Wed,22 April 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Perspektif
  3. Telaah: Ilmuan Peringatkan Ancaman Bahaya Sekelompok Mikroba ‘Pemakan Otak’ yang Bebas Berkeliaran di Bumi

Telaah: Ilmuan Peringatkan Ancaman Bahaya Sekelompok Mikroba ‘Pemakan Otak’ yang Bebas Berkeliaran di Bumi

telaah:-ilmuan-peringatkan-ancaman-bahaya-sekelompok-mikroba-‘pemakan-otak’-yang-bebas-berkeliaran-di-bumi
Telaah: Ilmuan Peringatkan Ancaman Bahaya Sekelompok Mikroba ‘Pemakan Otak’ yang Bebas Berkeliaran di Bumi
service

Arina.id – Para ilmuwan memperingatkan eksistensi sekelompok patogen mikroba yang kurang dikenal, disebut ameba yang hidup bebas (free living amoeba). Ameba ini dapat menjadi ancaman kesehatan global. Mikroba yang berkeliaran bebas tersebut ditemukan di tanah dan air, beberapa spesies bahkan dapat bertahan hidup dari panas ekstrem, klorin, dan bahkan sistem air modern—kondisi yang membunuh sebagian besar kuman. 

Salah satu contoh ameba yang terkenal ialah amuba pemakan otak (brain-eating amoeba), yang dapat menyebabkan infeksi mematikan setelah air yang terkontaminasi masuk ke hidung. Kemudian yang lebih memprihatinkan lagi, ameba ini dapat bertindak sebagai tempat persembunyian bakteri dan virus berbahaya, membantu mereka menghindari desinfeksi dan penyebaran.

Dikutip dari sciencedaily, para peneliti lingkungan dan kesehatan masyarakat memberikan perspektif baru yang diterbitkan dalam jurnal Biocontaminant, bahwa organisme mikroskopis ini mendapatkan tempat di seluruh dunia, kemudian bergerak bebas antar benua melintasi samudera setelah didorong oleh perubahan iklim dan buruknya sistem ai. Sementara di sisi lain upaya pemantauan dan pendeteksiannya juga masih terbatas.

Ameba merupakan organisme bersel tunggal yang secara alami tinggal di tanah dan air. Sebagian besar tidak berbahaya, tetapi spesies tertentu dapat menyebabkan penyakit parah dan terkadang fatal. Salah satu contoh yang paling terkenal adalah Naegleria Fowleri (sering disebut sebagai amuba pemakan otak), yang dapat menyebabkan infeksi otak. Meskipun kasusnya langka tetapi hampir selalu mematikan. Infeksi dapat terjadi ketika air yang terkontaminasi masuk ke hidung selama aktivitas, misalnya berenang.

Mengapa ameba ini sangat sulit dikendalikan?

“Hal yang membuat organisme ini sangat berbahaya adalah kemampuan mereka untuk bertahan hidup dalam kondisi yang membunuh banyak mikroba lain,” kata penulis koresponden Longfei Shu dari Universitas Sun Yat sen. “Mereka dapat mentolerir suhu tinggi, disinfektan kuat seperti klorin, dan bahkan hidup di dalam sistem distribusi air yang dianggap aman orang.”

Para peneliti juga menunjukkan bahwa ameba dapat bertindak sebagai inang pelindung untuk mikroba penyebab penyakit lainnya. Bakteri dan virus dapat bertahan hidup di dalam amuba, terlindung dari proses desinfeksi yang biasanya akan menghilangkannya. Efek Trojan Horse ini memungkinkan patogen berbahaya bertahan dan menyebar melalui sistem air minum dan juga dapat berperan dalam meningkatnya resistensi antibiotik.

Para ilmuan memperingatkan, peningkatan suhu global diperkirakan akan memperburuk masalah, dimana akan menyebabkan ameba yang menyukai panas menyebar ke daerah di mana mereka dulunya jarang terjadi. Beberapa wabah yang terjadi baru-baru ini dilaporkan terkait dengan paparan air di tempat-tempat rekreasi telah meningkatkan kekhawatiran publik di beberapa negara.

Oleh sebab itu para penulis mendesak strategi One Health yang terkoordinasi yang menyatukan kesehatan masyarakat, penelitian lingkungan, dan pengelolaan air. Mereka menekankan perlunya pengawasan yang lebih baik, alat diagnostik yang lebih cepat dan lebih akurat, serta teknologi pengolahan air canggih untuk mengurangi risiko sebelum infeksi terjadi.

“Ameba bukan hanya masalah medis atau masalah lingkungan,” kata Shu. “Mereka duduk di persimpangan keduanya, dan mengatasinya membutuhkan solusi terintegrasi yang melindungi kesehatan masyarakat pada sumbernya langsung.”

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.