Thu,20 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Perspektif
  3. Natalie Harp, Perempuan ‘Terdalam’ Trump yang Nyaris Tak Pernah Pergi

Natalie Harp, Perempuan ‘Terdalam’ Trump yang Nyaris Tak Pernah Pergi

natalie-harp,-perempuan-‘terdalam’-trump-yang-nyaris-tak-pernah-pergi
Natalie Harp, Perempuan ‘Terdalam’ Trump yang Nyaris Tak Pernah Pergi
service

Banyak orang yang bekerja di sekitar Donald Trump. Ada penasihat politik, kepala staf, pengacara, ahli kebijakan, hingga konglomerat, dan tokoh utama Partai Republik. Namun diantara deretan itu, hanya sedikit yang kehadirannya begitu konstan di sisi Trump. Dia adalah Natalie Harp.

Perempuan berusia 35 tahun itu bukan kepala staf Gedung Putih. Ia bukan pula menteri atau penasihat senior dengan portofolio kebijakan yang besar. Jabatan resminya asisten khusus presiden, yang merangkap sebagai asisten eksekutifnya Trump. Ia digaji tahunan sebesar US$150.000.

Dalam domain pandangan politik, kedekatan Harp dengan sang presiden merupakan bentuk kekuasaan. Dan ia memiliki sesuatu yang sangat dihargai: loyalitas tanpa syarat.

Bagi Trump, Harp dinilai sebagai perempuan cekatan. Ia bahkan memperoleh julukan yang terdengar sederhana, tetapi sesungguhnya menggambarkan fungsi yang jauh lebih penting: the human printer atau “printer manusia”.

Kisahnya Bermula dari Penyintas Kanker

Hubungan Harp dengan Trump bermula dari kisah yang sangat personal. Keduanya bertemu tidak melalui jejaring elite politik atau ekonomi, melainkan dari kisah seorang penyintas kanker yang hampir frustasi dengan pengobatan formal.   

Pada 2019, Harp tampil di media dan menceritakan pengalamannya sebagai penyintas kanker tulang. Ia mengatakan bahwa kebijakan Right to Try yang ditandatangani Trump pada 30 Mei 2018 itu, telah memberinya kesempatan mendapatkan pengobatan eksperimental setelah terapi yang tersedia tidak berhasil. 

Kisah tersebut membuat Trump memperhatikannya. Pada Konvensi Nasional Partai Republik 2020, Harp bahkan mendapat kesempatan berbicara di hadapan publik Amerika. Dalam pidatonya, ia menggambarkan Trump sebagai sosok yang telah memberinya kesempatan untuk bertahan hidup.

Namun, sejak awal, kisah tersebut juga menuai perdebatan. Sejumlah pakar medis mempertanyakan apakah pengobatan yang diterima Harp benar-benar merupakan hasil langsung dari undang-undang Right to Try.

Media kenamaan Amerika, The Washington Post, misalnya, melaporkan bahwa kronologi dan jenis pengobatan yang dijalani Harp dan membuat klaim bahwa kebijakan Trump secara langsung menyelamatkan hidupnya sulit dibuktikan. Namun bagi Trump, hal itu tidaklah diambil pusing. Terpenting, ia menemukan seorang pendukung yang bukan sekadar mengatakan bahwa dirinya benar.

Harp memiliki pengalaman hidup yang membuat dukungannya terhadap Trump bersifat sangat personal. Dari sinilah hubungan mereka berkembang.

Dari Layar Televisi Menuju Lingkaran Terdalam

Setelah tampil di panggung konvensi, Harp bekerja sebagai presenter di One America News Network, jaringan televisi konservatif yang sangat dekat dengan basis pendukung Trump.

Dua tahun kemudian ia meninggalkan OAN pada 2022. Setelah itu, ia semakin dekat dengan Trump yang ketika itu sedang mempersiapkan kembalinya ke Gedung Putih.

Dalam kampanye 2024, Harp mulai terlihat hampir selalu berada di sekitar Trump. Ia tidak membawa jabatan politik yang mencolok. Ia membawa sesuatu yang lebih sederhana: printer portabel, kertas, baterai, dan informasi.

Trump dikenal lebih nyaman membaca materi dalam bentuk cetak daripada harus membaca semuanya melalui layar telepon. Harp memanfaatkan kebiasaan tersebut. Ia mencetak berita, unggahan media sosial, serta berbagai informasi yang dianggap relevan dan menyerahkannya langsung kepada Trump. Dari kebiasaan ini lahirlah julukan human printer.

Tetapi julukan itu sebenarnya menutupi sesuatu yang lebih besar. Harp bukan sekadar mencetak kertas. Ia ikut menentukan informasi apa yang sampai ke tangan Trump.

Pada kampanye 2024, laporan The New York Times yang kemudian dikutip berbagai media menggambarkan Harp sebagai orang yang mengikuti Trump dengan printer portabel agar dapat segera menyediakan bahan bacaan untuknya. Dalam politik, orang yang mengendalikan akses terhadap informasi sering kali memiliki pengaruh yang jauh lebih besar daripada orang yang sekadar memegang jabatan.

Mengapa Trump begitu mempercayainya?

Kisah kedekatan Harp dengan Trump membawa alur pertanyaan umum, mengapa presiden begitu mempercayainya? Jawabannya mungkin sederhana. Harp memberikan sesuatu yang sangat sulit ditemukan dalam tradisi politik Washington, yaitu sebuah kejujuran dan kesetiaan.

Trump adalah presiden yang sangat sensitif terhadap loyalitas. Dalam dunia politiknya, orang dapat memiliki jabatan tinggi sekalipun kehilangan akses jika dianggap tidak loyal. Sebaliknya, orang yang terus menunjukkan dukungan personal dapat memperoleh tempat yang sangat dekat. Dan Harp memenuhi kriteria tersebut secara ekstrem.

Ia tidak hanya bekerja untuk Trump. Ia berada bersamanya dalam perjalanan, di acara publik, di lapangan golf, di Gedung Putih, dan dalam berbagai aktivitas politik.

Menurut laporan The Wall Street Journal, Harp kini menjadi salah satu figur yang berada sangat dekat dengan Trump, membantu mengelola komunikasi dan akun media sosialnya serta menjadi salah satu pintu masuk bagi orang-orang yang ingin berhubungan dengan presiden. Itulah yang membuat peran Harp menjadi unik. Ia berada di antara presiden dan dunia luar.

Bukan Sekadar Asisten, tetapi Penjaga Gerbang

Kekuatan Harp bukan berasal dari kewenangan formal. Ia tidak memiliki departemen. Tidak ada kementerian yang dipimpinnya. Tidak ada kebijakan besar yang secara resmi berada di bawah namanya. Kekuasaannya justru berasal dari akses.

Siapa yang bisa berbicara dengan Trump? Informasi apa yang dibaca Trump? Pesan media sosial apa yang sampai kepadanya? Materi seperti apa yang tersedia di hadapannya? Pertanyaan-pertanyaan itu membuat posisi Harp jauh lebih penting dibandingkan deskripsi pekerjaannya di atas kertas.

Sejumlah laporan bahkan menyebutnya sebagai gatekeeper—penjaga gerbang menuju Trump. The Wall Street Journal melaporkan bahwa sejumlah orang di lingkaran politik Washington melihat Harp sebagai figur yang memiliki akses luar biasa terhadap presiden.

Dalam artikel di The Daily Beast, Michael Wolff, penulis sejumlah buku tentang Trump, menggambarkan Harp sebagai figur sentral yang memiliki peran besar dalam menyaring informasi yang dibaca Trump. Harp disebut-disebut melampaui staf Gedung Putih, bahkan istri dan keluarganya sekalipun. “Nobody got between Harp and Trump. And you only got to Trump by going through Harp,” kata Wolff.

Di sinilah letak persoalan sekaligus daya tarik Harp. Ia tidak memiliki kekuasaan karena Trump memberinya kekuasaan secara formal. Ia memiliki pengaruh karena Trump membiarkannya sangat dekat.

Loyalitas yang Menjadi Kekuatan

Kedekatan Harp dengan Trump belakangan menjadi bahan perbincangan politik yang semakin besar. Sebagian pendukung Trump melihatnya sebagai contoh kesetiaan seorang staf yang rela bekerja tanpa mengenal batas waktu.

Di sisi liyan, sebagian pengkritik justru melihat kedekatan tersebut sebagai contoh bagaimana seorang presiden dapat dikelilingi orang-orang yang selalu memberikan informasi yang sesuai dengan pandangannya.

Perdebatan itu semakin tajam setelah berbagai laporan mengenai kebiasaan Harp berada sangat dekat dengan Trump serta keterlibatannya dalam komunikasi pribadi dan politik sang presiden. Namun, penting membedakan antara fakta yang terdokumentasi dan berbagai spekulasi mengenai hubungan mereka.

Yang dapat dipastikan adalah Harp merupakan pejabat resmi Gedung Putih, bekerja sebagai special assistant sekaligus executive assistant presiden, dan memiliki akses luar biasa kepada Trump. Dokumen resmi pemerintah mencatat jabatan dan gajinya. Itu sudah cukup menjadi fakta.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.