Banyak orang merasa lega ketika tidak bertemu ular saat menjelajahi hutan. Namun bagi para peneliti dan herpetolog, reaksi itu justru terbalik — ketiadaan ular di suatu kawasan hutan bukan kabar baik, melainkan sinyal peringatan. Jika satwa yang selama ini dianggap menakutkan itu tidak lagi terlihat, bisa jadi ada sesuatu yang sedang berubah di ekosistem tersebut, dan perubahannya belum tentu ke arah yang baik. Ular memegang peran penting dalam menjaga keseimbangan alam. Lebih dari itu, kehadiran atau ketiadaannya dapat menjadi penunjuk tentang sehat atau tidaknya sebuah hutan. Saat ular mulai menghilang, bisa jadi hutan sedang mengirimkan pesan yang tidak boleh diabaikan. Indonesia adalah rumah bagi lebih dari 350 spesies ular, mulai dari sanca kembang di hutan Kalimantan hingga berbagai spesies endemik yang hanya bisa ditemukan di satu pulau saja. Dalam jaring makanan, ular bekerja di beberapa lapisan sekaligus. Mereka memangsa tikus, katak, kadal, dan burung kecil, sekaligus menjadi mangsa bagi elang, biawak, dan mamalia besar. Ketika populasi ular turun, tikus dan hewan pengerat lain bisa meledak jumlahnya tanpa pengendali alami, yang berujung pada kerusakan pertanian dan potensi penyebaran zoonosis. Ular gadung (Ahaetulla prasina), salah satu ular tak berbisa yang mudah dijumpai di tepi hutan hingga taman dekat permukiman. Foto oleh Rhett A. Butler/Mongabay Penurunan populasi ular tidak hanya berdampak pada spesies yang memangsa ular, tapi juga berdampak di berbagai lapisan rantai makanan. Ada juga peran yang lebih tak terduga: ketika ular menelan hewan pengerat yang sebelumnya menyimpan biji di tubuhnya, biji-biji itu bisa keluar melalui kotoran dalam kondisi utuh, sehingga ular…This article was originally published on Mongabay
Ular mulai Hilang dari Hutan? Mungkin ini Tanda Bahaya yang Sering Diabaikan
Ular mulai Hilang dari Hutan? Mungkin ini Tanda Bahaya yang Sering Diabaikan





Comments are closed.