Arina.id – Kurang lebih 100 delegasi dari negara sahabat dan aliansi perlawanan datang ke acara penghormatan terakhir jenazah mendiang pimpinan otoritas tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei di Grand Mosalla Tehran pada Sabtu (4/7/2026). Dari berbagai delegasi tersebut, terlihat tiga delegasi dari negara di kawasan Asia Tenggara, yaitu delegasi Thailand, Myanmar, dan Malaysia, dan masing-masing dibacakan ayat Al-Qur’an yang berbeda-beda.
Delegasi Thailand
Thailand diwakili oleh Pranpree Bahidda-Nukara, Penasehat Utama Menteri Luar Negeri Thailand. Pranpree dibacakan surat al-Hajj ayat 29 sebagai berikut:
اُذِنَ لِلَّذِيْنَ يُقَاتَلُوْنَ بِاَنَّهُمْ ظُلِمُوْاۗ وَاِنَّ اللّٰهَ عَلٰى نَصْرِهِمْ لَقَدِيْرٌ ۙ
Artinya: “Diizinkan (berperang) kepada orang-orang yang diperangi karena sesungguhnya mereka dizalimi. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuasa membela mereka.”
Ayat tersebut ditafsirkan oleh para pakar tafsir Qur’an sebagai legalitas untuk berperang dan berjihad bagi Rasulullah dan masyarakat Muslim era itu. Wahbah bin Mustafa al-Zuhaili dalam Tafsil al-Munir [Beirut: Darul Kutub Ilmiyah, 1991, vol. 17, hlm. 227] menjelaskan bahwa ayat tersebut merupakan bentuk izin bagi masyarakat Muslim untuk berperang. Hal ini karena kaum musyrikin telah melakukan dosa dengan mengusir masyarakat Muslim dari kota kelahirannya (Makkah) dan melukai sebagian mereka dengan luka fisik dan mental.
Umat Islam mendatangi Rasulullah dengan kondisi penuh luka di tubuh dan kepalanya. Mereka mengeluh kepada Rasulullah dan beliau tetap memerintahkan untuk bersabar. Rasulullah hanya bisa menjawab “Aku belum diperintahkan untuk memerangi mereka” hingga hijrah ke Madinah. Kemudian ayat itu turun di tahun kedua hijriyah.
Allah SWT mampu menolong umat-Nya tanpa adanya peperangan. Akan tetapi, Allah menghendaki umat Islam untuk mencurahkan segalanya demi ketaatan kepada Allah. Ketika dalam kondisi tersebut, Allah menguatkan mereka dengan pertolongan dan kemenangan. Hal itu telah terlaksanakan. Allah memuliakan mereka dengan mengalahkan musuh-musuhnya.
Delegasi Myanmar
Myanmar diwakili oleh Tin Aung San, kepala kantor kepresidenan Myanmar. Ia dibacakan Surat al-Fajr ayat 27-30 sebagaimana berikut:
يٰٓاَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَىِٕنَّةُۙ ارْجِعِيْٓ اِلٰى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً ۚ فَادْخُلِيْ فِيْ عِبٰدِيْۙ وَادْخُلِيْ جَنَّتِيْ ࣖࣖ
Artinya: “Wahai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan rida dan diridai. Lalu, masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku. Dan masuklah ke dalam surga-Ku!”
Ayat tersebut ditafsirkan sebagai bentuk apresiasi Allah kepada arwah orang-orang yang beruntung. Muhammad Amin al-Harari dalam Hadaiqur Ruh war Rayhan fi Rawabi Ulumil Qur’an [Beirut: Dar Thauq al-Najat, 2001, vol. 31, hlm. 429] menjelaskan bahwa ayat ini menyebutkan kriteria Muslim yang beruntung kelak di akhirat. Ayat ini merupakan bentuk apresiasi Allah kepada mereka-mereka yang selamat di akhirat kelak.
Al-Harari menafsirkan sebagai berikut “Wahai jiwa yang telah yakin dan tenang dengan kebenaran, yang tidak tergoda keraguan, dan konsisten dengan batasan syariat, yang tidak terguncangkan oleh syahwat dan hasrat, kembalilah mendekat ke Tuhanmu, tempat yang paling mulia dan tenang, dengan penuh kerelaan atas segala amalmu di dunia dan kamu diridai oleh-Nya atas segala amal tersebut. Masuklah (berkumpullah) bersama hamba-hambaku yang telah meninggal dunia, dan masuklah ke surga-Ku, tempat pembalasan amal baik.”
Delegasi Malaysia
Malaysia diwakili oleh Datuk Seri Mohamad Sabu, Menteri Pertanian dan Ketahanan Pangan Malaysia. Mohamad Sabu dan rombongan dari Malaysia dibacakan surat Ali Imran ayat 104 sebagai berikut:
وَلْتَكُنْ مِّنْكُمْ اُمَّةٌ يَّدْعُوْنَ اِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۗ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ
Artinya: “Hendaklah ada di antara kamu segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung.”
Ayat tersebut diartikan oleh para pakar tafsir Qur’an sebagai bentuk perintah untuk berdakwah kepada masyarakat tentang ajaran Islam. Ahmad bin Mustafa al-Maraghi dalam Tafsir al-Maraghi [Mesir: Mustafa al-Babi al-Halabi, 1946, vol. 4, hlm. 21] menjelaskan bahwa ayat ini merupakan ayat penyempurna dari ayat sebelumnya, yakni ayat yang menjelaskan bahwa masyarakat Mukmin harus memperbaiki dan menyempurnakan dirinya sendiri dengan ketakwaan dan keikhlasan.
Ayat ini mengindikasikan perintah dakwah untuk mengajak umat agar mereka mau menjalankan perintah syariat dan meninggalkan segala larangannya. Hal ini bertujuan agar umat tetap konsisten menjaga diri untuk selalu patuh terhadap syariat. Selain itu, konsep ini juga menumbuhkan kecintaan terhadap kebaikan yang membawa kemaslahatan universal, sebagaimana kecintaan terhadap kebaikan yang bermanfaat untuk pribadi. Dengan demikian, umat dapat bersatu dalam mewujudkan kebaikan dan kemaslahatan bersama, sehingga seakan mereka menjadi satu jasad yang saling peduli satu sama lain.
Penulis tidak memahami adanya pesan tersirat dalam pemilihan dan pembacaan ayat Al-Qur’an kepada ketiga delegasi dari tiga negara di atas, terutama kepada delegasi Thailand dan Myanmar. Hanya saja kepada delegasi Malaysia masih bisa difahami bahwa pilihan ayat tersebut merupakan sebuah apresiasi Iran kepada Malaysia yang berupaya menerapkan persatuan Islam dan kerja sama dengan negara sesama muslim. Wallahu a’lam.





Comments are closed.