Mon,11 May 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Indonesiana
  3. Hobbit Flores: Saat Nusantara Punya Spesies Manusia Sendiri

Hobbit Flores: Saat Nusantara Punya Spesies Manusia Sendiri

hobbit-flores:-saat-nusantara-punya-spesies-manusia-sendiri
Hobbit Flores: Saat Nusantara Punya Spesies Manusia Sendiri
service

Hobbit Flores: Saat Nusantara Punya Spesies Manusia Sendiri


Selama beberapa dekade, para ilmuwan sepakat bahwa asal-usul manusia modern dapat ditelusuri ke satu sumber: Afrika. Teori Out of Africa, yang mulai menguat pada akhir 1980-an lewat penelitian ahli genetika Rebecca Cann dan paleoantropolog Chris Stringer, menyatakan bahwa seluruh Homo sapiens berasal dari Afrika sekitar 200.000 tahun lalu. Kesimpulan ini didasarkan pada analisis DNA mitokondria yang menunjukkan seluruh garis keturunan manusia hidup berpangkal pada nenek moyang yang sama di benua itu.

Dari sana, manusia modern bermigrasi ke seluruh penjuru dunia sekitar 60.000 tahun lalu, perlahan menggantikan spesies manusia purba lain seperti Neanderthal di Eropa dan Homo erectus di Asia. Dalam gambaran ini, kepulauan Nusantara mendapat peran yang cukup sederhana: sebagai jalur lewat bagi Homo sapiens dalam perjalanan menuju Australia.

Sumber https://media.springernature.com/

info gambar

Sumber https://media.springernature.com/


Penemuan di Gua Liang Bua, Flores, pada September 2003 mengubah gambaran itu. Tim peneliti gabungan yang dipimpin Raden Pandji Soejono dari Pusat Arkeologi Nasional Indonesia dan Mike Morwood dari University of New England, Australia, menemukan kerangka hampir lengkap seorang wanita dewasa yang diberi kode LB1.

Yang membuat temuan ini menarik perhatian dunia adalah kombinasi antara usianya yang relatif muda; awalnya diperkirakan 18.000 tahun, lalu dikalibrasi ulang oleh Thomas Sutikna dan timnya pada 2016 menjadi sekitar 50.000 hingga 60.000 tahun lalu berdasarkan penanggalan ulang sedimen stratigrafi; dan ciri fisiknya yang sangat berbeda dari manusia mana pun yang pernah ditemukan sebelumnya. Tingginya hanya sekitar satu meter, dengan volume otak hanya 400 cc, ia lebih menyerupai nenek moyang manusia yang hidup jauh lebih awal daripada makhluk yang sezaman dengannya.

Indonesia, ternyata, bukan sekadar koridor migrasi. Di sini, sebuah spesies manusia terbentuk secara mandiri selama ratusan ribu tahun isolasi.

Homo Floresiensis, Manusia Purba Kerdil dari Pulau Flores. Foto nhm.ac.uk

info gambar

Homo Floresiensis, Manusia Purba Kerdil dari Pulau Flores. Foto nhm.ac.uk


Tentu saja, temuan ini tidak langsung diterima bulat-bulat. Teuku Jacob dari Universitas Gadjah Mada, salah satu paleoantropolog paling terkemuka Indonesia saat itu, berpendapat bahwa LB1 kemungkinan adalah manusia modern yang menderita mikrosefali; kelainan yang menyebabkan tengkorak berkembang jauh lebih kecil dari normal. Argumen ini cukup masuk akal sebagai hipotesis awal, mengingat ukuran otak LB1 yang luar biasa kecil.

Namun analisis morfologi oleh berbagai tim internasional; termasuk kajian proporsi tulang kaki oleh William Jungers dari Stony Brook University; menunjukkan bahwa struktur tulang LB1 secara keseluruhan, dari kaki hingga bahu, memiliki karakteristik yang jauh lebih dekat ke Australopithecus atau Homo habilis daripada Homo sapiens. Argumen mikrosefali akhirnya sulit dipertahankan, dan komunitas ilmiah internasional secara bertahap mengakui LB1 sebagai spesies tersendiri: Homo floresiensis.

Flores sebagai Tempat Evolusi Berlangsung Sendiri

Lalu dari mana datangnya Homo floresiensis? Hipotesis yang paling banyak didukung bukti saat ini adalah bahwa mereka merupakan keturunan populasi Homo erectus yang mencapai Flores jauh sebelum manusia modern ada. Alat-alat batu yang ditemukan di Cekungan Soa, bertarikh sekitar 1,02 juta tahun, dipublikasikan oleh Brumm dan rekan-rekannya dalam jurnal Nature pada 2010,  menunjukkan bahwa manusia purba sudah mampu menyeberangi laut dalam menuju Flores sejak jutaan tahun lalu. Begitu tiba, mereka terisolasi oleh perairan dalam Wallacea yang tidak pernah kering meski permukaan laut turun sekalipun. Isolasi inilah yang memberi waktu dan tekanan ekologis bagi evolusi mandiri berlangsung.

Salinan tengkorak H. floresiensis 

info gambar

Salinan tengkorak H. floresiensis “LB1” (kiri) dibandingkan dengan tengkorak manusia yang terkena mikrosefali yang pernah hidup di Pulau Kreta | Wikimedia commons


Hasil dari proses itu adalah island dwarfism. fenomena yang sudah lama dikenal pada mamalia, di mana spesies yang terisolasi di pulau dengan sumber daya terbatas cenderung mengalami penyusutan ukuran tubuh dari generasi ke generasi. Di Flores, gajah purba Stegodon juga mengalami hal yang sama. Yang menjadikan kasus Homo floresiensis istimewa adalah ini terjadi pada manusia; sesuatu yang sebelumnya belum pernah terdokumentasi dengan bukti sekuat ini.

Keberadaan Homo floresiensis hingga sekitar 50.000 hingga 60.000 tahun lalu juga membuka pertanyaan yang menarik: apakah mereka pernah bertemu dengan Homo sapiens yang mulai memasuki kawasan ini pada periode yang hampir bersamaan? Bukti langsung memang belum ada, tetapi rentang waktu yang tumpang tindih itu memberi ruang untuk kemungkinan tersebut. Sejarah hunian manusia di kepulauan Indonesia, dengan demikian, jauh lebih berlapis dari yang selama ini dibayangkan.

Ukuran Otak Kecil, Kemampuan Tidak Sederhana

Salah satu aspek yang paling banyak diperdebatkan dari penemuan ini adalah implikasinya terhadap pemahaman kita tentang kecerdasan. Dengan volume otak 400 cc; setara dengan simpanse dan sekitar sepertiga dari rata-rata manusia modern, apakah Homo floresiensis benar-benar mampu melakukan aktivitas yang membutuhkan kognisi kompleks?

Bukti arkeologis dari Liang Bua menunjukkan jawabannya tidak sesederhana yang diperkirakan. Di situs yang sama ditemukan alat-alat batu yang tergarap dengan teknik cukup teratur, sisa-sisa penggunaan api, dan tulang-tulang Stegodon yang menunjukkan tanda-tanda pemotongan; mengindikasikan perburuan atau setidaknya pengolahan hewan berukuran besar secara kolektif. Aktivitas-aktivitas ini tidak bisa dilakukan tanpa koordinasi dan perencanaan dasar.

Foto: Wikimedia commons

info gambar

Foto: Wikimedia commons

Penjelasan yang muncul dari analisis paleoneurolog Dean Falk dari Florida State University cukup menarik. Dengan menganalisis endocast; cetakan bagian dalam tengkorak LB1 yang merekam bentuk otak secara kasar, Falk dan timnya menemukan bahwa meski volumenya kecil, area lobus frontalis yang berkaitan dengan perencanaan dan inisiatif tetap berkembang secara proporsional. Temuan ini, dipublikasikan dalam jurnal Science pada 2005, juga memperlihatkan bahwa pola organisasi otak LB1 berbeda secara struktural dari otak penderita mikrosefali; semakin memperkuat argumen bahwa LB1 bukan sekadar manusia modern dengan kelainan, melainkan spesies dengan arsitektur otak yang memang berevolusi ke arah yang berbeda.

Intinya, ukuran bukan satu-satunya penentu kapasitas otak. Bagaimana otak itu terorganisasi tampaknya sama pentingnya; dan di Flores, evolusi memilih efisiensi daripada ukuran.

Apa yang Masih Menunggu di Bawah Tanah Nusantara

Penemuan Homo floresiensis memberi konteks penting bagi penelitian manusia purba di kawasan yang lebih luas. Kawasan Asia Tenggara, dan Indonesia khususnya, kini dipandang bukan sebagai daerah pinggiran dalam peta evolusi manusia, melainkan sebagai wilayah dengan dinamika sendiri yang masih banyak belum dipahami.

Di Sulawesi Selatan, misalnya, situs Leang Bulu’ Sipong 4 menghasilkan lukisan gua yang diperkirakan berusia sekitar 44.000 tahun, menggambarkan adegan perburuan dengan figur-figur yang menggabungkan ciri manusia dan hewan. Temuan Aubert dan kolega-koleganya yang terbit di Nature pada 2019 ini menempatkan Sulawesi sebagai salah satu lokasi seni cadas tertua yang diketahui, sejajar dengan situs-situs di Eropa yang selama ini lebih banyak mendapat perhatian. Di tempat lain, penelitian di Gua Togi Ndrawa di Nias dan sejumlah situs di Maluku masih berlangsung, dengan data stratigrafis yang terus dianalisis.

Kondisi geografis Nusantara, garis Wallace yang membelah zona biogeografi, aktivitas vulkanik yang terus membentuk lanskap, serta fluktuasi permukaan laut yang berulang kali mengubah konektivitas antar-pulau sepanjang sejarah. menciptakan lingkungan yang secara alami menghasilkan isolasi, adaptasi, dan keragaman biologis. Kondisi yang sama yang membentuk Homo floresiensis kemungkinan besar juga membentuk pola-pola evolusi lain yang belum ditemukan.

**

Referensi: 

1. Out of Africa — Cann, Stoneking & Wilson (1987) Cann, R., Stoneking, M. & Wilson, A. Mitochondrial DNA and human evolution. Nature 325, 31–36. 🔗 https://www.nature.com/articles/325031a0

2. Penemuan & deskripsi Homo floresiensis (2004) Brown, P. et al. A new small-bodied hominin from the Late Pleistocene of Flores, Indonesia. Nature 431, 1055–1061. 🔗 https://www.nature.com/articles/nature02999

3. Kalibrasi ulang usia LB1 — Sutikna et al. (2016) Sutikna, T., Tocheri, M. W., Morwood, M. J. et al. Revised stratigraphy and chronology for Homo floresiensis at Liang Bua in Indonesia. Nature 532, 366–369. 🔗 https://www.nature.com/articles/nature17179

4. Alat batu Cekungan Soa — Brumm et al. (2010) Brumm, A. et al. Hominins on Flores, Indonesia, by one million years ago. Nature 464, 748–752. 🔗 https://www.nature.com/articles/nature08844

5. Analisis kaki LB1 — Jungers et al. (2009) Jungers, W. L. et al. The foot of Homo floresiensis. Nature 459, 81–84. 🔗 https://www.nature.com/articles/nature07989


6. Analisis otak LB1 — Falk et al. (2005) Falk, D. et al. The Brain of LB1, Homo floresiensis. Science 308, 242–245. 🔗 https://www.science.org/doi/10.1126/science.1109727


7. Lukisan gua Leang Bulu’ Sipong 4 — Aubert et al. (2019) Aubert, M. et al. Earliest hunting scene in prehistoric art. Nature 576, 442–445. 🔗 https://www.nature.com/articles/s41586-019-1806-y


Catatan kecil: semua link menuju jurnal asli (Nature / Science). Sebagian memerlukan akses berlangganan untuk membaca full text, tapi abstrak dan metadata selalu tersedia secara gratis.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.