Gimana jadinya jika kamu dipecat hanya lewat pesan singkat di ponsel?
‘Bak petir di siang bolong’ itulah yang dialami oleh Andrea ‘Andy’ Sachs (Anne Hathway). Ia diputus hubungan kerja (PHK) sepihak oleh kantor media tempat ia bekerja, The New York Vanguard. Sesaat sebelum ia memberikan sambutan kemenangan atas karya jurnalistiknya.
Momen yang semestinya bahagia menjadi sendu dan penuh ketidakpastian. Loyalitas puluhan tahun bekerja runtuh begitu saja dalam sekejap. Rasa kecewa yang bisa dipahami; idealisme dan kerja keras dalam berjurnalisme, segitu mudahnya dibenturkan dengan kekuatan modal dan pasar berdalih efisiensi.
Sebagai pekerja media, apa yang dialami Andrea di awal penceritaan film begitu relevan. Tak sendirian, apa yang dialami Andrea dialami pula oleh ratusan awak media di tempatnya bekerja. Merosotnya tren iklan ke media menjadi dalih efisiensi, bahkan ancaman gulung tikar.
Di podium sambutan itu, Andrea dengan menggebu menyuarakan soal nasibnya sebagai pekerja dan pentingnya mempertahankan jurnalisme berkualitas. Pernyataannya pun banyak diliput di media dan viral di media sosial.
Cerita Andrea adalah bagaimana mempertahankan idealisme di tengah gempuran tantangan demi keberlangsungan hidup.
Saat kondisi buruk itulah, Andrea kemudian dipertemukan dengan majalah Runway yang juga tengah diterpa badai. Potret media cetak fesyen yang berjaya pada masanya itu, kini bukan hanya harus beradaptasi di tengah disrupsi media. Namun, ia juga tengah tersandung skandal akibat publikasinya soal Speed Fash, jenama fast fashion yang diduga melakukan praktik eksploitasi.
Situasi itu menggerus kredibilitas Runway. Integritasnya dipertanyakan publik. Para investor berpengaruh yang selama ini menopang Runway pun mengancam menarik pendanaannya.
Baca juga: Pers Di Titik Krisis: Kebebasan Pers Memburuk, Disrupsi Digital, Hingga PHK Jurnalis
Satu-satunya cara bertahan, selain tentunya pendanaan, adalah bagaimana mengembalikan kepercayaan publik atas Runway.
Di sinilah, CEO Elias-Clark, perusahaan induk yang menaungi Runway, Irv Ravitz (Tibor Feldman), merekrut Andrea untuk bergabung kembali dengan media yang memberinya posisi asisten junior editor beberapa puluh tahun lalu.
The Devil Wears Prada 2 ini mempertemukan Andrea dengan sosok perempuan yang dijuluki ‘setan mode’ yang dingin dan keras, Miranda Priestly (Meryl Streep). Meski di sekuel kedua ini, Miranda hadir dengan adaptasi yang “lebih cair”.
Sebagaimana masa sekarang yang menuntut agar adaptif dan bergerak cepat, tak bisa lagi kaku, sebuah simbol perubahan zaman yang tercermin dari adaptasi karakter Miranda ini jadi cukup masuk akal.
Pujian untuk The Devil Wears Prada 2 ini, salah satunya, cukup jeli dalam menyajikan detail cerita yang relevan dengan pesan yang ingin disampaikan. Poin itu misalnya ditampilkan dalam interaksi Miranda dengan asistennya, Amari (Simone Ashley). Beberapa kali, Amari mengingatkan Miranda untuk tak sembarangan bicara di era yang serba viral ini. Sebab jika tidak, masalah yang menjerat Runway kian blunder.
Andrea, sosok jurnalis yang punya idealisme, terus berupaya memperbaiki citra Runway. Dimulai dari pernyataan sikap yang empatik, dia bekerja keras untuk menyajikan liputan berkualitas.
Ia lantas “memutar otak” untuk bisa mewawancarai Sasha Barnes (Lucy Liu), filantropis miliarder yang mengalokasikan uangnya untuk membantu perempuan dan anak perempuan. Dia sosok berpengaruh namun tertutup dari publik.
Apakah Andrea bisa memperoleh kepercayaan publik dan Miranda dengan ini? The Devil Wears Prada 2 merupakan film drama komedi Amerika Serikat yang disutradarai oleh David Frankel dan ditulis oleh Aline Brash. Sekuel dari film tahun 2006 The Devil Wears Prada ini dibintangi oleh Meryl Streep, Anne Hathway, Emily Blunt, dan Stanley Tucci. Ia rilis secara global pada 1 Mei 2026.
Realitas Lebih Kompleks: Pekerja Media di Pusaran Kepentingan Elite
The Devil Wears Prada 2 memang menyoroti isu ketenagakerjaan dan situasi industri media kini yang dituntut agar adaptif untuk bisa bertahan. Namun, tak semua media bisa berakhir dengan “happy ending” seperti film ini.
Ada situasi yang lebih kompleks daripada situasi industri media hari ini. Terlebih di kalangan pekerja media yang dari berbagai aspek mengalami ketimpangan. Banyak dari mereka yang tak ada “jaring pengaman” atau “kisah ajaib yang menyelamatkan” mereka ketika media terancam runtuh.
Hampir tak ada kisah ‘sesempurna’ Andrea yang langsung dapat kerja dengan gaji dua kali lipat setelah PHK atau Runway tiba-tiba kedatangan investor super kaya.
Di era kini, eksistensi media dari pengiklan juga semakin tak dilirik. Media mainstream bukan hanya bersaing dengan sesama media dengan target iklan yang sama, melainkan content creator era digital yang dibayar lebih efisien. Di tengah biaya produksi industri media yang besar, kehilangan pendanaan atau pengiklan tentu bisa jadi malapetaka.
Para pekerja media jadi yang paling terdampak. Mereka adalah target efisiensi dengan pemotongan gaji, perumahan, hingga PHK. Mirisnya, semua itu dilakukan tanpa persetujuan pekerja, melainkan secara sepihak.
Secara global, industri media massa kini menunjukkan adanya gelombang PHK. Disrupsi digital, perubahan pola konsumsi berita ke platform digital, hingga krisis ekonomi menjadi faktor penyebabnya. Seolah diingatkan oleh The Devil Wears Prada 2, kita tentu tak lupa tentang PHK massal yang terjadi di The Washington Post pada awal tahun 2026 yang berdampak pada sekitar 300 jurnalis dan staf.
Baca juga: Film Bombshell, Kisah Pelecehan Seksual Menimpa Perempuan Pekerja Media
Sebagai jurnalis, saya jadi berefleksi dengan kondisi di Indonesia saat ini, kita baca saja laporan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) per tahun 2024 hingga awal 2025 yang menyebutkan tentang puncak dari tekanan terhadap industri media. Kondisi ini terjadi seiring dengan efisiensi anggaran pemerintah dan melambatnya ekonomi nasional. Media besar dan kecil pun melakukan PHK.
Dewan Pers memperkirakan 1.200 jurnalis mengalami PHK pada tahun 2023-2024. Angka sesungguhnya kemungkinan jauh lebih tinggi, terutama karena kabar dan pemberitaan terkait PHK di media terus bersambung hingga memasuki semester II tahun 2025.
Sebagaimana dunia fesyen, situasi itu tak berdiri di ruang kosong. Ada situasi ekonomi-politik yang mempengaruhinya. Dan lagi-lagi, kelas pekerja yang jadi korbannya. Sedangkan pihak yang paling diuntungkan adalah elit.
Dilihat dari kacamata ekologi politik feminis, pada film The Devil Wears Prada 2, jika kita menyadari, ada ‘pertunjukan elit’ dalam gemerlap Runway. Jenama-jenama ternama yang terpampang itu bukan hanya timpang dengan realitas kerentanan nasib pekerja media yang meliputnya (media fesyen).
Namun, juga ada kabar buruk atas eksploitasi lingkungan dan pelanggaran hak buruh yang mereka lakukan.
Foto: Instagram The Devil Wears Prada 2
(Editor: Luviana Ariyanti)




Comments are closed.