Mubadalah.id – Nabi Muhammad SAW adalah sosok ideal yang dapat kita jadikan suritauladan dalam berbagai bidang kehidupan sepanjang zaman. Karena, memang segala perkataan, perbuatan, sikap, dan segala hal yang datang dari teladan Nabi pastilah membawa hikmah dan kebaikan bagi semua pihak.
Di antara hal yang dapat kita teladani dari Nabi adalah keteladanan memberikan maaf kepada orang lain yang telah berbuat jahat atau menyakiti hati beliau sejadi-jadinya. Ada satu peristiwa sejarah yang membuat hati Nabi begitu hancur di kala itu. Yakni, tatkala Paman kesayangan Nabi yang bernama Sayyidina Hamzah gugur sebagai syahid di medan Perang Uhud dengan cara yang begitu kejam.
Paman Nabi yang dijuluki Asadullah (Singanya Allah) itu menghembuskan napas terakhirnya setelah dibunuh oleh seorang budak bernama Wahsyi melalui tombak yang mengenai dada beliau.
Wahsyi melakukan hal itu atas dasar perintah dari Hindun. Begitu mengetahui kabar gugurnya Sayyidina Hamzah, Hindun yang merupakan dalang dalam pembunuhan sadis ini, mendatangi jasad mulia Sayyidina Hamzah dan merobek dadanya, mengambil jantungnya, dan mengunyahnya. Sungguh biadab apa yang dilakukannya.
Mengetahui hal ini, Nabi Muhammad SAW begitu terpukul dan hancur lebur hatinya. Memang betul sebagai seorang utusan Allah, beliau adalah orang yang paling lapang hatinya menerima segala ujian dan cobaan dari-Nya. Akan tetapi, secara basyariyyah, beliau tetaplah manusia biasa yang memiliki perasaan. Sehingga, saat mengetahui kabar gugurnya sang paman tercinta, apalagi dengan cara yang kejam, beliau sangat-sangat hancur dan terpukul sejadi-jadinya.
Apakah Nabi Memaafkan Seorang Pembunuh?
Sampai di sini, kita mungkin menantikan satu jawaban dari pertanyaan ini: apakah Nabi memaafkan pembunuh sang paman tercinta? Ataukah memerintahkan para sahabatnya untuk membalaskan dendam atas wafatnya sang paman?
Jawabannya, ternyata Nabi berkenan memaafkan Wahsyi. Beliau bahkan mengajak dan mempersilakan ia masuk Islam dan berbahagia atas hal itu. Hal ini terjadi karena Wahsyi pada akhirnya memutuskan untuk bertaubat dan benar-benar menyesal, serta meminta maaf kepada beliau atas kejadian memilukan di masa lalu itu, dan berkenan untuk masuk Islam.
Namun demikian, seperti yang telah disebutkan sebelumnya, secara basyariyyah Nabi tetaplah manusia biasa yang memiliki perasaan selazimnya orang-orang pada umumnya. Meskipun telah memaafkan, Nabi belum bisa benar-benar melupakan peristiwa memilukan itu. Saat melihat Wahsyi, kepingan-kepingan “adegan berdarah” dalam peristiwa memilukan itu kembali terputar secara otomatis dalam sanubari beliau. Sehingga, tatkala hal itu terjadi, kesedihan Nabi bukanlah hal yang dapat tersembunyikan lagi.
Walhasil, dengan sikap bijaksananya, Nabi memutuskan untuk membuat self boundaries (batasan diri). Yakni, enggan melihat wajah Wahsyi lagi setelah pertaubatan Wahsyi itu. Sebab, bila melihat wajah itu, beliau akan teringat kembali dengan nasib tragis sang paman tercinta yang terbunuh di perang Uhud, yang seketika membuat Nabi teramat bersedih hati.
Keteladanan Nabi
Dari sikap demikian ini, dapat kita ambil teladan nabi. Bahwa soal memberikan maaf kepada orang lain, lebih-lebih yang pernah menyakiti atau berbuat jahat kepada kita adalah hal yang sangat dianjurkan. Akan tetapi, membuat batasan diri juga penting demi kedamaian hati kita sendiri yang pernah terluka akibat digores oleh seseorang. Self boundaries bukan wujud keangkuhan atau egoisme, melainkan bentuk pertahanan diri yang paling tepat dalam kondisi tertentu. Misalnya ya seperti kondisi yang dialami Nabi.
Di dunia ini, pasti ada saja kan orang yang tidak suka atau berbuat jahat dengan kita. Kita tak bisa mengendalikan hal itu. Yang dapat kita kendalikan adalah sikap kita ketika mendapati perilaku yang tidak mengenakkan atau bahkan menyakitkan dari orang tersebut.
Orang-orang jahat seperti itu, dalam hemat penulis, ibaratkan seperti ular berbisa. Analoginya, ketika ada ular dan kita sudah tahu bahwa ia berbisa serta berpotensi mencelakakan kita kalau dekat-dekat dengannya, maka yang seharusnya kita lakukan apa? Ya, benar! Langkah terbaik kita yang harus kita lakukan adalah menghindarinya atau menjaga jarak darinya. Nah, di titik inilah self boundaries berperan penting dalam perjalanan hidup kita.
Memaafkan, Lalu Menetapkan Batasan
Sekali lagi penulis tekankan bahwa orang yang jahat itu ibarat ular, teman-teman. Lisannya berbisa, dan seringkali mencabik-cabik hati kita hingga tersayat luka menganga. Maka, agar kita dapat menjalani hidup dengan lebih tenang, nyaman, dan aman, tak ada salahnya kita menghindarkan diri dengan orang-orang yang berpotensi berbuat jahat dengan kita.
Hal ini diperbolehkan secara agama dan bukan tergolong sebagai perbuatan memutuskan silaturahmi, melainkan sekadar menjaga jarak untuk batasan diri agar tak tersakiti. Sebagaimana yang dilakukan Nabi kepada Wahsyi di kala itu.
Sebelum mengakhiri tulisan ini, penulis ingin mengutip dawuh dari Sang Guru Bangsa, Gus Dur, Allahu Yarhamuhu (aamiin). Tentang pemberian maaf, beliau pernah berpesan bahwa “memaafkan memang tidak dapat mengubah masa lalu. Akan tetapi, memaafkan sudah pasti dapat memberi ruang yang lebih lapang untuk masa depan.”
Kalau dawuh ini kita tarik dalam teladan Nabi dalam memaafkan Wahsyi, maka sejatinya hati Nabi telah menjadi lapang kembali setelah memberikan maaf itu kepada Wahsyi. Meskipun Nabi juga memilih untuk menetapkan batasan diri dengan menjaga jarak demi melanggengkan kedamaian hati yang telah lapang itu. Wallahu a’lam. []





Comments are closed.