Sat,30 May 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Jurnalistik
  3. Tren ‘podcast’ politik: Sarana informasi publik dan ruang klarifikasi politikus

Tren ‘podcast’ politik: Sarana informasi publik dan ruang klarifikasi politikus

tren-‘podcast’-politik:-sarana-informasi-publik-dan-ruang-klarifikasi-politikus
Tren ‘podcast’ politik: Sarana informasi publik dan ruang klarifikasi politikus
service

● ‘Podcast’ yang membahas isu politik kini makin populer di kalangan audiens muda.

● Bagi politikus, ‘podcast’ bisa menjadi wadah klarifikasi atas isu yang melibatkan mereka.

● Negara perlu memfasilitasi berbagai aksi politik anak sebagai kontribusi dalam demokrasi.


Podcast (siniar) kini menjadi salah satu media informasi yang banyak diminati generasi muda. Indonesia sendiri menjadi salah satu negara dengan audiens ‘podcast’ terbanyak secara global. Persentase pendengarnya mencapai 42,6% dari total populasi warganet Indonesia yang sebesar 221 juta jiwa.

Siniar soal motivasi, kesehatan, gaya hidup, hingga horor menjadi segmen favorit yang diminati oleh audiens muda.

Meski demikian, ulasan soal politik kini makin populer dan mendapatkan segmen pendengar yang tidak kalah banyak.

Bahkan, podcast soal politik tidak lagi terikat dengan peristiwa besar seperti pemilu—isu yang memantik lahirnya tren ‘podcast’—tetapi juga membahas isu-isu lain terkait pemerintahan, kebijakan dan tokoh tertentu.

Munculnya tren ‘podcast’ politik

Secara umum, keunggulan siniar adalah tayangan yang tidak terpotong iklan komersial dan bisa ditonton ulang dalam berbagai platform sehingga publik tidak merasa ketinggalan informasi.

Kanal Podcast Close The Door dengan host Deddy Corbuzier menghadirkan Prabowo Subianto sebagai narasumber.

Selain itu, model komunikasi podcast yang cenderung provokatif, tanpa sensor, dan spontan tidak berbasis naskah dapat dengan mudah menarik audiens.

Karakter siniar tersebut menjadikan informasi yang disampaikan lebih natural dan tanpa settingan, sehingga publik bisa menilai keaslian dan ekspresi narasumber dan podcaster ketika berdialog.

Kanal podcast politik di Indonesia awalnya mengambil inspirasi dari podcast Joe Rogan Experience—percakapan berdurasi panjang yang dipandu oleh komedian Joe Rogan dengan teman-temannya. Sementara tamunya mencakup komedian, aktor, musisi, petarung bebas profesional, penulis dan selebritas.

Ia membahas berbagai macam topik terhangat yang tentu ada sangkut pautnya soal politik. Mengambil tempat di sebuah studio dengan dua microphone antara Joe Rogan dan rekan diskusinya, topik yang dianggap sepele bisa diulas panjang dan penuh perdebatan.

Hal inilah yang kemudian menjadi inspirasi bagi kanal podcast politik di Indonesia.

Di Indonesia, awal tren podcast politik dimulai dengan populernya Close The Door oleh selebritas Deddy Corbuzier yang kerap mengundang berbagai narasumber dari berbagai latar belakang—bahkan tokoh-tokoh besar di pemerintahan, maupun tokoh yang sedang diperbincangkan publik tapi sulit ditemui.

Kesuksesan Close The Door inilah yang kemudian melahirkan berbagai podcast politik lainnya, mulai dari Total Politik, Komisidotco, Cokro TV, Akbar Faizal Uncensored, hingga Unpacking Indonesia.

Kanal-kanal podcast politik tersebut menyuguhkan berbagai informasi dan testimoni narasumber yang dalam dan kompleks, sehingga menarik minat pendengar untuk terus mengikutinya.

Kanal Podcast Bocor Alus Politik yang dikelola media Tempo.

Mata Najwa & Close the Door milik Deddy Corbuzier, contohnya, menjadi podcast politik dengan audiens yang besar karena ulasan-ulasannya yang dianggap tajam dan kritis.

Berbagai ulasan itu pula yang kemudian menjadi sumber informasi media utama saat ini dengan mengutip potongan diskusi maupun informasi dari podcast.

Makin populernya podcast politik ini kemudian mendorong media mainstream membuat kanal podcast masing-masing, misalnya GasPol milik KOMPAS yang juga menarik minat pendengar. Media-media ini mulai mendaur ulang tayangan talkshow yang dulunya eksis dalam bentuk podcast, misalnya Mata Najwa atau Indonesia Lawyer Club.

Seiring berkembangnya waktu, siniar politik semakin ramai karena kedalaman isu yang dibahas, hidden story yang tidak terungkap di media mainstream, hingga kontroversi maupun polemik yang timbul setelah podcast itu tayang di YouTube.

Sebut saja polemik privilese Rahayu Saraswati di On The Record Antara TV maupun polemik Asian Values tentang Dinasti Politik di Total Politik, serta teror kepala babi paska podcast revisi UU TNI di Bocor Alus.

Dari segi traffic, siniar seperti ini menjanjikan secara ekonomi karena mengundang endorsement dan adsense. Ini membuat profesi podcaster menjadi pekerjaan menguntungkan.

Artinya, sukses dan tidaknya podcast politik yang menjamur saat ini tergantung pada konten isu yang ditampilkan dan juga kepiawaian podcaster dalam memancing narasumbernya agar blak-blakan.

Ruang klarifikasi politikus dan pemerintah

Para politikus dan kalangan akademisi pun tak mau kalah dan membuat kanal podcast sendiri. Contohnya mantan Mantan Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menkopolkam) Mahfud MD, presenter kondang sekaligus politikus Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Helmy Yahya, hingga Ketua Umum PSI Kaesang Pangarep yang merupakan anak mantan Presiden Joko Widodo.

Kanal ‘podcast’ milik politikus Akbar Faizal.

Mereka mengikuti jejak Akbar Faizal, politikus Partai Nasdem, yang terlebih dulu memiliki podcast sejak 2023.

Bagi para politikus, keberadaan podcast dapat membantu menjaga popularitas sekaligus menawarkan forum klarifikasi atau “pembenaran” terhadap topik politik yang sedang hangat di ruang publik. Apalagi jika melibatkan citra mereka.

Bahkan Kantor Staf Presiden pun mengelola kanal podcast, yakni Bina Graha, yang bertujuan untuk menyampaikan atau mengklarifikasi informasi ke publik. Misalnya tuduhan Jokowi ‘cawe-cawe’ dalam Pemilu 2024 yang dibantah oleh Ali Mochtar Ngabalin dalam kanal tersebut.

Risiko bagi ‘podcaster’

Tayangan podcast politik juga berisiko bagi podcaster maupun narasumber. Misalnya, bisa saja terjadi somasi karena kontennya dinilai merugikan pihak lain yang jadi topik ulasan.

Selain itu, kanal podcast juga rentan terkena serangan siber, entah itu pembajakan maupun pemblokiran. Contohnya adalah serangan siber ke redaksi Narasi tahun 2022 dengan pesan “diam atau mati”.

Kanal ‘podcast’ Bina Graha yang dikelola oleh Kantor Staf Presiden.

Terlepas dari risikonya, podcast telah menjadi sarana efektif untuk menyampaikan informasi langsung ke publik. Ke depannya, kedalaman informasi yang disampaikan akan lebih baik kalau ada layar pendukung yang menampilkan testimoni atau grafik, jangan hanya “katanya”.

Dengan dukungan data, podcast bisa jadi sarana edukasi bagi audiens yang mayoritas anak muda, bahwa public speaking di media tak hanya sebatas testimoni, tetapi juga narasi yang masuk akal.


0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.