Matahari sedang terik-teriknya. Namun, Made Kuter, masih menyusuri pematang sawahnya. Tangan kanan lelaki 63 tahun ini memegang sendok. Tangan kiri memegang dua bungkus plastik. Satu bungkus plastik berisi racun tikus, plastik lainnya berisi daun pisang. Sudah beberapa tahun terakhir, Kuter, petani sawah di Subak Padang Legi, Desa Medahan, Kabupaten, Gianyar, Bali, merasakan hama yang terus meningkat, kesulitan air di sawah dan kini terancam banjir. Dia memiliki lahan sawah 30 are. Lahan pun terhimpit bangunan vila. Beberapa langkah berjalan, Kuter berhenti. Tangan kanan menyendok racun tikus yang dia buat secara tradisional. Dia letakkan di atas daun, lalu diletakkan di bawah semak-semak. “Ini racun tikus, isinya beras, racun tikus, kacang tanah. Supaya berbau, pang nyak enduse ken bikul, pang nyak amahe (biar mau dicium oleh tikus, biar dimakan sama tikus),” kata Kuter, Rabu (29/7/26). Kadang, dia campur racikan racun tikus itu dengan ikan asin dan makanan lain yang berbau menyengat. Sejak tahun lalu, serbuan tikus kian merajalela dan terjadi dalam tiga periode tanam. Kini, satu petak sawah hampir sebagian terserang hama tikus. Padi menguning, tetapi tak bisa tumbuh lagi. “Sing kena ben ngorang liunne (tidak bisa dihitung banyaknya tikus),” katanya. Made Kuter meletakkan racun tikus di sela-sela rumput. Foto: I Gusti Ayu Septiari/ Mongabay Indonesia “Ten karuan ngorang panen, ten misi yeh, yeh e nyat (tidak pasti panennya, tak ada air sekarang, airnya mengering).” Pekerjaan di sawah beberapa kali tertunda. Debit air kecil. Pembangunan sekitar juga menutup jalan air. “Kan misalne ada membangun, terpaksa nembok kanan-kiri. Ditutup saluran air, pang ngidang yo…This article was originally published on Mongabay
Tradisi Subak Terdesak Alih Fungsi Lahan, Banjir sampai Serangan Hama
Tradisi Subak Terdesak Alih Fungsi Lahan, Banjir sampai Serangan Hama





Comments are closed.