Fri,24 July 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Opinion
  3. Stop Normalisasi “Bapak-bapak Planga Plongo”: Bahaya Weaponized Incompetence yang Dianggap Lucu

Stop Normalisasi “Bapak-bapak Planga Plongo”: Bahaya Weaponized Incompetence yang Dianggap Lucu

stop-normalisasi-“bapak-bapak-planga-plongo”:-bahaya-weaponized-incompetence-yang-dianggap-lucu
Stop Normalisasi “Bapak-bapak Planga Plongo”: Bahaya Weaponized Incompetence yang Dianggap Lucu
service

Teman saya, Evi (bukan nama sebenarnya) baru saja kembali bekerja setelah cuti melahirkan. 

Setelah sebelas tahun menikah dan menunggu, ia dan suaminya akhirnya dikaruniai anak. Namun, ada satu cerita Evi yang membuat saya tertegun. Ternyata dalam waktu 3 bulan ini, suaminya tak pernah menggendong bayi mereka.

“Selama tiga bulan ini, suamiku sama sekali nggak pernah menggendong si adek (anaknya)” kata Evi. 

“Dia bilang dia takut tulang bayi kami patah. Dia nggak berani gendong. Kalau malam ya cuma aku yang bangun buat nyusuin, karena dia takut kalau dia yang gendong, nanti anaknya jatuh atau kenapa-napa.”

Evi dan suaminya sama-sama pekerja. Tiap hari mereka menempuh jarak 50 kilometer pulang pergi menggunakan angkutan umum. Tapi begitu sampai di rumah, Evi yang harus masak, memandikan bayi, dan menyusui. Suaminya cukup bilang “takut”, dan “nggak ngerti”, maka ia tidak akan dipaksa belajar menggendong bayi dan bebas dari tanggungjawab. Sementara Evi sendiri juga merasa dirinya memang lebih kompeten mengurus bayi.

Kalau kamu pernah baca tweet yang viral di X baru-baru ini, kita bisa menilai bagaimana sih pov dari laki-laki. Seorang pengguna @bardanslm menulis:

“Suami itu emang bego di rumah, otaknya off. Jangankan istri, anak saya mengira saya nggak ngerti apa-apa. Anak saya bisa ngelipet jilbab, saya diajarin. Anak saya baru les bahasa Inggris baru tau ‘it can eat’ dia ngajarin saya juga. Sampai istri saya bilang: ‘Kok kamu beda sih di rumah sama di depan pegawai, kayak orang lain. Kalau di rumah planga-plongo’. Apakah ini fenomena semua bapak-bapak?

Rumah Jadi Safe Space Buat Suami Saja

Balasan-balasan di bawahnya pun seragam. Banyak perempuan yang mengeluh suaminya tidak bisa apa-apa di rumah, sementara di kantor, suaminya tampak kompeten. 

Sementara beberapa laki-laki menjawab mereka sedang ada di safe space. Energi sudah habis terkuras seharian, sehingga begitu melewati pintu rumah, otak seperti otomatis shutdown. Mereka merasa boleh jadi planga-plongo, bengong, santai, bahkan tampak bego tanpa takut dihakimi atau dinilai gagal perform. Tentu saja, perspektif ini menarik, tapi di sisi lain, sering kali membuat pasangan perempuan merasa sendirian menanggung beban rumah tangga dan pengasuhan, seolah rumah hanya menjadi safe space bagi satu pihak saja.

Beberapa orang di X menyebut fenomena ini sebagai Weaponized Incompetence (ketidakmampuan yang dipersenjatai). Istilah ini merujuk pada tindakan seseorang yang sengaja berpura-pura tidak tahu, tidak bisa, atau melakukan suatu pekerjaan rumah tangga dengan sangat buruk agar mereka tidak perlu melakukannya lagi di masa depan.

Fenomena ini nggak cuma di Indonesia. Di banyak negara, data menunjukkan perempuan masih menanggung beban domestik yang jauh lebih besar. Menurut data Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD), perempuan menghabiskan waktu hampir dua kali lipat untuk pekerjaan rumah dan pengasuhan anak dibanding laki-laki, bahkan ketika keduanya bekerja full-time.

Seperti yang dikemukakan Silvia Federici dalam Caliban and the Witch “pekerjaan rumah tangga,  adalah manipulasi yang paling meluas, dan kekerasan paling halus yang pernah dilakukan kapitalisme terhadap bagian mana pun dari kelas pekerja”. Pekerjaan rumah tangga di sini bukan hanya pekerjaan domestik tetapi dimensi biologisnya (keibuan, seks, cinta).

Stop Mengamini “Boys Will Be Boys”

Menormalisasi narasi “Boys will be boys” atau “Namanya juga laki-laki” juga berbahaya.

Kalimat ini menjadi pembenaran atas ketidakbertanggungjawaban. Ketika seorang anak laki-laki tidak bisa merapikan tempat tidurnya, orang tua berkata.

“Ya sudah, namanya juga anak laki-laki.” Ketika suami main terus bersama teman-temannya sampai mengabaikan tanggungjawab “Boys will be boys”.

Normalisasi ini sebenarnya menghina kecerdasan laki-laki itu sendiri. Jika seorang laki-laki mampu memimpin pegawai, atau memperbaiki mesin mobil, secara logika tidak mungkin dia tidak bisa mempelajari cara melipat baju atau cara menggendong bayi yang benar. Ketidakmampuan itu bukan karena biologi, tapi karena privilese. Mereka punya pilihan untuk menjadi “bego”, sementara perempuan tidak punya pilihan selain menjadi “serba bisa”.

Kita secara tidak sadar sedang membebaskan laki-laki dari tanggung jawab emosional dan domestiknya. Bahwa menjadi tidak peka, menjadi malas di rumah adalah hal yang wajar karena itu adalah “kodrat” mereka. Padahal tidak ada yang namanya kodrat laki-laki yang nggak bisa ngurus anak.

Ada mitos yang mengatakan bahwa laki-laki tidak punya kemampuan yang sama dengan perempuan dalam mengasuh anak. Namun, penelitian dari PNAS (Proceedings of the National Academy of Sciences) membuktikan sebaliknya. Penelitian terhadap ayah yang merupakan pengasuh utama menunjukkan bahwa otak mereka mengalami perubahan plastisitas yang sama dengan ibu. Sirkuit pengasuhan di otak mereka menjadi sangat aktif saat mereka benar-benar terlibat dalam pengasuhan anak.

Maternal Gatekeeping: Bagaimana Standar Ibu Juga Membatasi Ayah

Teori maternal gatekeeping yang dikembangkan Sarah Allen dan Alan Hawkins menjelaskan bahwa dalam sejumlah rumah tangga, ibu sendiri, sadar atau tidak, turut membatasi ruang ayah untuk terlibat dalam pengasuhan, entah karena standar yang ditetapkan terlalu tinggi, atau karena identitas sebagai ibu yang kompeten.

Kembali ke tweet di X tadi, mungkin banyak yang menganggap itu lucu. Kita pasti sering melihat konten viral tentang suami yang melakukan kesalahan konyol saat diminta belanja, seperti cerita seorang suami yang membeli sereh dalam jumlah sangat banyak bukan karena butuh, tapi karena ia merasa malu dan gengsi jika cuma membeli beberapa batang saja di pasar.

Kita perlu berhenti menertawakan fenomena “bapak-bapak planga-plongo” dan mulai mempertanyakannya. Sementara suami bangga dengan ketidakmampuannya (atau ketidakmauannya?) dalam urusan rumah. Bagaimana mereka sadar jika perilaku mereka tidak dikoreksi? Seterusnya akan menjadi ketimpangan beban yang jika dibiarkan akan mengakibatkan burnout pada perempuan dan kerenggangan hubungan emosional antara ayah dan anak.

Berbeda dengan pasangan heteroseksual yang sering terjebak dalam pola tradisional, pasangan kwir lebih fleksibel dalam membagi tugas berdasarkan preferensi pribadi, kemampuan, minat, dan ketersediaan waktu masing-masing. 

Sebuah tinjauan sistematis terhadap pasangan lesbian menunjukkan bahwa mereka secara konsisten menerapkan distribusi kerja rumah yang jauh lebih setara dibandingkan pasangan heteroseksual. Tugas tidak ditentukan oleh stereotip gender, melainkan oleh kesepakatan bersama yang terus dinegosiasikan.

Laki-laki mendapat keuntungan dari sistem yang membuat ketidakikutsertaan mereka tidak terlihat, dapat dimaafkan, dan bahkan dipuji hanya karena masak nasi goreng sesekali misalnya. Kegiatan masak yang sesekali itu malah jadi bentuk kebaikan hati, bukan sebagai kontribusi yang setara. Dengan begitu, yang terjadi bukan sekadar ketimpangan kerja yang berulang, tapi juga pembingkaian ulang nilai bahwa incompetence di rumah itu normal.

Laki-laki harus sadar bahwa rumah bukan hotel, dan istri bukan staf kebersihan. Lihat piring kotor? Cuci. Lihat anak menangis? Gendong. Jangan tunggu disuruh. Inisiatif adalah bahasa cinta yang paling nyata di dalam rumah tangga.

(Editor: Luviana Ariyanti)

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.