KABARBURSA.COM – Catatan kinerja keuangan PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) di kuartal pertama 2026 masih terjaga. Terlihat, BRIS mampu menjaga pertumbuhan pembiayaan sekaligus mempertahankan profitabilitas di level tinggi.
Laporan keuangan kuartal I 2026 yang disampaikan kepada Bursa Efek Indonesia, Rabu, 13 Mei 2026, menunjukkan pendapatan dari penyaluran dana BRIS naik menjadi Rp7,58 triliun dari Rp7,09 triliun pada periode yang sama tahun lalu.
Kenaikan tersebut ikut mendorong pendapatan setelah distribusi bagi hasil menjadi Rp5,52 triliun, naik dibanding kuartal I 2025 sebesar Rp4,77 triliun.
Pertumbuhan itu datang ketika pembiayaan BRIS juga terus meningkat. Total pembiayaan bagi hasil tercatat mencapai Rp151,72 triliun hingga Maret 2026, naik dibanding posisi akhir 2025 sebesar Rp147,76 triliun.
Porsi terbesar masih berasal dari pembiayaan musyarakah yang mencapai Rp149,84 triliun. Sementara pembiayaan mudharabah berada di kisaran Rp1,87 triliun.
Dari sisi piutang, total piutang BRIS mencapai Rp172,44 triliun. Segmen murabahah masih menjadi kontributor terbesar dengan nilai Rp151,87 triliun.
Namun yang mulai menarik perhatian pasar bukan hanya pertumbuhan pembiayaannya. Investor mulai melihat bagaimana BRIS menjaga kualitas aset ketika ekspansi pembiayaan terus berjalan.
Rasio non performing financing atau NPF gross tercatat membaik ke level 1,80 persen dari sebelumnya 1,88 persen. Sementara NPF net turun menjadi hanya 0,51 persen.
Perbaikan kualitas pembiayaan tersebut ikut memperkuat posisi profitabilitas BRIS. Return on Asset (ROA) naik menjadi 2,54 persen dari 2,43 persen, sedangkan Return on Equity (ROE) melonjak ke level 19,36 persen dibanding sebelumnya 17,58 persen.
Di sisi efisiensi, rasio BOPO turun menjadi 68,22 persen dari 70,57 persen. Penurunan ini menunjukkan ruang efisiensi operasional BRIS mulai membaik di tengah ekspansi bisnis yang masih agresif.
Margin bisnis syariah juga terlihat mulai menguat. Net Imbalan atau Net Operating Margin (NOM) naik menjadi 2,97 persen dari sebelumnya 2,78 persen.
Meski begitu, pasar masih melihat adanya tekanan dari sisi likuiditas. Financing to Deposit Ratio (FDR) BRIS tercatat berada di level tinggi sekitar 86 persen.
Kondisi ini muncul ketika dana murah atau CASA di industri perbankan nasional mulai menghadapi persaingan ketat akibat suku bunga tinggi dan kebutuhan likuiditas yang meningkat. Di tengah situasi tersebut, BRIS tetap menjaga posisi permodalan dengan rasio KPMM atau CAR sebesar 20,95 persen.
Angka tersebut masih berada jauh di atas ambang minimum regulator. Posisi ini memberi ruang bagi BRIS untuk tetap ekspansif dalam pembiayaan tanpa tekanan modal yang terlalu besar.
Dari sisi neraca, total aset BRIS juga terus membesar. Kas tercatat Rp9,25 triliun, sementara penempatan pada Bank Indonesia mencapai Rp47,55 triliun.
Portofolio surat berharga BRIS berada di level Rp61,08 triliun. Di sisi lain, cadangan kerugian penurunan nilai aset keuangan naik menjadi Rp15,03 triliun.
Kenaikan pencadangan ini menunjukkan BRIS mulai mempertebal bantalan risiko di tengah kondisi ekonomi dan daya beli yang belum sepenuhnya pulih. Namun pasar sejauh ini masih membaca langkah tersebut sebagai bentuk konservatisme ketimbang sinyal pelemahan kualitas aset.
Di tengah perlambatan industri perbankan nasional, BRIS terlihat masih menjaga dua mesin utamanya tetap hidup: pertumbuhan pembiayaan dan efisiensi profitabilitas. Kombinasi tersebut membuat bank syariah terbesar di Indonesia ini masih mampu menjaga momentum ekspansi pada awal 2026.(*)
Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.





Comments are closed.