Bincangperempuan.com- Selama ini menstruasi hampir selalu dibicarakan sebagai pengalaman yang identik dengan perempuan. Di sekolah, dalam kampanye kesehatan, bahkan dalam percakapan sehari-hari, istilah yang digunakan biasanya “perempuan yang menstruasi.” Padahal, jika membicarakan menstruasi, penyebutan yang hanya tertuju kepada perempuan sebenarnya masih belum inklusif.
Karena tidak semua perempuan mengalami menstruasi. Perempuan yang telah memasuki masa menopause, yang mengalami kondisi medis tertentu, atau yang telah menjalani prosedur seperti histerektomi tentu tidak lagi mengalaminya.
Dan ada juga orang yang mengalami menstruasi tetapi tidak mengidentifikasi dirinya sebagai perempuan. Misalnya laki-laki trans atau sebagian individu non biner. Mereka tetap mengalami proses biologis menstruasi, tetapi sering kali tidak merasa menjadi bagian dari percakapan yang selalu menyebut menstruasi sebagai pengalaman perempuan saja.
Baca juga: Apa Benar Kalau Menstruasi Bikin Perempuan Jadi Seperti Laki-laki?
Mengapa Kita Memerlukan Istilah Menstruator?
Oleh karena itu, istilah menstruator mulai digunakan dalam berbagai diskusi kesehatan reproduksi dan kajian gender. Istilah ini merujuk pada siapa pun yang mengalami menstruasi, tanpa langsung mengaitkannya dengan identitas gender tertentu. Tujuannya bukanlah untuk menggantikan kata perempuan, tetapi untuk menyebut secara lebih tepat siapa yang benar-benar mengalami proses biologis tersebut.
Program edukasi menstruasi, distribusi produk kebersihan menstruasi, hingga layanan kesehatan reproduksi pada dasarnya ditujukan kepada orang yang benar-benar mengalami menstruasi. Namun, jika penyebutan yang digunakan terlalu sempit, ada kemungkinan sebagian kelompok justru tidak merasa bahwa informasi tersebut ditujukan kepada mereka.
Pengalaman menstruasi pada individu LGBTQIA+ di Indonesia menunjukkan bahwa isu ini memang tidak sesederhana yang sering dibayangkan. Sebuah liputan dari The Jakarta Post menyoroti bagaimana sebagian individu trans dan nonbiner tetap mengalami menstruasi, tetapi sering kali berada dalam posisi yang serba tidak nyaman. Di satu sisi, mereka menghadapi nyeri menstruasi seperti menstruator pada umumnya.
Di sisi lain, pengalaman tersebut dapat memicu tekanan emosional karena tubuh mereka masih mengalami proses biologis yang tidak selalu selaras dengan identitas gender yang mereka miliki.
Beberapa narasumber dalam liputan tersebut juga menceritakan bagaimana menstruasi dapat memunculkan rasa cemas, disforia, atau perasaan tidak nyaman terhadap tubuh sendiri. Hal-hal yang bagi sebagian orang mungkin dianggap sebagai pengalaman biologis biasa, bagi mereka justru bisa menjadi pengalaman yang lebih kompleks secara emosional. Situasi ini juga diperparah oleh kurangnya ruang yang aman untuk membicarakan pengalaman tersebut, baik di lingkungan sosial maupun dalam layanan kesehatan.
Selain itu, akses terhadap produk menstruasi juga tidak selalu mudah. Sebagian individu trans atau non biner merasa canggung atau tidak aman ketika harus membeli pembalut atau produk menstruasi lain, terutama karena produk-produk tersebut hampir selalu dipasarkan secara eksklusif sebagai “produk perempuan”.
Oleh karena itu penggunaan istilah menstruator mulai dianggap relevan oleh sebagian kalangan. Istilah ini mencoba membuka ruang yang lebih luas untuk membicarakan menstruasi sebagai pengalaman biologis yang dapat dialami oleh beragam orang, tanpa langsung mengaitkannya dengan satu identitas gender tertentu.
Perdebatan di Balik Istilah Menstruator
Meski begitu, penggunaan istilah menstruator tidak sepenuhnya diterima tanpa kritik. Sebagian kalangan menilai bahwa mengganti frasa perempuan yang menstruasi dengan istilah menstruator justru berisiko mereduksi perempuan hanya pada fungsi biologis tubuhnya.
Bagi mereka, penyebutan seperti “menstruating persons” atau “menstruator” terdengar terlalu teknis dan kurang natural dalam percakapan sehari-hari. Ada pula yang merasa istilah tersebut terasa janggal, bahkan tidak sopan, karena seolah-olah menggantikan identitas perempuan dengan istilah yang sulit.
Kritik lain juga muncul dari kekhawatiran bahwa penggunaan istilah tersebut dapat membuat kata perempuan semakin dihindari dalam beberapa konteks. Pada akhirnya perubahan bahasa ini merupakan bagian dari dinamika sosial yang masih diperdebatkan, sehingga tidak semua pihak merasa perlu mengadopsinya.
Baca juga: Sampah Menstruasi: Darurat yang Tak Pernah Jadi Prioritas
Kembali pada Pilihan dan Konteks
Meskipun demikian, penggunaan istilah menstruator sangat bergantung pada konteks. Dalam pembicaraan tentang identitas sosial atau pengalaman perempuan, tentu saja kata perempuan tetap penting dan tidak bisa begitu saja digantikan.
Namun ketika pembahasan berfokus pada proses biologis menstruasi atau kebijakan kesehatan reproduksi, istilah yang lebih spesifik seperti menstruator dapat membantu menjelaskan siapa yang benar-benar menjadi subjek pembahasan.
Perbedaan pandangan mengenai istilah ini menunjukkan bahwa diskusi tentang bahasa dan identitas masih terus berkembang. Ada yang merasa istilah menstruator membantu membuat percakapan lebih inklusif dan akurat. Ada pula yang merasa istilah tersebut tidak perlu digunakan karena istilah yang ada sudah dianggap cukup.
Pada akhirnya, pilihan istilah kembali pada cara masing-masing orang memandang hubungan antara bahasa, tubuh, dan identitas. Yang terpenting mungkin bukan sekadar kata apa yang digunakan, tetapi bagaimana percakapan tentang menstruasi dapat tetap membuka ruang bagi berbagai pengalaman yang selama ini jarang terdengar.
Referensi:
- Perfect Fit. (2023). Breaking barriers: Insights into the journey of queer menstruators in Indonesia. https://perfectfit.co.id/blogs/moon-journals/breaking-barriers-insights-into-the-journey-of-queer-menstruators-in-indonesia
- The Jakarta Post. (2023). Trans and non-binary individuals talk the pain of periods. https://www.thejakartapost.com/paper/2023/05/23/trans-and-non-binary-individuals-talk-the-pain-of-periods.html
- Coyne, J. A. (2025). Women called “menstruators” in universities. https://whyevolutionistrue.com/2025/10/08/women-called-menstruators-in-universities/





Comments are closed.