
Foto: magnific
Teknologi.id – Dunia game kini mengalami perubahan besar. Jika dulu bermain game hanya dianggap hiburan atau pengisi waktu luang, sekarang banyak anak muda melihatnya sebagai peluang karier yang serius. Industri e-sports yang berkembang pesat membuat profesi gamer profesional semakin diminati, terutama oleh Generasi Z atau Gen Z.
Namun di balik popularitas tersebut, masih banyak orangtua dan generasi yang lebih tua memandang profesi gamer dengan skeptis. Mereka menganggap karier di dunia game belum cukup stabil untuk dijadikan pekerjaan jangka panjang. Pandangan berbeda antar generasi ini terlihat dalam Logitech G PRO Series Survey yang melibatkan 18.000 responden dari 12 negara. Hasil survei tersebut menunjukkan bahwa industri e-sports semakin diterima anak muda, tetapi belum sepenuhnya dipercaya oleh generasi lebih tua.
Baca juga: Survei: 70 Persen Pekerja Siap Gunakan AI, Perusahaan Justru Belum Siap
E-sports Dilihat sebagai Karir Masa Depan
Dalam survei tersebut, lebih dari separuh responden global atau sekitar 54 persen menganggap profesi gamer profesional sebagai jalur karier yang sah. Dukungan terbesar datang dari kalangan muda. Sebanyak 67 persen Gen Z percaya bahwa menjadi atlet e-sports merupakan profesi yang valid.
Sementara itu, 60 persen generasi milenial juga memiliki pandangan serupa. Angka ini jauh berbeda dibanding generasi Baby Boomers yang hanya mencapai 37 persen. Perbedaan pandangan tersebut memperlihatkan bagaimana anak muda lebih terbuka terhadap pekerjaan berbasis teknologi dan ekonomi digital. Bagi mereka, dunia game bukan lagi sekadar hiburan, tetapi juga industri yang mampu menghasilkan pendapatan besar.
Perkembangan e-sports dalam beberapa tahun terakhir memang sangat cepat. Turnamen internasional kini menawarkan hadiah fantastis hingga miliaran rupiah. Tim e-sports juga mendapat dukungan sponsor besar dan memiliki basis penggemar yang luas di berbagai negara. Tak hanya itu, gamer profesional sekarang diperlakukan layaknya atlet olahraga pada umumnya. Mereka menjalani latihan rutin, memiliki pelatih, hingga mengikuti kompetisi internasional dengan jadwal ketat.
Industri Game Semakin Besar

Foto: Logitech
Popularitas e-sports turut didorong oleh meningkatnya konsumsi konten digital dan streaming game. Banyak gamer profesional yang kini tidak hanya mengandalkan penghasilan dari turnamen, tetapi juga dari sponsor, siaran langsung, hingga media sosial. Global Communications Gaming Lead Logitech G, Derek Perez, mengatakan bahwa riset ini menunjukkan perkembangan besar industri gaming dan e-sports sebagai jalur menuju kesuksesan profesional. Menurutnya, dukungan perusahaan teknologi dapat membuka lebih banyak peluang kerja di industri tersebut. Tidak hanya sebagai atlet e-sports, tetapi juga di bidang lain seperti pelatih, analis pertandingan, kreator konten, hingga manajemen tim. Hal ini membuat industri game semakin menarik bagi generasi muda yang tumbuh bersama perkembangan internet dan teknologi digital.
Orangtua Masih Menganggap Berisiko
Meski mulai diterima anak muda, profesi gamer profesional masih kalah jauh dibanding pekerjaan konvensional dalam hal prestise. Dalam survei yang sama, tenaga kesehatan menjadi profesi paling dihormati secara global dengan angka 55 persen. Sementara itu, profesi gamer profesional hanya memperoleh 8 persen dalam kategori pekerjaan yang dianggap bergengsi atau terhormat. Bahkan hanya 1 persen responden Baby Boomers yang mau mendorong anak atau kerabat mereka menjadi gamer profesional. Generasi yang lebih tua cenderung khawatir terhadap kestabilan industri ini.
Sebanyak 42 persen responden menilai profesi gamer memiliki risiko finansial tinggi. Selain itu, 34 persen menganggap dunia e-sports terlalu kompetitif dan sulit bertahan dalam jangka panjang. Tak sedikit pula yang merasa profesi gamer belum bisa dianggap pekerjaan “nyata” karena masih identik dengan aktivitas bermain game sebagai hobi.
Baca juga: Bukan Soal Skill, Ini Alasan Banyak Perusahaan Pecat Gen Z
Tuntutan Karier Gamer Tidak Mudah
Di balik popularitas dan potensi penghasilan besar, karier di dunia e-sports ternyata memiliki tekanan yang tinggi. Sebanyak 84 persen responden menilai gamer profesional membutuhkan mental yang kuat. Selain itu, 55 persen responden juga menyebut profesi ini memerlukan daya tahan fisik yang baik. Gamer profesional bahkan diperkirakan bisa berlatih hingga 10-12 jam per hari untuk menjaga performa mereka di level kompetitif. Karena itulah, sebagian masyarakat mulai melihat pentingnya pendidikan khusus untuk industri e-sports.
Hampir setengah responden global mendukung hadirnya kelas e-sports di sekolah berdampingan dengan olahraga tradisional. Dukungan terhadap pendidikan formal e-sports juga cukup tinggi. Sebanyak 65 persen responden setuju adanya jalur pendidikan khusus terkait industri game dan e-sports di universitas maupun lembaga pelatihan.
Meski masih dipandang sebelah mata oleh sebagian orangtua, industri game terus berkembang menjadi salah satu sektor digital terbesar di dunia. Seiring meningkatnya dukungan industri, pendidikan, dan media, profesi gamer profesional kemungkinan akan semakin diterima sebagai pilihan karier masa depan.
Baca Berita dan Artikel lainnya di Google News
(ir/sa)





Comments are closed.