Wed,29 April 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Features
  3. Usir utusan perusahaan sawit, masyarakat adat Papua tolak rayuan

Usir utusan perusahaan sawit, masyarakat adat Papua tolak rayuan

usir-utusan-perusahaan-sawit,-masyarakat-adat-papua-tolak-rayuan
Usir utusan perusahaan sawit, masyarakat adat Papua tolak rayuan
service
Masyarakat adat Papua berusaha melestarikan hutan mereka dari penawaran perusahaan sawit yang menggoda.

23 Januari 2026 at 11:28 (Updated on 23 Januari 2026 at 12:24)

Masyarakat adat Papua berusaha melestarikan hutan mereka dari penawaran perusahaan sawit yang menggoda.

Senin pagi di pertengahan Januari 2026 kemarin, suasana di Desa Klasari, Distrik Moisegen, Kabupaten Sorong, Provinsi Papua Barat, berubah tegang saat seorang pria datang mengetuk rumah-rumah warga dan mengaku sebagai utusan perusahaan sawit. Tujuannya bukan sekadar bertamu, tetapi membujuk warga agar mau menyerahkan hutan adat mereka untuk dijadikan perkebunan kelapa sawit.

Tawaran itu disertai iming-imingi janji menggiurkan, seperti pergantian rumah layak huni, kendaraan, pendidikan, layanan kesehatan, hingga kompensasi finansial senilai Rp2 miliar. Tetapi bagi Masyarakat Adat Klagilit Maburu, apa yang ditawarkan adalah ancaman terhadap masa depan mereka sendiri.

Ambrosius Klagilit, salah seorang tokoh Masyarakat Adat Klagilit Maburu, menjelaskan mereka terpaksa mengusir pria utusan perusahaan kelapa sawit tersebut karena kesal dengan tindakannya yang terus mendekati masyarakat adat agar mau menyerahkan hutan adat untuk dijadikan perkebunan sawit.

Lebih lanjut, Ambrosius menuturkan, bagi Masyarakat Adat Klagilit Maburu hutan bukan sekadar lahan yang bisa dipertukarkan dengan materi. Hutan merupakan bagian tak terpisahkan dari identitas budaya, ruang hidup, dan warisan leluhur yang menjadi dasar kehidupan komunitas.

“Saya pernah memperingatkan pria itu agar tidak merampas hutan adat dengan menghasut masyarakat adat, karena itu akan menghancurkan kerukunan masyarakat adat yang selama ini telah berjalan baik,” tutur Ambrosius, dikutip dari laman Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN).

Penolakan yang dilontarkan bukan kali ini saja. Meski sebelumnya telah mendapat peringatan dari masyarakat adat, PT Inti Kebuh Sejahtera sebagai pihak yang ingin mengambil hutan masyarakat adat, terus mengirim utusan mereka untuk menghasut Masyarakat Adat Klagilit Maburu dengan berbagai janji manis agar mau melepaskan hutan adatnya kepada perusahaan.

Hutan adat lebih dari sekadar sumber daya

Masyarakat Adat Klagilit Maburu menyadari bahwa hutan adat bukanlah sebuah komoditas. Hutan adat merupakan ruang yang menyimpan nilai ekonomi, spiritual, sosial, dan ekologis yang saling terkait dengan masyarakat.

“Sawit bukan warisan leluhur. Sawit bagi Masyarakat Adat Papua hanya akan mewariskan darah dan air mata untuk anak cucu dan generasi akan datang. Kami tidak pernah mengizinkan hutan adat jadi perkebunan sawit. Hutan adalah mama kami, tempat hidup anak cucu kami,” tegas Ambrosius.

Penolakan warga ini juga mendapat pengakuan dari pihak yang memahami konteks sosial budaya masyarakat adat. Margi Kurniawan, seorang peneliti masyarakat adat yang pernah melakukan studi di komunitas Moi Sorong, menjelaskan sikap penolakan yang ditunjukkan oleh Masyarakat Adat Klagilit Maburu memiliki alasan kuat dan rasional karena untuk melindungi keberlanjutan kehidupan.

Hutan adat bukan sekadar soal tanah, tetapi merupakan sarana edukasi, ruang hidup, dan identitas budaya. Hutan adat bagi masyarakat di Papua menjadi sumber pangan dan bahan baku kebutuhan sehari-hari. Ketergantungan terhadap hutan adat terjalin dalam praktik sosial dan ekonomi masyarakat yang selama ini mengelola dan menjaga wilayahnya tanpa harus bergantung pada investasi eksternal. 

“Atas dasar ini, wajar saja bila Masyarakat Adat marga Klagilit Maburu menolak kehadiran perusahaan sawit di atas tanah adat mereka,” tandas Margi.

Penolakan ini juga mencerminkan kekhawatiran yang lebih luas dari masyarakat adat di Papua terhadap ekspansi perkebunan sawit di wilayah mereka yang dicanangkan oleh pemerintah. Bagi mereka, sawit bukan sekadar tanaman industri, tetapi simbol perubahan struktur pemanfaatan tanah yang dapat menghancurkan kesinambungan cara hidup mereka sendiri

Kehilangan hutan yang dijadikan perkebunan sawit berarti masyarakat kehilangan ruang hidup yang telah diwariskan oleh leluhur, serta berpotensi melemahkan hubungan sosial dan spiritual yang menjadi inti keberadaan mereka di tanah Papua.

Jurnalisme lingkungan Indonesia butuh dukungan Anda. Bantu Ekuatorial.com terus menyajikan laporan krusial tentang alam dan isu iklim.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.