Khutbah I
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ اْلمُبِيْن. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَـمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صادِقُ الْوَعْدِ اْلأَمِيْن. أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ. اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى : لَهٗ مُعَقِّبٰتٌ مِّنْۢ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهٖ يَحْفَظُوْنَهٗ مِنْ اَمْرِ اللّٰهِۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا بِاَنْفُسِهِمْۗ وَاِذَآ اَرَادَ اللّٰهُ بِقَوْمٍ سُوْۤءًا فَلَا مَرَدَّ لَهٗۚ وَمَا لَهُمْ مِّنْ دُوْنِهٖ مِنْ وَّالٍ ١١
Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat rahimakumullah,
Alhamdulillah, pada saat ini kita masih diberi umur panjang oleh Allah sehingga bisa bertemu dengan bulan Agustus 2026 yang merupakan bulan istimewa bagi bangsa Indonesia. Pada bulan inilah bangsa kita merayakan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Bangsa Indonesia.
Kebahagiaan tersebut lebih bermakna lagi bagi kita umat Islam karena pada bulan Agustus ini bersamaan dengan bulan Rabiul Awal 1448 H yang juga istimewa. Pada bulan inilah Nabi Muhammad SAW lahir ke dunia ini sehingga bulan ini sering disebut sebagai bulan Maulid.
Momentum ini seakan mengajak kita untuk mempertemukan dua rasa syukur sekaligus yakni syukur atas nikmat kemerdekaan bangsa dan syukur atas lahirnya Rasulullah SAW sebagai rahmat bagi seluruh alam. Allah SWT berfirman:
وَمَآ أَرْسَلْنَٰكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَٰلَمِينَ
Artinya: “Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam.” (QS. Al-Anbiya: 107)
Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat rahimakumullah,
Berbicara mengenai kemerdekaan, tidak akan bisa lepas dari perjuangan. Kemerdekaan tidak diperoleh dengan mudah. Ada air mata, darah, harta, tenaga, pikiran, bahkan nyawa yang dikorbankan oleh para pejuang kita terdahulu. Karena itu, kemerdekaan bukan sekadar warisan yang kita terima, tetapi amanah yang harus kita jaga dan kita isi.
Jika generasi terdahulu berjuang melawan penjajahan fisik, maka tugas kita hari ini adalah melanjutkan perjuangan dengan melawan berbagai bentuk penjajahan baru seperti kebodohan, kemiskinan, ketidakadilan, korupsi, intoleransi, perpecahan, penyalahgunaan teknologi, serta berbagai penyakit sosial yang dapat merusak bangsa.
Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat rahimakumullah,
Tema HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia tahun 2026 adalah “Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur.” Jika kita pahami, tema ini sangat relevan dengan keteladanan Nabi Muhammad SAW. Rasulullah SAW mengajarkan kepada kita bahwa kekuasaan adalah amanah, kepemimpinan adalah tanggung jawab, dan kehidupan bermasyarakat harus dibangun di atas keadilan.
Allah SWT berfirman:
اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُكُمْ اَنْ تُؤَدُّوا الْاَمٰنٰتِ اِلٰٓى اَهْلِهَاۙ وَاِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ اَنْ تَحْكُمُوْا بِالْعَدْلِۗ اِنَّ اللّٰهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهٖۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ سَمِيْعًا ۢ بَصِيْرًا ٥٨
Artinya: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada pemiliknya. Apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia, hendaklah kamu tetapkan secara adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang paling baik kepadamu. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. An-Nisa: 58)
Maka, cita-cita Indonesia yang berdaulat, adil, dan makmur tidak cukup hanya dibangun dengan kebijakan dan pembangunan fisik. Kita juga membutuhkan manusia yang berakhlak, pemimpin yang amanah, masyarakat yang jujur, serta generasi yang memiliki kepedulian terhadap bangsa dan sesama.
Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat rahimakumullah,
Rasulullah SAW memberikan contoh luar biasa ketika membangun masyarakat Madinah. Beliau tidak hanya membangun kehidupan keagamaan, tetapi juga membangun kehidupan sosial, ekonomi, politik, dan kemanusiaan.
Masyarakat Madinah terdiri dari berbagai kelompok dan latar belakang. Namun perbedaan itu tidak menjadi alasan untuk saling bermusuhan. Rasulullah membangun kehidupan berdasarkan keadilan, kesepakatan, penghormatan, tanggung jawab bersama, dan kemaslahatan.
Ini menjadi pelajaran penting bagi bangsa Indonesia. Indonesia adalah bangsa yang besar karena keberagamannya. Kita berbeda suku, bahasa, budaya, dan agama. Tetapi kita memiliki satu tanah air, satu bangsa, dan satu cita-cita kebangsaan. Maka, persatuan Indonesia harus kita jaga sebagai bagian dari amanah kemerdekaan.
Jangan sampai perbedaan pilihan politik, perbedaan organisasi, perbedaan pandangan, atau perbedaan latar belakang membuat kita kehilangan persaudaraan. Rasulullah SAW bersabda:
المُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا
Artinya: “Seorang mukmin dengan mukmin lainnya seperti sebuah bangunan, sebagian menguatkan sebagian yang lain.” (HR Bukhari)
Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat rahimakumullah,
Pertemuan momentum perayaan HUT RI dan Maulid Nabi ini mengajarkan kepada kita siapa yang harus kita teladani dan untuk apa perjuangan dilakukan. Maulid mengajarkan akhlak. Kemerdekaan membutuhkan akhlak. Maulid mengajarkan persaudaraan. Kemerdekaan membutuhkan persatuan. Maulid mengajarkan keadilan. Kemerdekaan harus menghasilkan keadilan. Maulid mengajarkan amanah. Kemerdekaan harus diisi dengan tanggung jawab. Maulid mengajarkan pengorbanan. Kemerdekaan merupakan buah dari pengorbanan para pahlawan.
Karena itu, sangat tepat apabila momentum Maulid Nabi dan HUT Kemerdekaan tahun ini kita jadikan sebagai momentum memperkuat nasionalisme yang berlandaskan nilai-nilai agama dan memperkuat keberagamaan yang membawa kemaslahatan bagi bangsa. Penguatan ini harus terus kita wariskan kepada para generasi muda bangsa Indonesia.
Kita berharap generasi muda Indonesia tidak hanya menjadi generasi yang cerdas secara intelektual, tetapi juga kuat secara spiritual dan matang secara moral. Di tengah derasnya arus teknologi dan media sosial, kita membutuhkan generasi yang mampu membedakan antara informasi dan disinformasi, antara kritik dan penghinaan, antara kebebasan dan kebablasan.
Generasi muda harus menjadi generasi yang menjadikan akhlak Nabi Muhammad SAW sebagai pedoman dalam kehidupan nyata, termasuk dalam ruang digital dalam mengisi kemerdekaan. Inilah salah satu bentuk perjuangan kita di era kemerdekaan.
Semoga dengan mengambil keteladanan Rasulullah SAW, kita mampu mewujudkan Indonesia sebagaimana cita-cita para pendiri bangsa yakni Indonesia yang berdaulat, Indonesia yang adil, dan Indonesia yang makmur.
Semoga Allah SWT memberikan kekuatan kepada para pemimpin bangsa, para ulama, para tokoh masyarakat, para pendidik, para pemuda, dan seluruh rakyat Indonesia untuk menjaga negeri ini. Semoga Indonesia senantiasa menjadi negeri yang aman, damai, bersatu, maju, dan diberkahi Allah SWT.
اللَّهُمَّ احْفَظْ إِنْدُونِيْسِيَا، وَاجْعَلْهَا بَلَدًا آمِنًا مُطْمَئِنًّا، وَاجْعَلْ أَهْلَهَا مُتَحَابِّيْنَ مُتَعَاوِنِيْنَ عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى.
Ya Allah, jagalah Indonesia. Jadikan negeri ini negeri yang aman dan tenteram. Satukan hati rakyatnya untuk saling mencintai dan bekerja sama dalam kebaikan dan ketakwaan.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَاِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْاٰيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ اِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَيَا فَوْزَ الْمُسْتَغْفِرِيْنَ وَيَا نَجَاةَ التَّائِبِيْنَ
Khutbah II
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَنْعَمَنَا بِنِعْمَةِ الْاِيْمَانِ وَالْاِسْلَامِ. وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ خَيْرِ الْأَنَامِ. وَعَلٰى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْكِرَامِ. أَشْهَدُ اَنْ لَا اِلٰهَ اِلَّا اللهُ الْمَلِكُ الْقُدُّوْسُ السَّلَامُ وَأَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا وَحَبِيْبَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَاحِبُ الشَّرَفِ وَالْإِحْتِرَامِ
أَمَّا بَعْدُ. فَيَاأَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللّٰهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللّٰهُ تَعَالَى اِنَّ اللّٰهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَ سَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلٰى أٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ. كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ. وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فْي الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ. وَعَنْ اَصْحَابِ نَبِيِّكَ اَجْمَعِيْنَ. وَالتَّابِعِبْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ وَ تَابِعِهِمْ اِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالطَّاعُوْنَ وَالْاَمْرَاضَ وَالْفِتَنَ مَا لَا يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا اِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً.
اللّهُمَّ وَفِّقْنَا لِطَاعَتِكَ وَأَتْمِمْ تَقْصِيْرَنَا وَتَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ. رَبَّنَا اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ . وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبّ الْعَالَمِيْنَ
عِبَادَ اللّٰهِ اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ. يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللّٰهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ. وَ اشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ. وَلَذِكْرُ اللّٰهِ اَكْبَرُ
H Muhammad Faizin (Sekretaris MUI Provinsi Lampung)





Comments are closed.