Sun,19 April 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Perspektif
  3. Wisuda Ke-10, Rektor UNUGHA: Jangan Jadi Sarjana yang Mengangkasa, Jadilah Membumi

Wisuda Ke-10, Rektor UNUGHA: Jangan Jadi Sarjana yang Mengangkasa, Jadilah Membumi

wisuda-ke-10,-rektor-unugha:-jangan-jadi-sarjana-yang-mengangkasa,-jadilah-membumi
Wisuda Ke-10, Rektor UNUGHA: Jangan Jadi Sarjana yang Mengangkasa, Jadilah Membumi
service

Cilacap, Arina.id Para lulusan Universitas Nahdlatul Ulama Al Ghazali (UNUGHA) Cilacap tidak boleh hanya bersifat teoretis atau ‘mengangkasa’, melainkan harus berpijak pada realitas masyarakat. Hal itu diperlukan dalam segala kebijakan atau langkah yang diambil di masyarakat.

Hal ini disampaikan Rektor UNUGHA, A Luthfi Hamidi pada Rapat Senat Wisuda UNUGHA Cilacap Ke-10 yang berlangsung di Sentul Hall Cilacap, Jawa Tengah, Sabtu (18/4/2026).

“Sebagai sarjana, keputusan kalian tidak boleh hanya mengangkasa. Harus membumi, berpijak ke bumi, dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat luas (khairunnas anfa’uhum linnas),” ujar Rektor di hadapan 273 wisudawan yang hari itu resmi menyandang gelar Sarjana.

Rektor menggarisbawahi identitas sarjana NU yang harus memiliki kepekaan sosial yang tinggi. Sesuai dengan nama besar yang disandang universitas, Lutfi mengingatkan para lulusan untuk meneladani sosok Imam Al-Ghazali. Dia menekankan bahwa ilmu pengetahuan tidak boleh berdiri sendiri tanpa kehadiran spiritualitas.

“IImam Al-Ghazali adalah cendekiawan yang menghadirkan Allah dalam setiap pemikiran dan kebijakannya. Maka saya menuntut sarjana UNUGHA, selain menggunakan teori ilmu pengetahuan, hadirkanlah Allah dalam setiap pengambilan keputusan. Jangan hanya usaha, tapi kuatkan dengan doa,” pesan Rektor.

Momen unik terjadi saat Rektor meminta seluruh wisudawan berdiri dan meletakkan tangan kanan di dada kiri untuk melakukan ikrar komitmen. Di bawah bimbingan Rektor Lutfi, para wisudawan dengan lantang mengucapkan janji sebagai sarjana yang bangga menjadi bagian dari Nahdlatul Ulama serta bertekad menjadi berkah bagi bangsa, negara, dan dunia.

“Saya menuntut komitmen kalian. Sebagai sarjana UNUGHA, kalian adalah sarjana Nahdlatul Ulama. Kalian harus menjadi berkah bagi bangsa ini,” tegasnya.

Secara lugas, Rektor juga mengingatkan bahwa keberkahan seorang sarjana harus dimulai dari lingkaran terkecil, yaitu keluarga. Dia berseloroh namun tegas, bahwa gelar sarjana bisa saja dicabut secara moral jika seorang lulusan tidak memberikan manfaat bagi orang tua, suami, atau istrinya.

“Jika setelah ini ada laporan dari orang tua bahwa Anda tidak menjadi berkah bagi mereka, saya akan mempertimbangkan untuk mencabut kembali gelar Anda. Jadilah berkah minimal bagi orang-orang terdekat Anda,” ucapnya disambut tepuk tangan hadirin.

Tiga Point Utama Kampus Bersaing Secara Global
Koordinator Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Swasta (Kopertais) Wilayah VI Jawa Tengah, Prof Rohmadi, menekankan pentingnya standarisasi keilmuan bagi dosen di lingkungan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI). 

Dalam arahannya, Rohmadi menggarisbawahi tiga poin utama guna memacu kemajuan institusi agar mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasional.

Poin pertama yang menjadi sorotan adalah kewajiban dosen untuk memiliki kualifikasi pendidikan minimal jenjang Doktor (S3). Menurutnya, dosen yang belum menempuh studi lanjut harus segera mendaftar, sementara yang sedang menempuh studi diminta untuk fokus menyelesaikannya.

“Kalau untuk mendidik anak bangsa agar pandai, dosennya harus pokok (S3). Institusi dan program studi tidak akan mungkin maju jika dosennya tidak banyak yang Doktor,” tegasnya.

Selain kualifikasi pendidikan, Rohmadi mendorong peningkatan jabatan fungsional akademik menuju Profesor. Dia menyayangkan jika di sebuah institusi perguruan tinggi belum memiliki satu pun Guru Besar.

Ia mencontohkan keberhasilan beberapa pimpinan perguruan tinggi di bawah naungan NU lainnya di Jawa Tengah yang tahun ini berhasil meraih gelar Profesor. Menurutnya, semakin banyak Profesor di sebuah kampus, maka kualitas dan marwah institusi tersebut akan semakin kuat.

Lebih lanjut, dia meminta para dosen untuk keluar dari zona nyaman dan mulai aktif menulis di jurnal-jurnal internasional bereputasi. “Ukuran sebagai dosen adalah dari sebuah karya. Dosen jangan hanya tidur setelah mengajar, tapi harus terus berkarya dan mengisi seminar,” tegasnya.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.