Sejumlah aktivis lingkungan yang tergabung dalam Jaringan Gen Z Tolak Plastik Sekali Pakai (JEJAK), Aliansi Komunitas Penyelamat Sungai (AKAMSI), River Warriors, dan Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton) menggelar aksi kampanye dan edukasi lingkungan di Kali Tebu, Surabaya, Rabu, 24 Juni 2026.
Melalui aksi bertajuk “Sampah Plastikmu Racuni Iwak Kali Tebu”, mereka mengingatkan masyarakat bahwa pencemaran plastik tidak hanya merusak sungai secara kasat mata. Tapi juga mengancam kehidupan ikan melalui kontaminasi mikroplastik.
Aksi ini digelar setelah lebih dari 27 ton sampah berhasil diangkat dari Kali Tebu dalam operasi pembersihan yang berlangsung sepanjang Mei hingga Juni 2026. Sebanyak 11,5 ton sampah diangkat oleh Tim MOZAIK bentukan Ecoton. Sedangkan 16 ton lainnya diangkut melalui operasi gabungan yang melibatkan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surabaya, petugas kebersihan Kecamatan Kenjeran, dan Tim MOZAIK.
Dalam aksinya, Jofanny Ahmad, anggota AKAMSI, menyerukan kepada warga Surabaya agar tidak membuang sampah ke Kali Tebu. Menurutnya, hilangnya berbagai jenis ikan di Kali Tebu tidak terlepas dari pencemaran sampah plastik yang terus masuk ke sungai.
“Kami minta kepada bapak dan ibu yang melintas di jalan ini, sampaikan pesan kami kepada saudara-saudara di rumah, melalui rumah ibadah, sekolah, dan lingkungan sekitar. Jangan lagi membuang sampah ke sungai karena dampaknya bukan hanya kita rasakan hari ini, tetapi juga akan dirasakan oleh anak cucu kita nanti,” kata Jofanny dari atas Jembatan Kali Dinding.
Jofanny juga mengatakan banyak anak-anak dan generasi muda saat ini tidak lagi mengenal habitat sungai maupun berbagai jenis ikan yang dahulu hidup di dalamnya karena populasinya terus menurun. Dulu, kata dia, sungai menjadi ruang hidup bagi banyak jenis ikan yang dekat dengan kehidupan warga.
“Hari ini banyak anak yang bahkan tidak pernah melihat langsung ikan wader, bader, atau gabus di sungai tempat mereka tinggal. Jika kita terus membiarkan sampah plastik mencemari sungai, bukan tidak mungkin generasi mendatang hanya mengenal ikan-ikan itu dari cerita orang tua dan buku pelajaran,” ujarnya.
Aksi itu dilakukan secara teatrikal dengan tiga orang peserta membungkus tubuh mereka menggunakan plastik dan mengenakan topeng ikan sebagai simbol ikan-ikan yang mati akibat pencemaran plastik.
Meski jumlah sampah yang berhasil diangkat sangat besar, para aktivis menilai persoalan sungai belum selesai.
Ancaman yang lebih berbahaya justru berasal dari mikroplastik, partikel plastik berukuran sangat kecil yang terbentuk dari pecahan sampah plastik dan sulit terdeteksi.Kali Tebu yang berada di kawasan pesisir utara Surabaya menyimpan sejarah panjang sebagai bagian dari sistem Sungai Surabaya.
Berbagai penelitian mengenai keanekaragaman hayati sungai serta kesaksian warga menunjukkan bahwa kawasan ini dahulu menjadi habitat beragam ikan lokal. Ada ikan gabus (Channa striata), wader (Rasbora argyrotaenia), bader putih (Barbonymus gonionotus), bader merah (Barbonymus balleroides), dan keting (Hemibagrus planiceps). Selain itu, Kali Tebu juga tempat hidup ikan rengkik (Hemibagrus nemurus), sili (Macrognathus aculeatus), belida jawa (Notopterus notopterus), bloso (Oxyeleotris marmorata), dan jendil (Pseudolais micronemus).
Kedekatan Kali Tebu dengan kawasan tambak dan pesisir Kenjeran juga memungkinkan keberadaan ikan perairan payau seperti bandeng, mujair, dan belanak. Namun tekanan akibat urbanisasi, limbah domestik, sedimentasi, serta masuknya sampah plastik dalam jumlah besar menyebabkan kualitas habitat sungai terus menurun.
Peneliti lingkungan Ecoton, Alaika Rahmatullah, mengatakan mikroplastik telah menjadi ancaman serius bagi ekosistem sungai perkotaan. “Mikroplastik tidak hanya mencemari air dan sedimen, tetapi juga masuk ke tubuh ikan melalui makanan yang mereka konsumsi. Dalam jangka panjang kondisi ini dapat mengganggu kesehatan organisme perairan dan menurunkan kualitas ekosistem sungai,” ujar Alaika.
Menurutnya, hilangnya berbagai spesies ikan lokal dari sungai perkotaan tidak disebabkan oleh satu faktor tunggal, melainkan akumulasi berbagai tekanan lingkungan yang berlangsung selama bertahun-tahun.
Alaika juga menyampaikan banyak warga yang tinggal di sekitar bantaran Kali Tebu sejak era 1970-an masih mengingat masa ketika sungai menjadi ruang bermain sekaligus sumber pangan bagi masyarakat. Dulu banyak ikan wader, bader, sama gabus.
“Anak-anak sering mandi di sungai dan mencari ikan pakai jaring kecil. Sekarang airnya keruh dan lebih sering terlihat sampah daripada ikan,” kata Alaika mengutip cerita warga yang ditemuinya.
Hal senada disampaikan Amiruddin Muttaqqin, Manager Program MOZAIK. Berdasarkan berbagai pertemuan dengan warga di kawasan Sidotopo Wetan, Tambak Wedi, dan Kenjeran, sungai dahulu memiliki fungsi penting sebagai sumber ikan konsumsi sekaligus ruang interaksi sosial masyarakat kampung.
Ia menyatakan pemulihan Kali Tebu tidak cukup hanya dengan mengangkat sampah dari permukaan. “Restorasi sungai perlu dilakukan secara menyeluruh melalui pengurangan sampah dari sumbernya, peningkatan pengelolaan limbah domestik, pengawasan pencemaran industri, rehabilitasi habitat perairan, serta edukasi masyarakat mengenai bahaya plastik sekali pakai,” kata Amiruddin.
Menurutnya, keberhasilan memulihkan sungai bukan hanya penting bagi kelestarian ikan dan organisme perairan lainnya, tetapi juga bagi kesehatan masyarakat. Sungai yang sehat berfungsi sebagai penyangga ekosistem, pengendali banjir, penyimpan keanekaragaman hayati, serta bagian penting dari sejarah dan budaya kota.
Menurut dia Kali Tebu adalah cermin hubungan manusia dengan lingkungannya. Ketika sampah dan pencemaran dibiarkan masuk setiap hari, kerusakan akan terakumulasi selama bertahun-tahun.
“Karena itu, pemulihan sungai membutuhkan komitmen bersama dan kerja jangka panjang dari seluruh pihak, mulai dari warga, komunitas lingkungan, akademisi, pelaku usaha, hingga pemerintah,” ujar Amiruddin.
Melalui momentum aksi ini, JEJAK, AKAMSI, River Warriors, dan Ecoton mengajak masyarakat untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, memilah sampah dari rumah, serta menghentikan kebiasaan membuang sampah ke sungai. Setiap plastik yang dibuang sembarangan berpotensi terurai menjadi mikroplastik yang mencemari perairan dan masuk ke rantai makanan.
Dulu, kata dia, Kali Tebu menjadi rumah bagi berbagai jenis ikan lokal yang akrab dengan kehidupan warga. Hari ini, katanya, kita menghadapi kenyataan bahwa sebagian jejak kehidupan itu semakin sulit ditemukan.
“Sungai yang bersih bukan hanya soal air yang mengalir, tetapi tentang menjaga warisan ekologis yang hidup di dalamnya. Jika pencemaran terus berlangsung, generasi mendatang mungkin hanya mengenal gabus, wader, bader, dan belida dari cerita orang tua mereka,” tutur Amiruddin.





Comments are closed.