Andreas, warga Bantul, Yogyakarta, masih ingat kala lihat lihat anjing tetangganya jadi santapan. Caranya tidak masuk di akal, anjing itu dipaksa masuk ke karung lalu dipukuli hingga tewas. Darah rembes ke luar karung seketika setelah gonggongan berhenti. Adegan saat dia masih duduk di bangku SMP itu membuatnya bertekad tidak mau lagi mengonsumsi daging anjing. Saat SMA, dia pun paham ada risiko kesehatan tinggi pada daging anjing. “Terutama rabies, jadi saya makin bulat tidak memakannya,” katanya. Hal itu tidak mudah karena dia tinggal di lingkungan yang biasa mengonsumsi daging anjing. Alasan ‘tidak enak’ dia utarakan saat terpaksa mencicipi. “Kalau beli atau makan dengan kesadaran itu sudah tidak ada lagi.” Terakhir kali dia makan karena sungkan pada November 2024. Saat itu, temannya di Kecamatan Wonosari, Gunungkidul membeli tongseng daging anjing (sengsu). Di Yogyakarta, jumlah warung sengsu ada di tiap kabupaten dan kota tetapi jumlah jauh berkurang dalam belasan tahun, terutama di sekitar tempat tinggalnya. Cuma butuh Rp25.000 untuk beli sengsu. Baginya, uang itu lebih baik untuk beli daging olahan lain. “Kebanyakan konsumennya orang-orang tua yang masih menganggap sengsu sebagai jamu.” Pemuda 28 tahun ini bilang, mitos daging anjing sebagai jamu sebenarnya keliru. Sebab, khasiat jamu berasal dari rempah yang banyak dalam sajian sengsu, bukan dagingnya. Penggunaan rempah itu, katanya, untuk mengusir bau khas anjing. Sama seperti olahan kambing yang minim bumbu, pasti menyisakan aroma perengus. “Jadi itu hanya mitos, kalau mau jamu sekalian beli yang asli saja malah terjamin.” Selain karena mitos, masih banyak konsumsi daging anjing karena anggapan hewan itu masuk…This article was originally published on Mongabay
Upaya Setop Konsumsi Daging Anjing di Yogyakarta
Upaya Setop Konsumsi Daging Anjing di Yogyakarta





Comments are closed.