Universitas Indonesia (UI) terus mengembangkan inovasi yang berdampak nyata bagi peningkatan kualitas lingkungan. Kali ini, penelitian yang dilakukan oleh Afiatry Putrika, akademisi jenjang doktoral dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), menunjukkan lumut epifit memiliki potensi luar biasa untuk dimanfaatkan sebagai indikator kualitas lingkungan di kawasan urban.
Temuan ini disampaikan Afiatry dalam disertasinya yang berjudul “Studi Keanekaragaman dan Adaptasi Lumut Epifit pada Kawasan Urban Selatan Jakarta yang Berpotensi sebagai Indikator Kualitas Lingkungan”.
Afiatry menunjukkan struktur komunitas, tingkat keanekaragaman, dan kemampuan adaptasi lumut epifit berkaitan erat dengan kondisi lingkungan perkotaan yang dipengaruhi polusi udara dan peningkatan suhu.
Berkat temuan tersebut, Afiatry secara resmi meraih gelar doktor dengan raihan IPK 3,88 dalam sidang promosi yang dihelat pada Kamis, 9 Juli 2026 di Aula Gedung Laboratorium Riset Multidisiplin Pertamina FMIPA UI, Kampus UI Depok.
Ia menyatakan lumut epifit merupakan lumut yang hidup menempel pada batang atau cabang pohon. Berbeda dengan tumbuhan parasit, lumut ini tidak mengambil nutrisi dari tanaman inangnya, melainkan dari udara dan air hujan. Karena itu, lumut epifit sangat peka terhadap perubahan kualitas lingkungan sehingga berpotensi dimanfaatkan sebagai bioindikator.
“Lumut memang terlihat sederhana, tetapi keberadaannya dapat menjadi penanda kondisi lingkungan. Keanekaragaman lumut epifit dapat dimanfaatkan untuk memantau kualitas lingkungan di kawasan urban,” kata Afiatry.
Penelitian dilakukan di berbagai ruang terbuka hijau (RTH) di wilayah selatan Jakarta dengan mengkaji hubungan struktur komunitas lumut epifit dengan faktor lingkungan, karakter adaptasi morfologi dan anatomi. Ini juga mengkaji respons molekuler melalui ekspresi gen heat shock protein 70 (hsp70) terhadap cekaman suhu.
Menurut Afiatry, kajian mengenai lumut sebagai bioindikator kualitas lingkungan masih terbatas di Indonesia, terutama yang menghubungkan aspek keanekaragaman, faktor lingkungan, dan mekanisme adaptasinya secara terpadu.
“Harapannya, penelitian ini dapat menjadi dasar pengembangan biomonitoring kualitas lingkungan sekaligus mendukung pengelolaan ruang terbuka hijau yang lebih berkelanjutan di kawasan perkotaan,” ujarnya.
Temuan ini membuka peluang pemanfaatan lumut epifit sebagai indikator alami kualitas lingkungan di kawasan perkotaan. Dengan memantau keberadaan dan keanekaragaman lumut epifit, pemerintah maupun pengelola ruang terbuka hijau dapat memperoleh gambaran awal mengenai dampak polusi udara dan peningkatan suhu sehingga upaya pengelolaan lingkungan dapat dilakukan lebih tepat sasaran.
Temuan ini menegaskan komitmen Universitas Indonesia dalam menghasilkan riset yang menjawab tantangan nyata di masyarakat. Melalui pengembangan ilmu pengetahuan dan inovasi, UI terus berupaya menghadirkan solusi berbasis sains yang mendukung pembangunan berkelanjutan serta meningkatkan kualitas hidup masyarakat dan lingkungan.






Comments are closed.