Thu,30 April 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Features
  3. Sumatera di ujung krisis biodiversitas tertinggi di Indonesia 

Sumatera di ujung krisis biodiversitas tertinggi di Indonesia 

sumatera-di-ujung-krisis-biodiversitas-tertinggi-di-indonesia 
Sumatera di ujung krisis biodiversitas tertinggi di Indonesia 
service
Angka kehilangan biodiversitas di Sumatera diproyeksikan mencapai sekitar 15 persen pada tahun 2050

31 Desember 2025 at 13:46 (Updated on 31 Desember 2025 at 14:46)

Angka kehilangan biodiversitas di Sumatera diproyeksikan mencapai sekitar 15 persen pada tahun 2050.

Pulau Sumatera mengalami tekanan serius pada keanekaragaman hayatinya. Data terbaru menunjukkan, dibandingkan wilayah lain di Indonesia, Sumatera mencatat tingkat kehilangan biodiversitas tertinggi dalam beberapa tahun terakhir. Temuan ini diungkapkan oleh Profesor Syartinilia, Guru Besar Manajemen Lanskap dari IPB University, dalam forum LRI TALK #3 yang digelar akhir Desember 2025. 

“Analisis pada skala meso di Pulau Sumatera menggunakan Biodiversity Intactness Index (BII) menunjukkan bahwa, berdasarkan data global periode 2017–2020, Sumatera mencatat tingkat kehilangan biodiversitas tertinggi di Indonesia,” ungkapnya, dikutip dari laman resmi IPB University.

Jika pola pengelolaan lanskap di Sumatera terus berjalan dalam skenario business-as-usual atau tanpa perubahan strategi lingkungan yang signifikan, angka kehilangan biodiversitas di pulau ini diproyeksikan mencapai sekitar 15 persen pada tahun 2050. Namun, jika pendekatan berkelanjutan diterapkan, angka ini bisa ditekan hingga sekitar 11 persen.

“Pendekatan berkelanjutan terbukti mampu menekan kehilangan habitat secara signifikan,” imbuhnya.

Lebih jauh, Syartinilia menjelaskan, dampak penyusutan juga dialami oleh spesies kunci dan karismatik di Sumatera, termasuk gajah, orangutan, dan harimau. Dalam skenario yang sama, habitat gajah diproyeksikan menyusut hingga 66 persen pada 2050. Sebaliknya, skenario keberlanjutan membuka peluang peningkatan habitat sekitar 5 persen.

Proyeksi penurunan habitat ini mencerminkan tekanan berat terhadap spesies-spesies yang sudah terancam keberadaannya. Misalnya, gajah Sumatera saat ini berstatus terancam punah akibat hilangnya tutupan hutan dan fragmentasi habitat yang disebabkan oleh alih fungsi lahan menjadi perkebunan dan infrastruktur.

Ekosistem hayati di masa depan

Kajian IPB University ini juga menggabungkan data historis dengan proyeksi masa depan. Tim peneliti melakukan analisis tingkat kerentanan lanskap nasional dengan melakukan overlay data keterpaparan iklim dan kualitas ekosistem terestrial. Hasilnya menunjukkan bahwa secara nasional Indonesia masih didominasi oleh kerentanan rendah hingga sedang, tetapi terdapat daerah-daerah tertentu dengan kerentanan tinggi.

Tak hanya itu, analisis yang dilakukan berdasarkan tipe ekosistem, diketahui bahwa ekosistem lahan basah dan pegunungan merupakan yang paling rentan secara nasional. Secara spasial, Pulau Sumatera menempati posisi tertinggi dalam tingkat kerentanan lanskap Indonesia, diikuti oleh Papua, Kalimantan, dan Maluku.

“Secara spasial, Pulau Sumatra tercatat sebagai wilayah dengan tingkat kerentanan tertinggi,” jelasnya.

Faktor pemicu menyusutnya hayati

Menyusutnya keanekaragaman hayati di Sumatera bukan semata soal jumlah spesies yang berkurang, tetapi juga tentang bagaimana fungsi ekologis yang tergerus akibat perubahan pola penggunaan lahan dan tekanan dari perubahan iklim. Syartinilia menekankan, faktor antropogenik (aktivitas manusia) memiliki kontribusi signifikan dalam memperkuat dampak perubahan iklim terhadap ekosistem Indonesia secara keseluruhan.

“Faktor antropogenik memiliki kontribusi signifikan dalam memperkuat dampak perubahan iklim terhadap ekosistem Indonesia,” katanya.

Sumatera memang menjadi wilayah dengan keragaman hayati yang sangat tinggi dan memegang peran penting dalam keanekaragaman alam Indonesia. Ekoregion ini menyimpan puluhan ribu spesies tumbuhan, ratusan spesies mamalia, dan ratusan jenis burung, termasuk sejumlah spesies endemik langka seperti harimau, badak, gajah, dan orangutan.

Namun, sejak awal abad ke-21, lebih dari 50 persen tutupan hutan asli di Sumatera telah hilang, sehingga berdampak langsung pada menyempitnya habitat dan meningkatnya konflik manusia-satwa liar.

Tekanan terhadap hutan di Sumatera juga telah memunculkan konsekuensi nyata dalam beberapa peristiwa bencana alam baru-baru ini. Dampak perubahan tutupan lahan dan tekanan iklim diperkirakan turut memperparah kejadian bencana seperti banjir dan tanah longsor besar pada akhir November 2025, yang menyebabkan kerusakan habitat luas dan korban baik manusia maupun satwa liar di beberapa provinsi.

Jurnalisme lingkungan Indonesia butuh dukungan Anda. Bantu Ekuatorial.com terus menyajikan laporan krusial tentang alam dan isu iklim.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.