Jakarta, Arina.id—Upaya perdamaian dalam konflik Iran kembali menghadapi hambatan setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump membatalkan kunjungan dua utusan AS ke Pakistan.
Keputusan itu dikeluarkan Trump, Sabtu (25/4/2026), setelah dua pejabat Pakistan mengatakan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi meninggalkan Islamabad.
Sebelumnya, Trump memang telah memerintahkan utusannya, Steve Witkoff, dan menantunya, Jared Kushner untuk melakukan perjalanan ke Pakistan.
“Kita punya semua kartu. Mereka bisa menghubungi kita kapan saja mereka mau, tetapi Anda tidak akan melakukan penerbangan 18 jam lagi hanya untuk duduk-duduk dan mengobrol tentang hal-hal yang tidak penting,” kata Trump dikutip Aljazeera, Minggu (26/4).
Ia juga mengulangi pernyataan sebelumnya bahwa kepemimpinan Iran masih belum stabil.
“Ada perselisihan dan kebingungan besar di dalam kepemimpinan mereka. Tidak ada yang tahu siapa yang bertanggung jawab, termasuk mereka sendiri,” jelasnya.
Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi bertemu pejabat Pakistan selaku mediator dan menyampaikan posisi Iran terkait penghentian perang, namun mengatakan masih harus melihat apakah AS “benar-benar serius soal diplomasi.”
Upaya diplomatik antara kedua negara masih menemui kebuntuan meski Trump telah memperpanjang gencatan senjata yang semula berakhir pada 22 April guna memberi ruang bagi negosiasi.
Kebuntuan terutama terjadi terkait Selat Hormuz, jalur strategis perdagangan energi global, setelah Iran membatasi akses sebagai respons atas serangan AS dan Israel sejak Februari.
Sementara itu, Presiden Iran Masoud Pezeshkian sebelumnya menegaskan Teheran tetap terbuka untuk negosiasi, namun menyebut pelanggaran komitmen, blokade, dan ancaman sebagai hambatan utama.
Pakistan dalam beberapa pekan terakhir terus berperan sebagai mediator utama antara Washington dan Teheran, termasuk dalam pembicaraan tingkat tinggi pada 11 April yang juga berakhir tanpa kesepakatan.





Comments are closed.