Thu,30 July 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Opinion
  3. Tekanan Psikososial Tingkatkan Kerentanan Perilaku Kekerasan

Tekanan Psikososial Tingkatkan Kerentanan Perilaku Kekerasan

tekanan-psikososial-tingkatkan-kerentanan-perilaku-kekerasan
Tekanan Psikososial Tingkatkan Kerentanan Perilaku Kekerasan
service

Jakarta, NU Online

Meningkatnya kasus kekerasan di berbagai daerah belakangan ini dinilai sebagai indikator bertambahnya berbagai faktor risiko psikososial di masyarakat. Tekanan ekonomi, ketidakpastian hidup, rasa frustrasi, hingga paparan konflik secara terus-menerus dapat meningkatkan tingkat stres kolektif sehingga masyarakat menjadi lebih mudah tersulut emosi.

Psikolog Klinis dari Biro Welas Asih Semarang, Jawa Tengah, Luluk Nadiyatun Nadziroh, mengatakan meningkatnya kasus kekerasan tidak serta-merta menunjukkan kondisi psikologis masyarakat secara keseluruhan sedang memburuk.

“Meningkatnya kasus kekerasan juga tidak serta-merta menunjukkan bahwa kondisi psikologis masyarakat secara keseluruhan sedang memburuk,” ujarnya diwawancarai NU Online, Rabu (29/7/2026).

Menurutnya, fenomena tersebut dapat menjadi indikator meningkatnya berbagai faktor risiko psikososial, seperti tekanan ekonomi, ketidakpastian hidup, rasa frustrasi, rendahnya kepercayaan terhadap institusi, hingga paparan konflik dan kekerasan secara terus-menerus.

Luluk menjelaskan bahwa dalam psikologi, kemarahan merupakan emosi yang normal sekaligus adaptif karena berfungsi memberi sinyal bahwa seseorang merasa terancam atau diperlakukan tidak adil.

“Dalam psikologi, kemarahan merupakan emosi yang normal sekaligus adaptif karena berfungsi memberi sinyal bahwa seseorang merasa terancam atau diperlakukan tidak adil,”

Saat seseorang sedang marah, sistem saraf akan mengaktifkan respons stres sehingga tubuh lebih siap bereaksi. Pada saat yang sama, aktivitas amigdala, bagian otak yang berperan mendeteksi ancaman, akan meningkat.

“Apabila intensitas emosi sangat tinggi, kemampuan prefrontal cortex yang berfungsi mempertimbangkan konsekuensi, mengendalikan impuls, serta mengambil keputusan dapat menurun,”

Akibatnya, seseorang menjadi lebih reaktif dan cenderung bertindak tanpa mempertimbangkan dampak jangka panjang dari perilakunya. Meski demikian, kemarahan tidak selalu berubah menjadi tindakan agresif. Perubahan tersebut biasanya terjadi ketika individu gagal mengelola emosinya.

“Frustrasi yang berlangsung terus-menerus dapat menumpuk sehingga seseorang lebih mudah menafsirkan tindakan orang lain sebagai ancaman atau provokasi, meskipun belum tentu demikian,”

Luluk menambahkan bahwa kemampuan seseorang dalam mengelola emosi dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik dari sisi biologis maupun psikologis. Selain itu, lingkungan yang penuh konflik atau kekerasan juga dapat membentuk keyakinan bahwa kemarahan merupakan respons yang wajar ketika menghadapi persoalan.

Ia juga menegaskan bahwa perilaku kekerasan tidak dapat dijelaskan hanya melalui faktor psikologis. Menurutnya, kondisi lingkungan sosial juga memiliki peran penting ketika kerentanan psikologis bertemu dengan kerentanan sosial, termasuk rendahnya penjaminan keamanan oleh aparat penegak hukum yang dapat menurunkan kepercayaan dan rasa aman masyarakat.

Luluk menekankan bahwa kemampuan mengelola emosi dan empati menjadi faktor penting dalam mencegah perilaku kekerasan. Namun, pencegahannya juga harus dibarengi dengan upaya membangun lingkungan sosial yang aman, adil, dan mendukung penyelesaian konflik secara konstruktif.

“Oleh karena itu, upaya pencegahan kekerasan perlu dilakukan secara komprehensif, tidak hanya melalui peningkatan keterampilan regulasi emosi individu, tetapi juga dengan membangun lingkungan sosial yang aman, adil, serta mendukung penyelesaian konflik secara konstruktif,” pungkasnya.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.