KABARBURSA.COM — Ketegangan geopolitik kembali mengerek harga emas dunia. Logam mulia itu melonjak mendekati USD4.700 per troi ons karena dipicu kekhawatiran perang dagang antara Amerika Serikat dan Eropa yang kembali memanas. Pasar global merespons cepat. Ketika ketidakpastian membesar, emas kembali dicari sebagai tempat berlindung.
Pada perdagangan Senin, 19 Januari 2026, harga emas di pasar spot tercatat naik sekitar 2 persen dan sempat menyentuh level tertinggi sepanjang sejarah di kisaran USD4.690,6 per ons. Setelah itu, harga sedikit melandai dan bertahan di area USD4.659 per ons, namun tetap berada jauh di atas level sebelumnya.
Lonjakan harga emas ini tidak berdiri sendiri. Pasar bereaksi terhadap pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mengancam akan menaikkan tarif terhadap delapan negara Eropa. Ancaman itu disertai syarat yang tak lazim—Amerika Serikat harus diberi izin untuk membeli Greenland. Kombinasi isu perdagangan dan geopolitik tersebut langsung memicu kekhawatiran baru di pasar keuangan global.
Dalam situasi seperti ini, emas hampir selalu mengambil peran utama. Investor global cenderung mengalihkan dana ke aset yang dianggap paling aman ketika risiko politik dan ekonomi meningkat. Alhasil, reli emas kali ini lebih banyak dibaca sebagai cerminan kegelisahan pasar ketimbang sekadar pergerakan teknikal jangka pendek.
Dampaknya mulai merembet ke pasar domestik. Analis Stockbit Sekuritas, Theodorus Melvin, menilai kenaikan harga emas berpotensi memberi sentimen positif, setidaknya dalam jangka pendek, bagi emiten-emiten tambang emas di Indonesia.
“Kenaikan harga emas berpotensi memberikan sentimen positif jangka pendek bagi emiten di sektor emas,” ujar Theodorus dalam analisanya, seperti dilihat di platform Stockbit, Selasa, 20 Januari 2026.
Menurut dia, reli emas berpeluang mendorong harga jual rata-rata atau average selling price/ASP dan meningkatkan minat transaksi pada saham-saham tambang emas. Beberapa emiten yang berpotensi ikut terdampak sentimen tersebut antara lain BRMS, ARCI, EMAS, MDKA, PSAB, ANTM, dan HRTA.
Meski demikian, pasar belum sepenuhnya euforia. Kenaikan harga emas masih sangat bergantung pada perkembangan geopolitik global. Selama tensi antara Amerika Serikat dan Eropa belum mereda, emas berpotensi tetap berada di level tinggi. Namun, setiap sinyal de-eskalasi juga bisa memicu koreksi harga dalam waktu singkat.
Sementara itu, riset JP Morgan juga memproyeksikan logam mulia akan memasuki fase reli pada tahun ini. Perusahaan jasa keuangan multinasional ini optimistis terhadap emas karena ditopang oleh pembelian agresif bank sentral dan permintaan investor yang dinilai masih solid.
Harga emas diperkirakan melonjak hingga USD5.000 per troi ounce pada kuartal IV 2026 dengan rata-rata harga tahunan sekitar USD4.753 per ons. Tren penguatan juga diproyeksikan merembet ke perak dan platinum.
“Harga perak diperkirakan naik mendekati USD58 per ons pada kuartal keempat, dengan rata-rata tahunan sekitar USD56 per ons, sementara platinum berpotensi tetap diperdagangkan lebih tinggi dalam waktu lebih lama sebelum proses penyeimbangan pasokan kembali berjalan,” kata Kepala Strategi Logam Dasar dan Mulia JP Morgan, Gregory Shearer, dikutip dari laman perusahaan tersebut, Selasa, 20 Januari 2026.
Reli logam mulia ini mencerminkan meningkatnya minat investor terhadap aset lindung nilai, terutama di tengah ketidakpastian global dan perubahan lanskap kebijakan moneter.(*)
Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.





Comments are closed.