diplomatik yang membahas masalah-masalah krusial dunia

“Paling-paling keduanya saling pandang sambil mengatakan ‘I do not know’ bila ditanya bagaimana solusi perdamaian dengan Iran itu.” demikian isi salah satu unggahan di Facebook.

Trump yang mempercayai kedua orang berlatar belakang pengusaha real estate itu menimbulkan kritikan bahwa sang presiden menggunakan pendekatan “Diplomacy without Diplomats” atau diplomasi tapi tidak menggunakan diplomat-diplomat yang memang ahli di bidang negosiasi politik internasional. Witkoff dan Kushner dicap sebagai “the unconventional negotiators”. Karena itulah, keduanya mendapatkan kritikan di dalam negeri AS sendiri sebagai utusan presiden yang membahas soal kebijakan luar negeri tentang konflik yang kompleks dengan pendekatan tradisional dalam jual beli real estate.

Kritikus dan pejabat asing juga menyoroti keduanya yang tidak memiliki latar belakang pendidikan diplomatiknya, mengutip rincian yang terlewatkan dan gaya “pergi sendiri” yang terkadang menyebabkan kebingungan dalam negosiasi sensitif.

Pemerintahan Trump telah secara aktif memberdayakan tim “luar” ini dan melihat latar belakang mereka dalam bisnis sebagai aset untuk mengamankan kesepakatan, daripada mengandalkan diplomat karier yang berpengalaman.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Tim Editorarrow

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.