Mon,4 May 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Environment
  3. Pesta Media: dari Redaksi hingga Hutan Papua, Suara Perempuan di Tengah Krisis Iklim

Pesta Media: dari Redaksi hingga Hutan Papua, Suara Perempuan di Tengah Krisis Iklim

pesta-media:-dari-redaksi-hingga-hutan-papua,-suara-perempuan-di-tengah-krisis-iklim
Pesta Media: dari Redaksi hingga Hutan Papua, Suara Perempuan di Tengah Krisis Iklim
service

Suara-suara itu datang dari panggung kecil di Taman Ismail Marzuki, tetapi gema pesannya melampaui dinding gedung. Perempuan, dari jurnalis sampai para perempuan penjaga hutan, berbicara tentang krisis yang tidak hanya merusak alam, juga memperdalam ketimpangan. Dalam talkshow pembuka Pesta Media AJI Jakarta 2026 bertajuk “Lensa Terpinggirkan: Suara Jurnalis Perempuan dalam Krisis Iklim dan Kelompok Rentan,” tiga jurnalis perempuan: Evi Mariani, Nany Afrida, dan Sapariah Saturi, membuka percakapan bagaimana perempuan mengalami dan melaporkan krisis secara berbeda. Krisis iklim tidak hanya sebagai angka statistik atau grafik suhu semata. Ia hadir sebagai cerita tentang tubuh, ruang hidup, dan ketidakadilan. Bagi Nany Afrida, Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia, persoalan jurnalis perempuan bukan sekadar soal jumlah, juga struktur yang timpang. Salah satu yang dia soroti mengenai proporsi jurnalis perempuan di Indonesia masih begitu kecil, baru sekitar 21,5%, angka yang mencerminkan ketimpangan di industri media. “Diskriminasi ini bersifat sistemik, bukan kasus individual,” katanya. Tekanan yang jurnalis perempuan hadapi, kata Nany, berlapis, dari kekerasan berbasis gender, diskriminasi di ruang redaksi, beban kerja ganda, hingga serangan digital. Dalam banyak kasus, katanya, kekerasan ini bahkan dinormalisasi, sedang mekanisme perlindungan di ruang redaksi masih lemah. Situasi ini, katanya,  membuat jurnalis perempuan tidak hanya berjuang menyampaikan kebenaran, juga mempertahankan ruang aman bagi dirinya sendiri. Sapariah Saturi, Managing Editor Mongabay Indonesia, mengatakan, keberadaan jurnalis perempuan bukan sekadar soal representasi, tetapi kebutuhan mendasar dalam kerja jurnalistik. Talkshow bertajuk “Lensa Terpinggirkan: Suara Jurnalis Perempuan dalam Krisis Iklim dan Kelompok Rentan” menjadi sesi pembuka dalam rangkaian Pesta Media AJI Jakarta 2026. Diskusi ini menghadirkan tiga jurnalis perempuan, yakni , Evi…This article was originally published on Mongabay

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.