● Perempuan, dalam budaya Bali, membawa Śakti, yakni energi yang memelihara harmoni spiritual, sosial, dan alam.
● Perempuan Bali adalah pilar penting dalam ekonomi kreatif dan sektor pariwisata.
● Peran Śakti seharusnya dibesarkan dalam narasi pariwisata Bali.
Di Pasar Seni Sukawati, Gianyar, senyuman ramah dan tawar-menawar harga kain endek (kain tradisional Bali) atau patung kayu menjadi pemandangan sehari-hari.
Di balik interaksi jual beli sederhana itu, ada kekuatan tersembunyi yang menjaga pariwisata Bali tetap hidup: grit atau ketangguhan perempuan dalam bahasa setempat.
Seorang pedagang perempuan menceritakan rutinitasnya kepada saya. Sebelum matahari terbit, ia sudah menyiapkan banten (sesajen) untuk sembahyang, lalu memasak sarapan keluarga.
Dari pagi hingga sore, ia menjaga kios, melayani pembeli dari mancanegara. Sore hari ia bergegas ke balai banjar untuk ngayah (kerja bakti sosial dan keagamaan), sebelum malam kembali ke peran domestiknya, menjadi istri sekaligus ibu.
Rangkaian aktivitas tanpa henti ini bukan sekadar kesibukan, melainkan cerminan tiga peran utama yang lekat dalam kehidupan perempuan—domestik, produktif, dan sosial.
Di Bali, peran ini masih ditambah lagi dengan peran spiritual. Perempuanlah yang menjadi penjaga utama sesajen harian di pasar dan upacara adat yang berlangsung hampir setiap pekan.
Ketangguhan perempuan dalam menjalankan semua peran itu berakar dari filosofi Tri Hita Karana: harmoni dengan Parahyangan (Tuhan), Pawongan (sesama), dan Palemahan (alam).

Sayangnya, meskipun secara budaya perempuan dianggap membawa śakti, peran nyata perempuan belum sepenuhnya diakui secara sosial dan politik, termasuk dalam dunia pariwisata Bali yang masyhur itu.
Sakti dalam diri perempuan
Dalam tradisi Hindu Bali, perempuan dipercaya membawa Sakti, yakni energi feminin kosmik yang memberi kehidupan.
Tanpa Sakti, aspek maskulin (Purusa) tidak akan ada.
Bersama Pradana (aspek materi), Śakti menjaga keseimbangan alam semesta.
Ada dua metafora dalam tradisi Hindu yang sering digunakan untuk menjelaskan peran Śakti.
Pertama, kebangkitan (jāgrat karṇā)—yakni membangkitkan kehadiran ilahi dalam arca dewa atau tubuh manusia.
Di Bali, perempuan melakukannya setiap hari dengan menyiapkan banten atau sesajen, menyalakan dupa, hingga memimpin ritual kecil di rumah maupun pasar yang “membangkitkan” energi spiritual.
Kedua, suhu atau panas tubuh. Śakti sering dipahami sebagai suhu yang meningkat seperti panas: semakin besar Śakti, semakin hangat “suhu” ruang atau komunitas itu.
Lewat kerja domestik, ekonomi, dan ritual, perempuan Bali menjaga “suhu spiritual” komunitas tetap hangat. Hal inilah yang dirasakan wisatawan sebagai aura khas Bali: harmoni, ketulusan, dan daya hidup.

Perempuan juga bekerja untuk meredam konflik rumah tangga. Dalam keluarga besar yang tinggal satu pekarangan atau rumah, gesekan rentan terjadi.
Bekerja pada akhirnya menjadi strategi sosial pagi perempuan untuk “lepas” dari potensi konflik domestik.
Kios pasar biasanya menjadi ruang aman bagi perempuan, baik sebagai tempat mencari nafkah sekaligus menjaga keharmonisan keluarga serta kewarasan di tengah tekanan ekonomi dan sosial.

Asal-usul, tradisi, cara hidup, cara menjaga alam, hingga merawat sesama. Semuanya berakar dari pengetahuan lokal. Ada yang sebatas mitos dan tinggal cerita, ada juga yang masih hidup dan relevan, bahkan menjawab masalah terkini.
Simak ‘Semburat Warna Adat’, menggali pengetahuan lokal berdasar riset dan pandangan para pakar.
Pilar pariwisata yang tak dilihat
Perempuan Bali banyak yang aktif bekerja di hotel, restoran, biro perjalanan, hingga kios kerajinan tangan khas Bali. Di balik layar, mereka tetap memikul tanggung jawab domestik dan ritual adat.
Mereka bukan hanya pelaku ekonomi kreatif, tetapi juga penopang tak terlihat yang menjaga keseimbangan.
Sayangnya, peran perempuan dalam menjaga harmoni ini jarang dianggap sebagai kontribusi dalam keberlanjutan pariwisata. Hal yang kerap ditonjolkan justru kemolekan tubuh perempuan. Sementara peran nyata mereka dalam menjaga budaya sering terabaikan.
Padahal, tanpa kerja-kerja para perempuan Bali, lanskap budaya yang menjadi daya tarik utama Bali akan rapuh.
Sejatinya, daya tarik Bali bukan hanya pantai, pura, atau wajah eksotis di brosur, melainkan Sakti yang menghidupkan pasar, keluarga, banjar, dan ritual.
Membalik narasi pariwisata
Banyak studi menekankan pentingnya “inklusi perempuan” dalam ekonomi kreatif. Namun, inklusi sering berhenti pada keterlibatan formal tanpa benar-benar mengubah struktur kekuasaan.
Inklusi saja tidak cukup. Hal yang dibutuhkan adalah pariwisata regeneratif—pariwisata yang bukan hanya melibatkan perempuan, tetapi juga memulihkan energi sosial, budaya, spiritual, dan ekologis yang mereka curahkan setiap hari.
Ketersediaan fasilitas pendukung seperti tempat penitipan anak di sentra-sentra ekonomi kreatif akan meringankan beban ganda (multiple burdens) mereka.
Narasi promosi pariwisata pun harus diubah: bukan lagi ‘menjual’ tubuh perempuan, tetapi menampilkan mereka sebagai pengusaha andal dan agen budaya.
Dan yang tak kalah penting, perencanaan pariwisata harus melibatkan suara perempuan secara bermakna, agar kebijakan yang lahir benar-benar berpihak, sesuai dengan realitas mereka.
Mengakui Śakti
Pariwisata Bali sering dipuji karena adat, budaya dan spiritualitasnya. Namun, akar itu hanya bisa tetap hidup bila kita mengakui Sakti, energi feminin yang bekerja dalam diam di balik pasar, dapur, banjar, dan pura.

Tanpa pengakuan ini, semua pujian tinggal slogan kosong.
Perempuan Bali adalah jantung yang memompa energi regeneratif sekaligus penjaga keseimbangan Purusa–Pradana–Sakti, yang memastikan filosofi Tri Hita Karana tetap hidup.
Mengakui dan memberdayakan Śakti berarti menjaga daya hidup yang membuat Bali istimewa.
Lebih dari sekadar isu kesetaraan gender, ini adalah syarat agar pariwisata Bali tidak menjadi mesin penguras energi sosial dan spiritual masyarakatnya, melainkan sumber kekuatan yang memulihkan dan mewariskan harmoni bagi generasi mendatang.




Comments are closed.