Wed,13 May 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Environment
  3. Ular mulai Hilang dari Hutan? Mungkin ini Tanda Bahaya yang Sering Diabaikan

Ular mulai Hilang dari Hutan? Mungkin ini Tanda Bahaya yang Sering Diabaikan

ular-mulai-hilang-dari-hutan?-mungkin-ini-tanda-bahaya-yang-sering-diabaikan
Ular mulai Hilang dari Hutan? Mungkin ini Tanda Bahaya yang Sering Diabaikan
service

Banyak orang merasa lega ketika tidak bertemu ular saat menjelajahi hutan. Namun bagi para peneliti dan herpetolog, reaksi itu justru terbalik — ketiadaan ular di suatu kawasan hutan bukan kabar baik, melainkan sinyal peringatan. Jika satwa yang selama ini dianggap menakutkan itu tidak lagi terlihat, bisa jadi ada sesuatu yang sedang berubah di ekosistem tersebut, dan perubahannya belum tentu ke arah yang baik. Ular memegang peran penting dalam menjaga keseimbangan alam. Lebih dari itu, kehadiran atau ketiadaannya dapat menjadi penunjuk tentang sehat atau tidaknya sebuah hutan. Saat ular mulai menghilang, bisa jadi hutan sedang mengirimkan pesan yang tidak boleh diabaikan. Indonesia adalah rumah bagi lebih dari 350 spesies ular, mulai dari sanca kembang di hutan Kalimantan hingga berbagai spesies endemik yang hanya bisa ditemukan di satu pulau saja. Dalam jaring makanan, ular bekerja di beberapa lapisan sekaligus. Mereka memangsa tikus, katak, kadal, dan burung kecil, sekaligus menjadi mangsa bagi elang, biawak, dan mamalia besar. Ketika populasi ular turun, tikus dan hewan pengerat lain bisa meledak jumlahnya tanpa pengendali alami, yang berujung pada kerusakan pertanian dan potensi penyebaran zoonosis. Ular gadung (Ahaetulla prasina), salah satu ular tak berbisa yang mudah dijumpai di tepi hutan hingga taman dekat permukiman. Foto oleh Rhett A. Butler/Mongabay Penurunan populasi ular tidak hanya berdampak pada spesies yang memangsa ular, tapi juga berdampak di berbagai lapisan rantai makanan. Ada juga peran yang lebih tak terduga: ketika ular menelan hewan pengerat yang sebelumnya menyimpan biji di tubuhnya, biji-biji itu bisa keluar melalui kotoran dalam kondisi utuh, sehingga ular…This article was originally published on Mongabay

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.