Sat,25 April 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Politics
  3. Zeitenwende: Jerman Siap Perang di Greenland?

Zeitenwende: Jerman Siap Perang di Greenland?

zeitenwende:-jerman-siap-perang-di-greenland?
Zeitenwende: Jerman Siap Perang di Greenland?
service

Dengarkan artikel ini:

Audio dibuat menggunakan AI.

Istilah “Zeitenwende” pertama kali diucapkan Kanselir Jerman Olaf Scholz pada Februari 2022, tiga hari setelah Rusia menginvasi Ukraina. Kata Jerman yang berarti “titik balik era” ini menandai perubahan radikal kebijakan pertahanan Berlin: dari pasifisme pascaperang menjadi kekuatan militer yang siap bertindak. Akankah ini juga terjadi di Greenland?


PinterPolitik.com

Dalam serial Game of Thrones, ada satu kutipan terkenal: “Chaos isn’t a pit. Chaos is a ladder.” Petyr Baelish, sang master manipulator, memahami bahwa dalam kekacauan, ada peluang untuk naik. Kini, analogi itu terasa sangat nyata di panggung geopolitik dunia. Greenland—pulau es terbesar di dunia yang selama ini tampak tenang—tiba-tiba menjadi medan pertarungan baru antara kekuatan-kekuatan besar dunia. Dan yang lebih mengejutkan, pemicunya adalah Donald Trump, presiden Amerika Serikat.

Ketika Trump mengancam akan “mengambil” Greenland dengan dalih keamanan nasional, dunia tidak lagi melihat Washington sebagai pelindung tatanan liberal internasional. Sebaliknya, AS kini tampil seperti kekaisaran ekspansionis—mirip Rusia yang menganeksasi Krimea pada 2014. Bedanya, kali ini ancaman datang dari jantung NATO sendiri.

Respons Eropa pun tidak main-main: Jerman mengaktifkan kembali doktrin “Zeitenwende” (titik balik), mengirim sinyal militer ke Arktik bersama Prancis, Denmark, dan Norwegia – walaupun pengiriman tentara ke sana hanya terkesan simbolik karena jumlahnya yang hanya puluhan orang. Meski demikian, ini tetap bisa dibaca sebagai sebuah bahasa simbolik.

Yang lebih mencengangkan, Tiongkok dan Rusia—musuh tradisional Barat—kini diam-diam mendukung kedaulatan Denmark, menciptakan aliansi semu yang belum pernah terjadi sejak Perang Dingin. Apakah Greenland akan menjadi hotspot perang besar berikutnya? Dan mengapa pulau es ini tiba-tiba begitu berharga?

Eropa Bergerak: Dari Zeitenwende ke Pertahanan Arktik

Istilah “Zeitenwende” pertama kali diucapkan Kanselir Jerman Olaf Scholz pada Februari 2022, tiga hari setelah Rusia menginvasi Ukraina. Kata Jerman yang berarti “titik balik era” ini menandai perubahan radikal kebijakan pertahanan Berlin: dari pasifisme pascaperang menjadi kekuatan militer yang siap bertindak. Jerman kemudian mengalokasikan €100 miliar untuk modernisasi militernya dan meningkatkan anggaran pertahanan hingga 2% dari PDB—sesuatu yang mustahil dibayangkan dekade lalu.

Kini, Zeitenwende fase kedua sedang terjadi. Namun kali ini, ancamannya bukan dari Moskow—melainkan dari Washington.

Menurut laporan media Eropa, Jerman telah meningkatkan patroli lautnya di perairan Arktik dan berkoordinasi dengan Denmark untuk memperkuat kehadiran militer di sekitar Greenland. Prancis, yang memiliki kepentingan strategis di Arktik melalui wilayah Saint-Pierre dan Miquelon, juga mengirim kapal frigat kelas FREMM ke wilayah tersebut. Norwegia, anggota NATO yang berbatasan langsung dengan Rusia di utara, memperkuat basis militernya di Svalbard dan meningkatkan latihan perang dingin.

Langkah-langkah ini bukan sekadar simbolis. Eropa sedang mengirim pesan tegas: kedaulatan Denmark atas Greenland tidak bisa diganggu gugat, bahkan oleh sekutu terdekatnya sendiri.

Perbandingannya dengan krisis Krimea 2014 sangat mencolok. Saat itu, Rusia menganeksasi semenanjung Ukraina dengan alasan melindungi warga Rusia etnis dan kepentingan strategis Sevastopol—basis Armada Laut Hitam. Dunia Barat—dipimpin AS—mengutuk keras dan menjatuhkan sanksi berat kepada Moskow. Kini, ketika Trump menggunakan logika serupa untuk Greenland—”keamanan nasional” dan “kepentingan strategis”—Eropa merasa dikhianati. Jika AS bisa bertindak seperti Rusia, lalu apa bedanya Washington dengan Moskow?

Inilah yang membuat situasi ini begitu berbahaya. NATO, aliansi militer terkuat di dunia, kini terancam pecah dari dalam. Jerman dan Prancis mulai berbicara tentang “otonomi strategis Eropa”—eufemisme untuk mengurangi ketergantungan pada payung keamanan Amerika. Sementara itu, negara-negara Baltik dan Polandia yang selama ini sangat pro-AS mulai gelisah: jika Trump bisa mengkhianati Denmark, siapa yang menjamin dia tidak akan meninggalkan mereka saat Rusia datang?

Greenland: Harta Karun Terakhir di Dunia

Mengapa sebuah pulau es yang sebagian besar tidak berpenghuni tiba-tiba menjadi rebutan? Jawabannya sederhana: sumber daya dan geografi.

Greenland menyimpan deposit mineral langka yang diperkirakan bernilai triliunan dolar. Litium, kobalt, nikel, uranium, tanah jarang—semua elemen krusial untuk baterai kendaraan listrik, panel surya, senjata nuklir, dan teknologi canggih lainnya. Dalam era transisi energi hijau, siapa yang menguasai sumber daya ini akan menguasai ekonomi abad ke-21. Tiongkok saat ini mendominasi 70% pasokan tanah jarang global, memberi Beijing leverage geopolitik luar biasa. AS tidak ingin terus bergantung pada Beijing—dan Greenland adalah jawabannya.

Namun yang lebih strategis adalah geografi. Perubahan iklim telah mencairkan es Arktik dengan kecepatan mengkhawatirkan. Dampaknya: Jalur Laut Utara—rute pelayaran yang menghubungkan Asia dan Eropa melalui perairan utara Rusia dan Greenland—kini mulai terbuka sepanjang tahun. Rute ini memangkas jarak pelayaran hingga 40% dibanding jalur tradisional melalui Terusan Suez, menghemat waktu, bahan bakar, dan biaya hingga miliaran dolar per tahun.

Siapa yang mengontrol Greenland, mengontrol akses ke jalur perdagangan paling berharga di masa depan.

Perbandingan historis yang relevan adalah perebutan Terusan Panama pada awal abad ke-20. AS, di bawah Presiden Theodore Roosevelt, “membantu” Panama memisahkan diri dari Kolombia pada 1903, lalu segera mengambil kontrol penuh atas zona terusan. Hasilnya: Washington menguasai urat nadi perdagangan global selama hampir seabad. Trump tampaknya ingin mengulangi strategi serupa di Greenland—hanya saja kali ini, dunia sudah tidak lagi menerima imperialisme gaya abad ke-19.

AS sebagai “Preman”, Eropa-Tiongkok-Rusia sebagai Satu Kubu?

Inilah ironi terbesar dari saga Greenland: untuk pertama kalinya dalam sejarah modern, Eropa, Tiongkok, dan Rusia bisa saja akan berada di satu sisi—menghadapi Amerika Serikat.

Tentu saja, ini bukan aliansi formal. Beijing dan Moskow tidak tiba-tiba menjadi sahabat karib Brussel atau Copenhagen. Namun dalam isu Greenland, kepentingan mereka selaras: mencegah AS mendominasi Arktik secara sepihak. Tiongkok telah menginvestasikan miliaran dolar dalam proyek infrastruktur di Greenland dan menganggap dirinya sebagai “negara dekat-Arktik.” Rusia, yang memiliki garis pantai Arktik terpanjang di dunia, melihat ambisi AS sebagai ancaman langsung terhadap Jalur Laut Utara yang mereka klaim. Eropa, sementara itu, membela prinsip kedaulatan dan hukum internasional—ironisnya, prinsip yang selama ini mereka tegakkan bersama Washington.

John Mearsheimer, profesor Ilmu Politik dari Universitas Chicago dan salah satu pemikir terkemuka dalam teori Realisme Ofensif, mungkin tidak terkejut dengan perkembangan ini. Dalam bukunya “The Tragedy of Great Power Politics,” Mearsheimer berpendapat bahwa negara-negara besar selalu mengejar hegemoni regional karena satu-satunya cara untuk memastikan keamanan adalah dengan menjadi kekuatan dominan. Dalam sistem internasional yang anarkis (tanpa otoritas sentral), negara tidak bisa percaya pada niat baik negara lain—sehingga mereka harus memaksimalkan kekuatan relatif mereka.

Trump, dalam pandangan Mearsheimer, sedang menerapkan offensive realism dalam bentuk paling telanjangnya: meninggalkan retorika liberal tentang demokrasi dan hak asasi manusia, dan kembali pada kalkulasi kekuasaan murni. Masalahnya, ketika hegemon bertindak terlalu agresif, yang terjadi adalah balancing—negara-negara lain bersatu untuk menyeimbangkan ancaman. Inilah yang kita saksikan sekarang.

Namun Mearsheimer juga memperingatkan: dalam dunia multipolar yang kacau, risiko perang besar justru meningkat. Tidak ada lagi satu kekuatan dominan yang bisa memaksakan stabilitas. Sebaliknya, ada beberapa kekuatan besar yang saling mencurigai dan bersaing—kondisi yang secara historis selalu berujung pada konflik.

Greenland bisa menjadi percikan api itu. Jika AS benar-benar mencoba mengambil alih pulau tersebut—entah melalui tekanan ekonomi, kudeta terselubung, atau bahkan aksi militer—bagaimana Eropa akan merespons? Akankah NATO benar-benar bubar? Dan jika itu terjadi, apakah Tiongkok dan Rusia akan memanfaatkan kekosongan kekuasaan untuk ekspansi lebih jauh?

Tangga Kekacauan Sudah Terbentang

Seperti kata Petyr Baelish, kekacaoan adalah tangga. Trump telah menciptakan chaos di Arktik, dan kini setiap kekuatan besar dunia berebut untuk naik. Greenland bukan lagi sekadar pulau es—ini adalah simbol dari tatanan dunia yang sedang berubah. Tatanan liberal yang dipimpin AS pasca-Perang Dunia II tampak semakin rapuh. Di tempatnya, muncul dunia multipolar yang lebih berbahaya: di mana sekutu lama menjadi musuh, dan musuh bebuyutan terpaksa bekerja sama.

Zeitenwende Jerman bukan hanya tentang modernisasi militer. Ini tentang Eropa yang menyadari bahwa mereka tidak bisa lagi bergantung pada Amerika untuk keamanan mereka. Ini tentang Asia dan Rusia yang melihat peluang untuk menggeser dominasi Barat. Dan ini tentang AS yang, di bawah Trump, memilih kekuasaan telanjang di atas prinsip yang selama ini mereka khotbahkan.

Sejarah mencatat bahwa perang besar sering dimulai dari tempat-tempat yang tidak terduga. Perang Dunia I dipicu oleh pembunuhan seorang adipati di Sarajevo—kota kecil yang hampir tidak ada yang pedulikan sebelumnya. Akankah Greenland menjadi Sarajevo abad ke-21?

Seperti kata Sun Tzu dalam “The Art of War”: “In the midst of chaos, there is also opportunity.” Pertanyaannya bukan apakah chaos sudah terjadi—itu sudah jelas. Pertanyaannya adalah: siapa yang akan memanfaatkannya dengan bijak, dan siapa yang akan jatuh dari tangga itu?

Satu hal yang pasti: dunia sedang menyaksikan realignment geopolitik paling dramatis sejak berakhirnya Perang Dingin. Dan kali ini, tidak ada yang tahu bagaimana akhirnya. (S13)

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.