Mubadalah.id – Seorang teman merasa sedih karena masa Syawal ini rumahnya sepi alias tidak ada teman-temannya yang mertamu. Teman saya ini mengaku, semenjak tidak aktif dan tidak punya jabatan lagi di organisasi, orang-orang tidak lalu berkunjung ke rumahnya, lebih-lebih di waktu Syawal. Padahal ia menanti-nantikan kedatangan orang-orang yang dulu suka silaturahmi lebaran ke rumahnya waktu ia masih punya jabatan atau kedudukan.
Di lain sisi, belakangan ini, ruang media sosial saya terpenuhi oleh status teman-teman, baik secara individu maupun organisasi, yang melakukan silaturahmi ke orang-orang berpengaruh. Tentu saja hal ini tidak salah. Sebab, Lebaran selalu identik dengan silaturahmi, yakni tradisi luhur yang menghubungkan kembali relasi antar manusia setelah sebulan menahan godaan syaitan.
Dalam Islam, silaturahmi juga bermanfaat sebagai ladang memperluas rezeki, memperpanjang umur, hingga menghapus dosa. Masyarakat desa, baik warga kelas atas, menengah, maupun ke bawah, akan senatiasa membuka pintu-pintu rumah, menyediakan hidangan semampunya, dan bersiap menyambut jika ada tamu, entah teman, saudara, atau kolega, yang datang.
Namun, di balik kehangatan itu, ada fenomena sosial yang cukup mencolok yakni kecenderungan sebagian orang, baik individu maupun kelompok organisasi, untuk lebih memilih bersilaturahmi ke mereka yang memiliki jabatan, kekuasaan, kekayaan, atau status sosial tinggi. Sementara itu, masyarakat kecil yang tidak memiliki “daya tarik sosial” justru sering luput dari kunjungan.
Cerminan Dinamika Sosial
Fenomena ini bukan sekadar kebetulan, melainkan cerminan dari dinamika sosial yang lebih dalam. Dalam praktiknya, silaturahmi lebaran yang seharusnya berlandaskan nilai kesetaraan dan ketulusan, sering kali bergeser menjadi ajang membangun jaringan strategis. Kunjungan ke tokoh berpengaruh dianggap sebagai investasi sosial. Baik untuk memperluas relasi, meningkatkan peluang ekonomi, maupun memperkuat posisi dalam struktur sosial.
Salah satu alasan utama di balik perilaku ini adalah dorongan utilitarian, yaitu kecenderungan manusia untuk bertindak berdasarkan manfaat yang bisa kita peroleh. Masyarakat akan cenderung mendekati tokoh-tokoh yang dipercaya dapat memberinya manfaat yang ia inginkan.
Maka, kita tak perlu kaget ketika banyak di antara kita lebih hobi sowan ke tokoh-tokoh penting, baik skala lokal, regional, maupun nasional. Silaturahmi kepada orang yang memiliki kekuasaan atau modal dianggap lebih “menguntungkan” karena membuka peluang akses terhadap sumber daya. Entah sumber daya berupa informasi, bantuan, maupun kesempatan kerja. Dalam konteks ini, relasi sosial tidak lagi semata-mata soal kedekatan emosional, tetapi juga kalkulasi rasional.
Modal Sosial
Fenomena ini dapat saya jelaskan melalui teori “modal sosial” (social capital) yang dikembangkan oleh sosiolog Barat. Modal sosial merujuk pada nilai yang terkandung dalam jaringan hubungan sosial seseorang. James Coleman, misalnya, seorang sosiolog Amerika menilai orang yang memiliki relasi dengan individu berstatus tinggi akan dianggap memiliki modal sosial yang lebih kuat.
Sebab itu, mendekati orang-orang berpengaruh menjadi strategi untuk meningkatkan posisi sosial seseorang. Momentum silaturahmi syawal, dalam hal ini, berfungsi sebagai alat untuk membangun dan memelihara modal sosial tersebut.
Selain itu, ada pula konsep “habitus” yang tercetuskan oleh sosiolog Prancis Pierre Bourdieu, yang menjelaskan bagaimana pola pikir dan perilaku seseorang terbentuk oleh lingkungan sosialnya. Individu yang terbiasa hidup dalam lingkungan yang kompetitif dan berorientasi pada status cenderung menginternalisasi nilai-nilai tersebut. Akibatnya, mereka secara tidak sadar lebih tertarik untuk berinteraksi dengan orang-orang yang dianggap “setara” atau “lebih tinggi” secara sosial. Dalam konteks Lebaran, ini tercermin dalam pilihan rumah mana yang dikunjungi dan mana yang terabaikan.
Di sisi lain, masyarakat yang kurang beruntung sering kali tidak menjadi prioritas dalam agenda silaturahmi. Hal ini bisa penyebabnya karena beberapa faktor. Adanya stigma sosial yang membuat sebagian orang merasa tidak mendapatkan “nilai tambah” dari mengunjungi mereka. Itu yang pertama.
Realita ini dapat kita temukan dari status media sosial teman-teman kita. Apakah kita pernah melihat seseorang pasang status sedang silaturahmi ke orang miskin, fakir, atau orang biasa yang tak punya kedudukan apa apa? Jika pun ada, tentu saja jumlahnya tidak banyak. Seseorang akan lebih suka menyambangi orang-orang yang bisa memberinya manfaat, baik finansial maupun sosial.
Kedua, keterbatasan waktu dan energi membuat orang cenderung memilih kunjungan yang dianggap paling “berdampak.” Ketiga, ada juga faktor ketidaknyamanan. Beberapa orang mungkin merasa canggung atau tidak tahu bagaimana berinteraksi dengan mereka yang berbeda secara ekonomi dan secara sosial.
Kacamata Pertukaran Sosial
Fenomena ini juga dapat kita lihat melalui kacamata teori pertukaran sosial (social exchange theory), yang menyatakan bahwa hubungan sosial berdasarkan pada pertimbangan untung-rugi. Jika suatu hubungan dianggap tidak memberikan imbal balik yang sepadan, maka kecenderungannya adalah menghindari atau meminimalkan interaksi tersebut. Dalam konteks ini, silaturahmi ke masyarakat kecil seringkali kita persepsikan—secara keliru—sebagai hubungan yang “tidak produktif.”
Namun, cara pandang seperti ini tentu bertentangan dengan esensi silaturahmi itu sendiri. Dalam banyak nilai budaya dan ajaran moral, silaturahmi justru dianjurkan untuk menjangkau mereka yang terpinggirkan, yang jarang dikunjungi, yang tertindas, atau yang membutuhkan perhatian lebih. Mengunjungi mereka bukan hanya soal menjaga hubungan, tetapi juga bentuk empati dan solidaritas sosial.
Soal ini, Gus Dur patut kita jadikan teladan. Ia tidak membatasi pergaulan hanya dengan para penguasa, melainkan akrab dengan tukang becak, pedagang kaki lima, hingga masyarakat kecil di pelosok desa. Baginya, setiap orang memiliki nilai yang sama. Contohnya, Gus Dur kerap mampir ke warung sederhana untuk berbincang santai, atau mengunjungi pesantren kecil tanpa protokoler resmi.
Tokoh bangsa seperti Gus Dur melawat ke masyarakat kelas bawah tidak hanya waktu menjelang pemilu doang, tapi setiap ada kesempatan. Kebiasaan Gus Dur ini merefleksikan kepedulian, mempererat hubungan sosial, serta menunjukkan bahwa kepemimpinan sejati lahir dari kedekatan dengan rakyat tanpa memandang status sosial maupun jabatan formal.
Teladan Silaturahmi Nabi kepada Kaum Biasa
Kita juga perlu belajar dari Nabi Muhammad Saw. Sang manusia paling sempurna di jagat raya dikenal gemar bersilaturahmi kepada siapa saja, terutama orang-orang sederhana tanpa jabatan. Beliau tidak membedakan posisi sosial dalam menjalin hubungan. Salah satu contohnya adalah kebiasaan beliau mengunjungi orang sakit dari kalangan miskin, bahkan seorang wanita tua yang biasa membersihkan masjid. Ummu Mahjan, namanya.
Ketika wanita itu wafat, Nabi menanyakan keberadaannya dan mendatangi kuburnya. Kisah lain, beliau kerap duduk dan makan bersama sahabat yang hidup sederhana tanpa rasa canggung. Teladan ini mengajarkan bahwa silaturahmi sejati dibangun atas ketulusan, bukan kepentingan, kedudukan, apalagi minta-minta jabatan.
Jika fenomena ini terus kita biarkan, ada kekhawatiran munculnya kesenjangan sosial yang semakin lebar, tidak hanya secara ekonomi tetapi juga secara emosional dan relasional. Masyarakat kecil bisa merasa semakin terasing, sementara kelompok elit semakin terisolasi dalam lingkaran mereka sendiri. Pada akhirnya, ini dapat melemahkan kohesi sosial yang menjadi fondasi kehidupan bermasyarakat.
Lebaran seharusnya menjadi momentum untuk meruntuhkan sekat-sekat tersebut. Silaturahmi tidak semestinya mengikuti logika pasar atau hierarki sosial. Justru di momen inilah, nilai-nilai kemanusiaan kita teruji. Apakah kita mampu hadir untuk mereka yang tidak memiliki “apa-apa,” tanpa mengharapkan imbalan apa pun?
Pertanyaan yang mungkin akan sulit kita jawab jika kita masih belum selesai dengan diri kita sendiri. Terkadang kita ini masih membutuhkan bantuan orang lain yang punya status sosial tinggi, lalu dengan sendirinya kita merasa tak memerlukan dukungan dari orang-orang yang tak memiliki “daya tarik sosial” tersebut.
Mengubah pola ini memang tidak mudah, karena ia telah tertanam dalam struktur sosial dan cara berpikir banyak orang. Termasuk saya, dan mungkin juga Anda. Namun, kesadaran adalah langkah awal. Dengan memahami bahwa kecenderungan ini bukan sekadar pilihan pribadi, melainkan bagian dari sistem sosial yang lebih luas, kita bisa mulai mengambil sikap yang lebih reflektif.
Pada akhirnya, silaturahmi yang sejati bukanlah tentang siapa yang kita kunjungi, tetapi tentang niat di balik kunjungan itu. Apakah ia terdorong oleh ketulusan, atau sekadar logika untung rugi? Lebaran memberi kita kesempatan untuk menjawab pertanyaan itu, dan mungkin, untuk memilih jalan yang berbeda. Jangan sampai kita hobi silaturahmi ke para politisi namun melupakan guru ngaji yang mengajarkan kita alif ba’ ta’. []





Comments are closed.