Jakarta, Arina.id – Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu mengagendakan pertemuan dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Gedung Putih pada Selasa (28/7/2027). Pertemuan ini menjadi yang pertama sejak pecahnya perang Iran, di tengah perbedaan pandangan yang sempat muncul secara terbuka di antara kedua pemimpin.
Dalam beberapa bulan terakhir, hubungan Netanyahu dan Trump beberapa kali terlihat kurang harmonis. Meski demikian, keduanya berupaya meredakan ketegangan tersebut.
Pertemuan kali ini diperkirakan akan berfokus pada perang yang bermula dari serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari. Washington menyatakan masih ingin memberikan kesempatan bagi jalur perundingan untuk menyelesaikan konflik.
Israel sendiri tidak terlibat dalam gelombang terbaru bentrokan antara Amerika Serikat dan Iran yang kembali memanas pada awal bulan ini setelah gencatan senjata yang tercapai pada April gagal dipertahankan.
Pertemuan Selasa ini merupakan pertemuan kedelapan antara Netanyahu dan Trump sejak Trump kembali menjabat sebagai presiden tahun lalu. Ini juga menjadi pertemuan tatap muka pertama mereka sejak perang dimulai.
Sebelum berangkat dari Israel pada Senin (27/7/2026), Netanyahu mengatakan kunjungan tersebut merupakan sebuah kehormatan sekaligus tanggung jawab besar.
“Ini adalah kehormatan besar, tetapi juga tanggung jawab yang besar,” kata Netanyahu dikutip dari AFP.
Ia menambahkan bahwa pembicaraan akan mencakup berbagai isu, terutama Iran. “Kami akan membahas semua isu dalam agenda, terutama Iran. Tentu saja, tujuan kami adalah menjaga keamanan kami sekaligus memperluas lingkaran perdamaian di sekitar kami,” ujarnya.
Hubungan Sempat Memanas
Hubungan kedua pemimpin sempat mencapai titik terendah pada April lalu saat berlangsung negosiasi gencatan senjata. Ketika itu, Trump melontarkan kritik keras yang disertai kata-kata kasar terhadap sekutunya tersebut.
Dalam sebuah wawancara, Trump bahkan menyebut Netanyahu sebagai sosok yang “sangat sulit.”
Namun Netanyahu mengecilkan arti perbedaan itu dan menyebutnya hanya sebagai “perbedaan taktis”. Menurutnya, keduanya tetap memiliki tujuan yang sama terkait perang.
Selain membahas Iran, keduanya juga diperkirakan akan membicarakan pelaksanaan kesepakatan kerangka kerja yang dimediasi Amerika Serikat antara Israel dan Lebanon, yang ditandatangani bulan lalu. Implementasi kesepakatan tersebut di lapangan masih menghadapi berbagai tantangan.
Gaza Juga Menjadi Pembahasan
Pertemuan tersebut juga diperkirakan akan menyinggung situasi di Gaza. Upaya diplomatik untuk memulai kembali rekonstruksi wilayah Palestina itu hingga kini masih mengalami kebuntuan.
Hampir tiga tahun sejak perang antara Israel dan Hamas pecah, kondisi kemanusiaan di Gaza masih sangat memprihatinkan. Israel juga terus melancarkan serangan terhadap pihak-pihak yang menurut militernya merupakan kelompok militan.
Menunjukkan Hubungan Tetap Solid
Pakar hubungan internasional dari Hebrew University of Jerusalem, Yonatan Freeman, menilai tujuan utama kunjungan Netanyahu adalah menunjukkan bahwa hubungan Amerika Serikat dan Israel tetap kuat, sekaligus membantah anggapan adanya keretakan di antara kedua negara.
“Saya pikir isu utamanya adalah menunjukkan kepada dunia, kepada Iran, juga Lebanon dan pihak-pihak lainnya, bahwa tidak ada keretakan ataupun perbedaan besar antara Amerika Serikat dan Israel,” kata Freeman.
Menurutnya, kesamaan pandangan antara Trump dan Netanyahu jauh lebih besar dibandingkan perbedaan yang ada.
Freeman menilai perbedaan keduanya lebih berkaitan dengan cara, waktu, intensitas, dan sasaran jangka pendek operasi militer, bukan mengenai tujuan akhir perang.
Ia juga memperkirakan Trump akan lebih memprioritaskan dua agenda utama di kawasan, yakni Iran dan perluasan Abraham Accords, dibandingkan isu Gaza yang dinilai bukan prioritas utamanya.
Abraham Accords merupakan serangkaian perjanjian normalisasi hubungan diplomatik yang dimediasi Amerika Serikat pada masa pemerintahan pertama Trump. Melalui kesepakatan tersebut, Israel menjalin hubungan diplomatik resmi dengan Uni Emirat Arab, Bahrain, dan kemudian Maroko.
Meski demikian, sejumlah pengamat menilai pembahasan juga dapat mencakup kemungkinan pengurangan kehadiran militer Israel di sejumlah wilayah, seperti Lebanon, Suriah, maupun Gaza.
Menjelang Pemilu Israel
Kunjungan Netanyahu ke Amerika Serikat berlangsung beberapa bulan menjelang pemilihan umum nasional Israel, di mana ia berencana kembali mencalonkan diri sebagai perdana menteri.
Sejumlah survei terbaru menunjukkan tingkat dukungan terhadap Netanyahu masih tertinggal. Kemarahan publik terhadap pemerintahnya dinilai belum mereda setelah kegagalan mencegah serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 yang memicu pecahnya perang di Gaza.




Comments are closed.