Mon,11 May 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Indonesiana
  3. Masa Tenang Surakarta: Renaisans Sastra di Era Pakubuwana VII

Masa Tenang Surakarta: Renaisans Sastra di Era Pakubuwana VII

masa-tenang-surakarta:-renaisans-sastra-di-era-pakubuwana-vii
Masa Tenang Surakarta: Renaisans Sastra di Era Pakubuwana VII
service

21 Januari 2026 19.12 WIB • 2 menit

Masa Tenang Surakarta: Renaisans Sastra di Era Pakubuwana VII


Sri Susuhunan Pakubuwana VII atau sering disingkat menjadi PB VII (28 Juli 1796 – 10 Mei 1858) adalah Susuhunan Surakarta yang memerintah dari tahun 1830-1858. Nama aslinya adalah Raden Mas Malikis Solikin yang kelak ketika dewasa bergelar KGPH. Purubaya.

Dirinya merupakan putra dari Pakubuwono IV yang lahir dari permaisuri Raden Ayu Sukaptinah alias Ratu Kencanawungu. Dia juga merupakan adik tiri dari Pakubuwana V dan paman dari Pakubuwana VI.

RMG Malikis Salikin menjalani kehidupan istana dengan rendah hati dan menjauh dari hiruk-pikuk politik dinasti. Ia memilih hidup bersahaja, banyak berpuasa, dan tekun dalam ibadah malam.

Bahkan ketika Pakubuwana V wafat dan mewariskan takhta secara lisan kepadanya, Purbaya memilih untuk mendukung keponakannya, RM Sapardan, yang kemudian naik takhta sebagai Pakubuwana VI.

Dirinya baru naik tahta menjadi PB VII (14 Juni 1830) usai keponakannya PB VI dibuang ke Ambon oleh Belanda. Ketika itu Perang Diponegoro baru saja berakhir.

Komisaris Jenderal Hindia Belanda, Leonard du Bus de Gisignies mendorong PB VII ke takhta karena melihat sosoknya yang netral. Di mata para petinggi Belanda, ia bukan simpatisan Diponegoro dan tidak pernah menunjukkan sikap bermusuhan secara terang-terangan

Bagi Belanda, pilihan ini kalkulasi politik kolonial ketimbang legitimasi adat atau urutan darah dalam keluarga raja. Walau demikian, penobatan ini tetap sah menurut struktur politik keraton, karena KGPH. Purbaya adalah anak permaisuri.

Masa-masa tenang

Masa pemerintahan Pakubuwana VII relatif damai apabila dibandingkan masa raja-raja sebelumya. Pada saat itu, bangsawan tidak ada yang memberontak secara besar-besaran seperti Pangeran Diponegoro.

Jika pun ada hanyalah pemberontakan kecil yang tidak sampai mengganggu stabilitas keraton. Salah satunya adalah Peristiwa pelarian para raden pada Agustus 1842 yang bisa diatasi secara cepat.

Karena kondisi damai ini mendorong tumbuhnya kegiatan sastra secara besar-besaran di lingkungan keraton. Gerakan sastra ini diinisiasi oleh pujangga besar Ranggawarsita.

Pakubuwana VII juga menetapkan undang-undang yang berlaku sampai ke pelosok negeri, bernama Anggèr-Anggèr Nagari. Pada masa pemerintahannya juga dirilis pranata mangsa versi Kasunanan yang dimaksudkan menjadi pedoman kerja bagi petani dan pihak-pihak terkait dengan produksi pertanian.

Pranata mangsa versi Kasunanan ini banyak dianut petani di wilayah Mataraman hingga diperkenalkannya program intensifikasi pertanian di awal 1970-an. PB VII juga sangat membenci candu sehingga menetapkan aturan khusus bagi pemakainya.

Dirinya juga membangun serambi Mesjid Agung tanggal 21 Agustus 1856. Kemudian bersama Keraton Yogyakarta memugar Masjid Demak pada tanggal 3 Juni 1842.

Wafat dengan tenang

Pada tahun 1857, PB VII menyampaikan Sabda Ratu yang menitahkan bahwa sepeninggal beliau yang menjadi raja selanjutnya adalah KGPH Hangabehi. Sedangkan KGPH Prabuwijaya (putra PB VI) diangkat menjadi putra mahkota.

Berdasarkan sabda tersebut, Susuhunan PB VII secara tidak langsung sudah menyelamatkan keraton dari bahaya perebutan tahta. Hal yang pernah dikhawatirkan oleh ayahandanya, PB IV.

Setahun kemudian pada Senin Legi 10 Mei 1858, Susuhunan PB VII meninggal dunia pada usia 63 tahun. Beliau memerintah Keraton Surakarta selama 29 tahun.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Tim Editorarrow

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.