Tue,28 July 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Perspektif
  3. Sadarilah, Pelajar Arogan Masuk Kategori Durhaka

Sadarilah, Pelajar Arogan Masuk Kategori Durhaka

sadarilah,-pelajar-arogan-masuk-kategori-durhaka
Sadarilah, Pelajar Arogan Masuk Kategori Durhaka
service

Arina.id – Setiap orang tua yang menyekolahkan anaknya tentu memiliki harapan besar agar mereka tumbuh menjadi pribadi yang saleh sekaligus berbakti kepada kedua orang tuanya. Demi mewujudkan cita-cita tersebut, orang tua menginginkan anak-anaknya rajin menuntut ilmu, tekun beribadah, serta senantiasa menjaga akhlak dan sopan santun dalam kehidupan sehari-hari.

Namun kenyataannya, tidak sedikit pelajar, baik yang menempuh pendidikan di pesantren maupun di sekolah formal, justru menunjukkan perilaku yang bertolak belakang dengan harapan orang tua. Ada yang gemar membolos, enggan belajar, berperilaku layaknya preman, hingga tidak mau menaati arahan gurunya. Sikap arogan seperti ini tentu akan melukai perasaan orang tua apabila mereka mengetahuinya.

Lalu, apakah perilaku seperti arogan, sering membolos, malas belajar, dan membangkang kepada guru dapat dikategorikan sebagai bentuk kedurhakaan kepada orang tua?

Al-Qur’an berulang kali memerintahkan umat Islam untuk berbakti kepada kedua orang tua. Berbakti kepada ayah dan ibu bukan hanya merupakan kewajiban yang diperintahkan oleh Allah SWT, tetapi juga termasuk amalan yang memiliki kedudukan sangat mulia setelah keimanan kepada-Nya. Allah SWT berfirman:

وَٱعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا۟ بِهِۦ شَيْـًٔا ۖ وَبِٱلْوَٰلِدَيْنِ إِحْسَٰنًا

Artinya: “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang tua (ibu-bapak).” (QS. An-Nisa [4]: 36)

Menurut Al-Atsari (2007), makna berbakti kepada orang tua adalah menaati setiap perintah mereka selama tidak bertentangan dengan syariat Islam. Sementara itu, Ahmad Izzudin Al-Buyunni menjelaskan bahwa bakti kepada orang tua diwujudkan dengan melaksanakan segala perintah mereka yang tidak mengandung kemaksiatan kepada Allah, memenuhi hak-hak keduanya, menjauhi segala bentuk perbuatan yang dapat mengecewakan mereka, serta senantiasa melakukan hal-hal yang mendatangkan keridaan orang tua.

Berdasarkan penjelasan tersebut, segala tindakan yang membuat orang tua terluka atau kecewa dapat termasuk ke dalam perbuatan durhaka. Contohnya adalah kebiasaan membolos sekolah, enggan belajar, bersikap seperti preman, maupun tidak menaati guru.

Hal ini sejalan dengan penjelasan yang terdapat dalam kitab Birrul Walidain karya Ibnu Al-Jauzi berikut:

وَعَنْ مُجَاهِدٍ، قَالَ: (لَا يَنْبَغِي لِلْوَلَدِ أَنْ يَدْفَعَ يَدَ وَالِدِهِ إِذَا ضَرَبَهُ، وَمَنْ شَدَّ النظرَ إِلَى وَالِدَيْهِ لَمْ يَبَرَّهُمَا، وَمَنْ أَدْخَلَ عَلَيْهِمَا مَا يُحْزِنُهُمَا فَقَدْ عَقهُمَا )

Artinya: “Dari Mujahid, ia berkata: Tidak sepantasnya seorang anak menepis tangan orang tuanya ketika dipukul (melawan). Barang siapa memandang rendah kepada kedua orang tuanya, maka ia telah durhaka kepada mereka. Dan barang siapa memasukkan kesedihan ke dalam hati keduanya, maka sungguh ia telah durhaka kepada mereka.

Dengan demikian, perilaku seorang anak yang malas belajar, gemar membolos, serta membangkang kepada guru dapat dipandang sebagai bentuk kedurhakaan kepada orang tua apabila sikap tersebut menyebabkan hati mereka tersakiti dan dipenuhi rasa kecewa. 

Bisa dipastikan semua orang tua merasa sedih ketika melihat anaknya mengabaikan pendidikan, menyia-nyiakan pengorbanan, serta tidak menghargai harapan besar yang telah mereka titipkan demi masa depan sang anak. Wallahu a’lam.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.