Konser Two Nations in Harmony
Musik menjadi bahasa yang mempertemukan Indonesia dan Australia dalam konser Two Nations in Harmony: An Australia–Indonesia Concert Ensemble di Jakarta, 9 Juli. Di atas panggung, Melbourne Symphony Orchestra (MSO) String Quartet tampil bersama komposer Indonesia sekaligus alumni University of Melbourne, Vishnu Satyagraha, serta sejumlah musisi Indonesia.
Namun, yang dirayakan malam itu bukan cuma sebuah pertunjukan, melainkan perjalanan panjang kerja sama budaya yang telah dibangun selama satu dekade.
Konser tersebut menghadirkan karya-karya orisinal Vishnu Satyagraha, termasuk Yarra Code dan Aluna Digdaya, yang lahir dari pengalaman hidup dan perjumpaannya dengan masyarakat Indonesia maupun Australia. Komposisi itu memadukan tradisi musik Barat dengan unsur-unsur musik Nusantara, termasuk bunyi gejog lesung yang berpadu dengan format ansambel gesek klasik.
Kuasa Usaha Australia untuk Indonesia, Gita Kamath, mengatakan musik memiliki kemampuan yang sulit digantikan oleh medium lain dalam membangun hubungan antarbangsa. “Musik adalah cara yang sangat kuat untuk menyatukan orang, membangun saling pengertian, dan menciptakan hubungan yang bertahan lama,” ujarnya. Menurutnya, konser ini menjadi cerminan eratnya hubungan Indonesia dan Australia yang terus berkembang melalui kreativitas dan kolaborasi.
Bagi Kamath, hubungan kedua negara tidak hanya dijalankan melalui diplomasi resmi, tetapi juga melalui pertukaran antarmasyarakat. Ia menilai komunitas alumni Australia memiliki peran penting sebagai penghubung kedua negara, termasuk Vishnu Satyagraha yang merupakan bagian dari jaringan alumni tersebut. “Ia adalah contoh yang luar biasa tentang bagaimana hubungan antarmasyarakat menjadi fondasi kemitraan Indonesia dan Australia,” katanya.
Satu Dekade yang Dibangun Bersama
Kolaborasi Melbourne Symphony Orchestra dengan Indonesia telah berlangsung selama lebih dari sepuluh tahun. Dalam periode tersebut, MSO menjalin kerja sama dengan Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta dan Yogyakarta Royal Orchestra melalui nota kesepahaman yang berfokus pada pengembangan ekosistem seni, pertukaran pengetahuan, hingga pembinaan musisi muda.
Chief Operating Officer Melbourne Symphony Orchestra, Suzanne Dembo, mengatakan pencapaian itu lahir dari hubungan yang dibangun secara konsisten, bahkan ketika pandemi COVID-19 membatasi pertemuan langsung. Menurutnya, proses mentoring terhadap musisi Indonesia tetap berlangsung secara virtual sehingga kolaborasi tidak terputus.
“Apa yang terjadi di atas panggung malam ini dibangun melalui kerja sama selama sepuluh tahun,” ujar Dembo. Ia menambahkan bahwa hubungan tersebut tidak hanya melibatkan para pemain musik, tetapi juga para pengajar, penyelenggara acara, alumni, hingga institusi yang bekerja bersama di balik layar.
Tahun ini juga menjadi momen penting bagi Melbourne Symphony Orchestra yang merayakan hari jadinya ke-120. Dembo menilai peringatan tersebut menjadi kesempatan untuk kembali menegaskan pentingnya hubungan budaya dengan Indonesia. “Musik adalah pemersatu yang luar biasa. Ia membawa kita bersama dengan cara yang sangat bermakna,” katanya.
Menggabungkan Tradisi dalam Satu Komposisi
Salah satu bagian yang paling menarik dalam konser ini adalah perpaduan instrumen musik Barat dengan gejog lesung, kesenian tradisional Jawa yang memanfaatkan lesung sebagai alat musik perkusi. Pilihan tersebut bukan dibuat untuk menghadirkan sesuatu yang unik semata, melainkan sebagai upaya mempertemukan dua tradisi musik yang memiliki karakter berbeda dalam satu komposisi.
Vishnu Satyagraha mengatakan dirinya melihat musik klasik Barat dan musik tradisional Indonesia memiliki ruang yang sama untuk saling berdialog. “Kami percaya keduanya dapat berkolaborasi dengan cara yang indah,” ujarnya.
Baginya, kesempatan bekerja bersama salah satu orkestra paling bergengsi di dunia merupakan kehormatan sekaligus ruang untuk menunjukkan bahwa keberagaman budaya dapat menghasilkan ekspresi artistik baru. “Melalui musik, kami menghormati berbagai perbedaan budaya dan menyatukannya menjadi satu ekspresi yang indah,” kata Vishnu.
Pandangan serupa disampaikan Dembo. Menurutnya, mempertemukan tradisi Barat dengan budaya lokal merupakan bagian dari proses saling memahami. “Kita perlu belajar satu sama lain, memahami latar belakang masing-masing, sekaligus melihat masa depan yang bisa kita bangun bersama,” ujarnya.
Membuka Peluang Kolaborasi Baru

Selain konser, kunjungan Melbourne Symphony Orchestra ke Indonesia juga diisi dengan lokakarya bertema Leadership in Arts di Jakarta sebelum melanjutkan agenda ke Yogyakarta. Program tersebut mendapat dukungan dari Australia-Indonesia Institute dan Pemerintah Negara Bagian Victoria sebagai bagian dari penguatan kerja sama sektor kreatif.
Ke depan, peluang kolaborasi juga diperkirakan akan semakin luas. Menanggapi kemungkinan bekerja sama dengan seniman dari daerah lain di Indonesia, Kamath menyebut gagasan tersebut sangat menarik untuk dikembangkan. Sementara Dembo mengungkapkan bahwa pihaknya telah menerima berbagai permintaan kolaborasi dari sejumlah provinsi di luar Yogyakarta.
“Ada begitu banyak peluang untuk bekerja bersama. Teruslah membawa ide-ide baru. Siapa tahu apa yang bisa kita bangun di masa depan,” kata Dembo.
Optimisme serupa juga disampaikan Kamath. Ia yakin kolaborasi antara musisi Indonesia dan Australia akan terus berlanjut. “Saya sangat percaya diri bahwa akan ada lebih banyak kolaborasi seperti ini di masa mendatang,” ujarnya.
Konser Two Nations in Harmony menunjukkan bahwa diplomasi budaya sangat penting. Di panggung musik, kerja sama tidak diukur dari panjangnya perjanjian atau jumlah delegasi, tetapi dari kemampuan dua tradisi untuk saling belajar dan menciptakan karya bersama yang dapat dinikmati oleh publik kedua negara.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News




Comments are closed.