30 Juni 2026, di Estadio Monterrey Guadalupe, León Baru, Meksiko, gemuruh ribuan penonton pecah memenuhi stadion. Sorak kemenangan bersahutan, bendera-bendera merah berkibar di antara lautan manusia yang larut dalam sukacita. Di tengah euforia yang mestinya memabukkan siapa pun, Ismael Saibari Ben El Basra justru berlari ke arah tribun. Bukan mengejar sorotan kamera. Ia mencari satu sosok yang sejak awal perjalanan selalu berdiri di belakangnya: sang ibu.
Sesaat sebelumnya, Ismael menjadi salah satu penendang yang membawa Maroko menyingkirkan Belanda melalui drama adu penalti dan memastikan langkah ke babak 16 besar Piala Dunia. Di atas lapangan hijau, keberanian dan ketenangannya menuai pujian. Namun, kemenangan itu terasa belum lengkap sebelum pelukan seorang ibu menyempurnakannya. Di tribun, air mata haru mengalir dari wajah perempuan yang selama ini mengiringi langkah putranya dengan doa, dukungan, dan kasih sayang yang tak pernah putus itu.
Achraf Hakimi, Ronaldo dan Ibu Mereka
Pemandangan serupa bukan barang baru dalam dunia sepak bola. Piala Dunia 2022, misalnya, menyuguhkan begitu banyak potret yang mengingatkan bahwa kasih seorang ibu yang tak pernah absen dari perjalanan seorang anak.
Salah satu yang paling membekas adalah Achraf Hakimi. Bek Paris Saint-Germain sekaligus andalan Timnas Maroko itu berkali-kali tertangkap kamera memeluk ibunya seusai pertandingan. Setiap kemenangan Maroko seolah selalu diakhiri dengan ritual sederhana: pelukan hangat dan kecupan di kening sang ibu. Di tengah gemerlap sepak bola modern yang dipenuhi angka, statistik, dan huru-hara, momen itu justru menjadi gambar paling mahal yang tersimpan dalam ingatan banyak orang.
Saya hanya bertanya satu hal waktu itu, mengapa orang Maroko sangat mencintai ibu mereka?Melihat contoh dari Ismael Saibari dan Achraf Hakimi.
Jika Achraf Hakimi dikenal karena pelukannya, Cristiano Ronaldo memiliki caranya sendiri dalam menunjukkan bakti kepada ibunya. Siapa yang tak mengenal pesepak bola paling populer di muka bumi itu? Di balik ketangkasan, disiplin, dan ambisinya mengejar kesempurnaan, Ronaldo tetaplah seorang anak yang begitu mencintai Maria Dolores dos Santos Aveiro ibunya itu.
Sebagai pemain yang menaklukkan berbagai kompetisi Eropa, Ronaldo tidak pernah melupakan perempuan yang membesarkannya dalam keterbatasan. Berulang kali ia menghadiri malam penghargaan bersama sang ibu. Hampir setiap pencapaian besar dalam kariernya dipersembahkan kepada perempuan yang telah merawat, menjaga, dan percaya kepadanya jauh sebelum dunia mengenal nama Cristiano Ronaldo.
Kata-kata Ronaldinho Perihal Ibu
Barangkali, kisah-kisah semacam itu mengingatkan pada perkataan Ronaldinho, legenda Brasil yang pernah menghiasi lapangan bersama Barcelona dan AC Milan. “Keluarga adalah segalanya. Pendidikan yang saya miliki adalah berkat mereka,” Dalam kesempatan lain, ketika ditanya mengenai makanan terenak yang pernah ia santap, Ronaldinho menjawab dengan sederhana, “Tiada masakan yang enak kecuali masakan ibu.”
Mengapa Anak Lelaki Cenderung Mencintai Ibunya
Apa yang ditunjukkan para pesepak bola itu rupanya bukan sekadar luapan emosi sesaat. Ada penjelasan yang lebih dekat dengan dunia ilmu pengetahuan. Dalam tesis yang berjudul Dinamika Kedekatan Hubungan Orangtua-Anak: Perbedaan Kedekatan Ayah-Ibu dengan Anak Laki-Laki dan Anak Perempuan Tahap Remaja Akhir pada Keluarga Jawa, Agustin Erna Fatmasari menemukan bahwa kedekatan dengan ayah lebih banyak dirasakan oleh anak perempuan, yakni 67,05 persen, dibandingkan anak laki-laki sebesar 61,59 persen.
Sebaliknya, kedekatan dengan ibu lebih banyak dirasakan oleh anak laki-laki, mencapai 88,1 persen, sementara pada anak perempuan sebesar 85,25 persen. Penelitian itu juga menunjukkan bahwa kedekatan dengan ayah lahir karena sosoknya dipandang memahami, menyayangi, dan membimbing. Adapun kedekatan dengan ibu tumbuh karena ia memahami, menyayangi, sekaligus menemani.
Angka-angka itu mungkin hanya terlihat statistik. Namun, di lapangan hijau, ia menjelma menjadi pelukan Hakimi, persembahan Ronaldo, air mata ibu Ismael Saibari, dan mungkin juga ribuan kisah lain yang tak pernah tertangkap kamera. Sepak bola, yang selama ini identik dengan rivalitas, fanatik buta dan mungkin saja sebagian orang terganggu dengan judi besar-besaran, ternyata menyimpan ruang paling hangat bernama keluarga.
Walhasil, momen-momen sederhana itu menjadi pengingat bagi siapa saja, pun bagi saya. Setinggi apa pun pencapaian seorang anak, seberapa gemerlap sorotan dunia yang menghampirinya, jangan pernah lupa kepada orang tua yang diam-diam menjadi alasan banyak langkah terasa lebih ringan dan banyak pintu kehidupan terbuka tanpa kita sadari.
Seperti ungkapan yang kerap dikutip di berbagai belahan dunia, “A mother is a son’s first true love, and a son is a mother’s last true love.” Seorang ibu adalah cinta sejati pertama bagi anak laki-lakinya, dan seorang anak laki-laki adalah cinta sejati terakhir bagi ibunya. Di antara gemuruh stadion, riuh kemenangan, dan sorak para penonton, barangkali memeluk ibu adalah kemenangan yang sesungguhnya.





Comments are closed.