Baru saja berhasil menuntaskan tantangan 72 jam zero calorie. Selama tiga hari itu, saya hanya minum air putih, teh tawar, dan kopi tanpa gula. Tidak ada makanan sama sekali.
Mulainya sebenarnya gak direncanakan matang-matang. Jumat pagi saya ikut “gocapan” alias gowes cari sarapan. Menu pagi itu cukup sederhana: pecel tanpa nasi/lontong, telur, dan paru. Setelah makan sekitar jam 8 pagi, saya niatnya mau lanjut makan siang di kost sambil memanfaatkan bahan yang ada di dapur.
Tapi anehnya… kok gak lapar.
Kebetulan weekend itu saya juga gak pulang ke Bandung. Mulailah otak saya mencari aktivitas: mau gowes, jalan-jalan, atau bikin apa ya? Sampai akhirnya kepikiran, “Coba IF 72 jam aja kali ya.” Sebelumnya saya udah terbiasa IF 16:8 atau 18:6 meski tidak terlalu konsisten.
Jadi ini bukan semata-mata karena mau diet. Berat badan turun itu bonus. Yang bikin penasaran justru: gimana rasanya tubuh tidak makan selama tiga hari? Apakah bakal kuat? Atau malah tumbang duluan?
Hari Pertama: Masih Semangat
Hari Jumat aman terkendali. Saat rapat di kantor saya bahkan sempat cerita ke teman-teman kalau mau melakukan zero calorie 72 jam. Sengaja declare dulu biar makin niat dan malu kalau gagal.
Belum ada rasa lapar yang berarti. Masih merasa biasa saja.
Hari Kedua: Kepala Pening & Semua Makanan Terbayang
Sabtu pagi mulai terasa efeknya. Kepala agak pening. Saya coba minum air garam, air putih dicampur sejumput garam biasa. Ternyata sangat membantu. Peningnya hilang.
Hari itu saya minum teh tawar panas dan sekitar 2,5 liter air putih.
Lucunya, perut sebenarnya gak terasa lapar. Tapi otak mulai craving. Tiba-tiba semua makanan enak terlintas di kepala. Dari gorengan, mie ayam, sampai makanan random yang biasanya gak kepikiran.
Supaya gak fokus ke makanan, saya sibuk beres-beres rumah:
- cuci piring
- cuci baju seember besar (manual!)
- nonton Netflix
- scrolling HP
Sempat driver kantor menawarkan mau diantar jalan-jalan atau tidak. Langsung saya tolak. Takut tergoda untuk makan.
Hari Ketiga: Masih Bisa Gowes 🚴♀️
Minggu ternyata masih aman juga. Saya sempat minum kopi pahit satu gelas dan sekitar 2,5 liter air putih. Sudah gak minum air larutan garam.
Aktivitas hari itu:
- nonton Netflix
- scrolling HP
- belanja online
Sore harinya saya mencoba gowes karena penasaran masih kuat atau tidak. Targetnya sederhana: kalau badan masih enak, lanjut jalan.
Hasilnya? Hanya sanggup gowes 12 km.
Sepulang gowes saya malah mampir beli pisang kepok dan tahu. Pisangnya buat direbus besok pagi, tahunya buat bahan batagor.
Selama puasa makan ini saya tetap minum obat rutin:
- obat darah tinggi
- obat batu empedu
- obat kolesterol
- obat gatal
Malamnya sempat galau juga. Kepikiran, “Ini aman gak sih minum obat tanpa makan?” Takut perut bermasalah. Tapi alhamdulillah semuanya baik-baik saja.
Breaking the Fast
Senin pagi akhirnya momen yang ditunggu datang juga: makan
Saya memilih menu ringan dulu supaya perut gak “kaget”:
- pisang kepok kukus di campur dengan rebusan kacang hijau tawar. Rasa manisnya ya dari pisang kepok.
- susu
Dan jujur… makanan sederhana itu rasanya nikmat banget
Karena timbangan ada persis di depan pintu kamar, jadilah tiap keluar kamar selalu numpang timbang.
Hasil akhirnya: turun sekitar 3 kg.
Lumayan banget ya.
Kalau ditanya apakah mau mengulang lagi? Mungkin iya, kalau momennya pas seperti kemarin.
Saya rasa sangat mustahil melakukan ini saat weekend pulang ke Bandung. Itu jadwalnya anak jalan dan makan-makan.
Kalau dilakukan saat hari kerja penuh aktivitas juga sepertinya berat. Saya tipe orang yang gampang tergoda makan kalau lagi kumpul sama teman-teman. Biasanya saya orang pertama yang semangat bilang: “Yuk makan yuk…”
Tapi dari pengalaman ini saya jadi tahu kalau tubuh ternyata jauh lebih kuat dari yang saya kira. Dan yang paling berat ternyata bukan rasa lapar… melainkan godaan makanan yang muncul terus di kepala.






Comments are closed.