Thu,13 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Opinion
  3. Rojim yang Tersenyum Melihat Sandal Pejabat

Rojim yang Tersenyum Melihat Sandal Pejabat

rojim-yang-tersenyum-melihat-sandal-pejabat
Rojim yang Tersenyum Melihat Sandal Pejabat
service

Para santri berhamburan lari keluar kamar seperti semut yang singgasananya diobrak-abrik manusia. Tidak ada alasan bagi para pemalas untuk tetap tinggal di kamar karena tuding Kang Yusron sudah melayang ke mana-mana. Suasana gaduh ini terpelihara rutin tiap pagi di Pondok Al Ikhlas.

Kang Yusron, bagian keamanan pondok memang paling galak, dengan mata membelalak, menyabet setiap santri yang masih garuk selangkangan ketika azan subuh dikumandangkan. Dua alat sabetnya yaitu tuding dan gulungan sarung. Hampir semua santri sudah pernah merasakan perihnya sabetan Kang Yusron.

Kali ini, giliran kamar Al Muslim yang diburu Kang Yusron. Langkah kakinya terdengar pasti. Gemuruh santri di kamar lainnya masih saja terdengar membuat kaget seisi asrama putra, tak terkecuali kamar Al Muslim. Sebelum Kang Yusron menapaki kamar itu, dari kejauhan sudah banyak santri yang terlihat keluar kamar tersebut dengan menenteng handuk dan gayung berisi alat mandi. Ia mengira seluruh santri di kamar itu telah hengkang dari singgasana perliuran. Tapi ia salah besar!

Rojim, ahli ghasab terkenal di pondok itu, masih mimpi ditemui Ning Sika. Bantalnya terhitung paling berkarakter di kamar Al Muslim. Tiada bantal yang lebih gelap kecuali itu milik ‘Sang Ahli Ghasab’. Untuk pagi itu, ia masih saja menambah warna gelap bantalnya dengan kontribusi air liur sekira puluhan tetes. Kang Yusron yang sudah kepalang garang, meradang. Dilemparnya tuding ke arah Rojim, serta lari ke arahnya dengan posisi gulungan sarung sudah siap menebas dada telanjangnya Rojim.

Rojim yang sudah terkena tuding, sontak bangun dan menghindari pengejaran Kang Yusron. Dia menabrak lemari milik Bonges, rak kitab milik Cempe, dan ember milik Kang Azril. Upaya pelarian tersebut gagal karena ketitisan Kang Yusron sudah tersertifikasi oleh Badan Keamanan Pondok Nasional. 

“Ampun Kang, ampun!” Rintih Rojim dengan tangan melindungi kepalanya.

Kang Yusron mencengkeram sarung yang dipakai Rojim dan melemparnya ke arah pintu kamar.

“Cepat mandi!”

Rojim dengan setengah sadar, lari menuju kamar mandi pondok tanpa membawa apa pun selain sarung yang dipakainya. Ia memang terbiasa ghasab, sehingga ia tidak kurang akal untuk menyambung hidup di pondok. Sabun, sikat dan pasta gigi, sampai handuk, bisa ia dapatkan secepat santri menghabiskan jatah makanan dari pondok. Sarung yang ia pakai saat ini, juga bagian dari barang ghasab. Ia terkenal menjadi ahli ghasab setelah 40 hari pertama dia masuk pondok. Ia merasa dibuang oleh orang tuanya. Mereka seperti tidak menginginkan Rojim karena ia terkenal bandel di rumah. 

Nama Rojim sendiri bukan nama sebenarnya. Ini nama julukan dari kawanan santrinya. Melihat tingkah laku Rojim yang seperti setan, mereka menamainya Syaithanirrajiim yang kemudian diperpendek menjadi “Rojim” saja.

***

Mbah Tikno, salah seorang warga lokal, keluar dari masjid pondok tanpa memakai alas kaki. Kebiasaan Mbah Tikno ini juga diikuti oleh semua warga yang turut salat di masjid pondok. Persis, di luar masjid, bersih tanpa ada sandal kecuali punya Abah Mizan, pengasuh Pondok Al Ikhlas. Masjid yang bersih dari sandal ini jelas merupakan hasil kerja keras santri selama ini. Mereka mengamalkan dalil “Kebersihan sebagian dari iman”. Tapi yang mereka bersihkan bukan sampah ataupun kotoran di lingkungan pondok, melainkan barang-barang milik orang lain. Rojim menjadi imam dalam mewujudkan dalil ini.

Abah Mizan yang biasanya memakai sandal kayu terompah, untuk subuh kali ini tidak memakainya. Ia memakai sandal berbahan karet, sehingga suara sandal kayunya tak terdengar para santri seperti biasanya. 

Saat Abah hendak keluar masjid, Kang Amil, khodamnya Abah, terlebih dulu keluar untuk menata sandal Abah. Celakanya, sandal itu telah raib!

“Astaghfirullah, siapa yang berani ghasab sandal Abah?!” Teriak Kang Amil yang suaranya terdengar oleh seluruh santri di dalam masjid. Seluruh jamaah masjid pun turut keluar mengerubungi Abah dan Kang Amil. Kang Amil tanggap dan langsung mengambil sandal lainnya milik Abah di ndalem. Seluruh santri saling menghadap satu sama lain. Apakah dari mereka ada yang absen? Tidak butuh waktu lama untuk menebak itu ulah siapa, karena hanya ada satu anak yang raib juga bersamaan dengan raibnya sandal Abah.

***

Sepagi buta itu sudah ada sidang keamanan di ndalem. Makhluk buronnya sudah ketemu. Ia sudah dianggap sebagai orang paling zalim di pondok, karena telah mencuri sandal milik Abah Mizan. Sidang memang dilakukan secara tertutup dengan Abah sebagai hakimnya. Tapi di luar ndalem, seluruh santri sudah berkumpul untuk menunggu hasil sidang.

“Le, kenapa kamu mengghasab sandal Abah?” tanya Abah kepada Rojim yang sudah duduk merunduk di hadapan kiainya itu. 

“Beribu maaf, Bah. Saya tahunya itu bukan sandal Abah. Soalnya Abah biasanya pakai sandal kayu terompah kalau subuh,” jawab Rojim penuh penyesalan.

“Masyaallah,”  ucap Abah Mizan sembari mengelus dada. “Le, ghasab itu pangkal dari sifat korupsi. Tahu kamu kenapa?” tanya Abah. Rojim menggelengkan kepala.

“Korupsi itu terjadi karena kita terbiasa dengan pencurian kecil. Kalau kita sudah tahu ghasab itu tidak baik, ya jangan sekali-kali dinormalisasikan. Jangan pernah jadi koruptor, Le!” tegas Abah dan langsung dibalas dengan anggukan Rojim.

Selepas sidang, Rojim makin populer. Dia menjadi pusat perbincangan santri. Kali ini, Rojim benar-benar terpukul, karena yang mengingatkan bukan lagi keamanan, tapi Abah Mizan langsung. Untungnya, ia masih diberi kesempatan untuk tinggal di pondok itu.

“Hidup ke depannya di pondok akan lebih sulit dari sebelumnya,” pikir Rojim. Ia merasa seperti koruptor yang dimiskinkan. Barangkali ke depannya, ia akan mati mengenaskan tanpa memakai sehelai baju pun di kamar. Selama ini ia hidup bertumpu pada barang-barang ghasaban. Wasiat Abah untuk tidak lagi ghasab, membuat Rojim khawatir akan bayangan kematian tersebut. Saking terpukulnya, ia merenung sendiri di kamar, dan akhirnya tertidur. 

Kang Yusron kembali membangunkan para santri ketika waktu dluha telah tiba. Kali ini Rojim bisa bangun sendiri sebelum Kang Yusron ke kamarnya. Tapi celakanya, baju yang Rojim pakai untuk shalat subuh tadi, sudah terlepas dari badannya. Ia keluar kamar hanya dengan memakai sarung yang lilitannya kali ini berada di atas pusarnya. Setiap santri yang bertemu dengan Rojim,  tertawa cekikikan. Rojim merasa amat malu. Tapi karena ia sedang menjalankan amanat dari Abah, ia paksakan untuk tetap hidup sebagaimana adanya.

Halaman pondok dipenuhi mobil berplat merah, jelas itu tamu-tamu Abah. Rojim yang tahu bahwa itu mobil pejabat, langsung memikirkan sesuatu. Menurutnya, semua pejabat adalah koruptor. Ia juga tahu kalau politisi dari partai yang mengaku Islam-pun juga secara ramai-ramai melakukan korupsi. Maka segala sesuatu yang dipakai oleh pejabat itu adalah barang-barang hasil korupsi. 

“Jika uang negara dipakai untuk kemafsadatan oleh pejabat, maka lebih baik uang/barang tersebut aku yang pakai. Kalau aku yang pakai, sudah pasti untuk kemaslahatan, seperti ngaji dan silaturahmi.” Batin Rojim sambil tersenyum memperhatikan sandal para pejabat. Rojim berpikir tidak ada salahnya mengghasab barang milik para koruptor. Sekali lagi, di matanya, semua pejabat adalah koruptor!

Sejam kemudian, seluruh warga pondok geger! 

Saeful Huda, pengajar sejarah di SMA Islam Andalusia Kebasen, Banyumas. Ia juga menjadi pengajar di Mahad Aly Andalusia, Kebasen, Banyumas. 
 

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.