Rencana Pencampuran 10% Etanol ke BBM Disebut Jadi Langkah Tepat, Apa Alasannya?
Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) berencana untuk mencampurkan 10 persen etanol (E10) ke bahan bakar minyak (BBM). Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia menyampaikan bahwa Presiden Prabowo Subianto menyetujui hal tersebut.
Pencampuran bensin dengan etanol bertujuan untuk mengurangi emisi karbon dan ketergantungan pada impor BBM. Etanol sendiri berasal dari tumbuhan, seperti tebu, singkong, dan lainnya.
Kandungan oksigen dalam etanol bisa membantu proses pembakaran menjadi lebih efisien. Artinya, emisi berbahaya seperti karbon monoksida (CO) dan hidrokarbon (HC) dapat berkurang signifikan.
Mengutip dari ANTARA, mobil-mobil di Indonesia sebenarnya sudah kompatibel dengan kandungan etanol dalam BBM hingga 20 persen. Namun, saat ini Indonesia masih mencampurkan etanol sebesar 5 persen.
Pencampuran BBM dengan Etanol untuk Dukung Transisi Energi
Menanggapi rencana tersebut, Pakar Teknik Mesin Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Dr. Ir. Wahyudi, S.T., M.T., mengatakan bahwa kebijakan pencampuran bensin dengan etanol adalah wujud keseriusan pemerintah untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil dan mendorong pemanfaatan energi terbarukan.
“Dari sisi energi terbarukan, kebijakan ini sangat baik. Artinya, ke depan kita memang harus semakin banyak menggunakan energi yang dapat diperbarui, dan bioetanol merupakan salah satu bentuknya,” terangnya dalam umy.ac.id.
Lebih lanjut, Wahyudi menambahkan bahwa langkah ini juga sejalan dengan kebijakan pencampuran biodiesel pada mesin diesel yang saat ini mencapai 30-40 persen. Targetnya pun diaharapkan bisa meningkat hingga 50 persen dalam waktu dekat.
Wahyudi mengatakan, selain mendukung transisi energi, penerapan E10 juga diharapkan bisa meningkatkan kualitas bahan bakar. Selain itu, etanol juga disebutnya punya angka oktan yang lebih tinggi dibandingkan bensin murni, sehingga bisa menghasilkan proses pembakaran yang lebih bersih, efisien, dan menghasilkan emisi yang lebih rendah.
Sebagai tambahan, menyadur dari Office of Energy Efficiency and Renewable Energy yang dikelola oleh Departemen Energi Amerika Serikat, karbon dioksida yang dilepaskan kendaraan saat etanol dibakar akan diimbangi oleh karbon dioksida yang ditangkap saat tanaman bahan baku ditanam untuk menghasilkan etanol.
Bahkan, data yang mereka terbitkan menunjukkan jika emisi gas rumah kaca (GRK) dapat berkurang hingga 40 persen dengan etanol berbasis jagung, dibandingkan dengan penggunaan bensin dan solar.
Tak Perlu Tergesa-gesa
Meskipun dirasa baik, Wahyudi meminta pemerintah untuk tidak tergesa-gesa. Perlu ada kesiapan penuh di berbagai aspek, baik dari sisi pengguna maupun produsen. Di sisi lain, menurutnya, sebagian kendaraan keluaran baru sudah siap untuk menggunakan bahan bakar campuran E10 tanpa perlu modifikasi mesin.
“Untuk kendaraan keluaran tahun 2001 ke atas, hampir semuanya sudah bisa menggunakan bioetanol E10. Jadi sekitar 80 persen kendaraan yang beredar saat ini sudah kompatibel. Hanya sebagian kecil kendaraan lama yang mungkin masih menghadapi kendala teknis karena perbedaan karakteristik bahan bakar,” terangnya.
Selain itu, Wahyudi menyarankan adanya uji coba menyeluruh sebelum diimplementasikan. Pada tahap awal, perlu ada uji performa di berbagai jenis kendaraan, baik roda dua maupun empat dari berbagai jenama. Hal ini dilakukan untuk memastikan keamanan dan efisiensi bahan bakar tersebut.
Tak hanya itu, masyarakat juga perlu tahu data uji penggunaannya. Ia juga meminta agar pemerintah memastikan kesiapan dari sisi produksi bioetanol dalam negeri.
“Jika supply-nya belum memadai, tentu penerapannya masih membutuhkan waktu,” imbuh Wahyudi.
Pemerintah didoronng untuk tidak hanya menyiapkan infrastruktur dan meningkatkan kapasitas produksi bioetanol, tetapi juga melibatkan masyarakat dlaam proses pengembangannya. Produksi etanol disebut Wahyudi tidak harus bergantung pada industri besar, tetapi bisa dilakukan secara lokal lewat pemanfaatan bahan baku seperti tebu atau singkong.
“Bioetanol bisa menjadi peluang ekonomi masyarakat jika dikelola dengan baik. Namun tentu saja, hal ini membutuhkan kebijakan yang matang dan dukungan kebijakan dari hulu hingga hilir,” pungkasnya.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News





Comments are closed.