Hasutan penjarahan sejumlah rumah pejabat sudah tersebar sejak 29 Agustus di media sosial. Tidak ada pencegahan, semua berjalan lancar, polisi mendadak menghilang seperti yang terjadi pada 1998.
—
Jumat, 29 Agustus 2025
KERAMAIAN di sekitar stasiun Cikini tidak berkurang meski ada serentetan aksi demonstrasi berlangsung di Jakarta. Para pedagang kaki lima tetap ramai, opang tetap mangkal, begitu pula ojol ramai berseliweran.
Bahkan setelah kematian Affan Kurniawan, yang ditabrak mobil rantis polisi, tidak lantas membuat Jakarta mencekam. Banyak ojol mengantar Affan ke pemakaman, kata abang ojol yang membawa saya dari stasiun Cikini ke kantor YLBHI. Jalanan ramai, tapi tidak ada polisi.
Begitu juga perjalanan ke Mako Brimob di Kwitang yang lancar. Meski, ketika tiba di sana kondisinya ramai. Sejumlah ojol berdemonstrasi di depan gerbang Mako Brimob, memadati jalanan. Teriakan memaki polisi berkali-kali terdengar. Para ojol marah, Affan dibunuh polisi. Korps TNI Marinir yang markasnya tak jauh dari lokasi terlihat berjaga di sekitar.
Kondisi memanas ketika polisi berkali-kali menembakkan gas air mata ke arah massa. Massa bubar sebentar, lalu berkerumun lagi di depan Mako Brimob Kwitang. Begitu terus hingga sore.
Dari Kwitang, saya melaju ke Senayan. Sepanjang perjalanan masih belum terlihat polisi. Beberapa pos polisi yang saya lewati kosong. Stasiun Palmerah, yang sempat menjadi titik sweeping sehari sebelumnya, sepi. Pekerja kantoran pulang lebih siang, mengingat eskalasi demonstrasi yang semakin membesar. Di dekat pintu stasiun terlihat ada dua anggota TNI berjaga.
Di depan gerbang DPR, sekitar pukul 5 sore, massa mulai membakar ban di tengah jalan. Jalan tol S. Parman ditutup. Tidak ada pula penjagaan polisi, seperti halnya semalam. Terlihat ada beberapa polisi dan TNI jauh di dalam area DPR. Pagar dibiarkan saja tanpa pengamanan.
Hingga menjelang magrib, kondisi tak berubah. Abang ojol yang saya tumpangi untuk menuju titik kumpul liputan bilang, memang sejak pagi, ia juga tak melihat ada polisi di jalanan. Ia berasumsi mungkin mereka takut, karena kematian Affan menjadi pemicu kemarahan besar para ojol ditujukan pada polisi.
Mungkin itu sebabnya tiba-tiba polisi menghilang.
*
Rabu, 13 Mei 1998
Usai pemakaman empat mahasiswa Trisakti yang mati ditembak aparat, orang-orang beraksi di jalanan daerah Trisakti, Jakarta Barat. Aksi demonstrasi itu segera cepat menjadi kerusuhan di sekitar jalan S. Parman, lalu merembet ke beberapa lokasi.
Kondisi itu, membuat Kasdam Jaya, Brigjen Sudi Silalahi, segera meminta bantuan. Ia mengontak Pangkoops untuk mengontak para panglima komando utama di Jakarta dan di luar Jakarta untuk meminta bantuan.
“Saya langsung kendalikan bagaimana pemberangkatan Hercules ke Solo, Malang, Surabaya untuk angkut pasukan ke Jakarta hingga pada tanggal 14 sudah terkumpul 13.983 pasukan dan disusun dalam SSK-SSK,” katanya kepada Tim Gabungan Pencari Fakta, sebagaimana diterbitkan Majalah Tempo, 16 November 1998.
Pada saat yang sama, Kapolda Metro Jaya, Hamami Nata juga sudah mengaku kewalahan. Ia melapor ke Kapolri bahwa sudah tidak sanggup menghadapi amukan massa yang marah kepada polisi. Menurut polisi, setidaknya ada 22 markas polisi yang dibakar, rusak berat, dan rusak ringan.
Sesuai SK 658 Pangab, jika kepolisian sudah tidak sanggup maka akan diambil alih oleh Pangkoops untuk urusan pengamanan. Polisi ditarik mundur.
“Apabila seorang Kapolda di dalam mengendalikan wilayah dia merasa sudah tidak mampu, dengan sudah minta backup dan sebagainya, dia melaporkan kepada Kapolri dan ini sudah saya lakukan. Dan ini saya lakukan. Kapolri, ini situasi sudah begini. Saya kira satuan kita sudah turun dan harus diambil alih Pangab,” tutur Mayjen Hamami Nata, sebagaimana diterbitkan Majalah Tempo, 16 November 1998.
Di tengah kerusuhan itu, Panglima ABRI, Jenderal Wiranto justru akan bertolak ke Malang untuk kunjungan gelar pasukan pada 14 Mei. Letjen Prabowo Subianto, yang saat itu menjabat sebagai Pangkostrad juga ikut bertolak ke Malang pada 14 Mei pagi. Sementara keamanan Jakarta dan sekitarnya diserahkan pada Pangdam Jaya, Mayjen Sjafrie Sjamsoeddin.
Saat para jenderal itu berada di Malang, kondisi di Jakarta semakin tidak terkendali. Laporan Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) Kerusuhan 13-15 Mei 1998, menyebutkan ada kevakuman aparat keamanan di Jakarta. Menurut masyarakat, di sejumlah titik kerusuhan, tidak terlihat kehadiran aparat.
Sjafrie dalam sebuah wawancara dengan Tempo mengatakan bahwa ia juga kewalahan sebagaimana Hamami Nata. Namun ia tak sepakat keadaan itu disebut vakum. Menurutnya, aparat tidak kelihatan karena wilayah yang harus mereka kawal begitu luas. “Kawasan seperti permukiman tak bisa kita jaga,” kata Sjafrie, sebagai dipublikasi Majalah Tempo, 25 Mei 2003.
Tanpa penjagaan ketat aparat, kerusuhan segera meluas. Ditambah lagi dengan kehadiran kelompok provokator yang memancing keributan, memberikan tanda-tanda tertentu pada sasaran, melakukan pengrusakan awal, pembakaran, dan mendorong penjarahan.
TGPF menyebutkan kelompok ini datang dari luar, bukan merupakan warga setempat. Mereka kelompok kecil, terlatih, dan menyiapkan alat perusak hingga cairan pembakar. Mereka mengarahkan amukan massa pada kelompok etnis Tionghoa, dengan memprovokasi warga.
Amukan massa menjadi tak terkendali karena ada kelompok provokator. Kelompok ini memprovokasi massa untuk melakukan penjarahan dan pembakaran.
*
Sabtu, 30 Agustus 2025
Rizal Kobar, warga Tanjung Priok, sedari awal sudah ada feeling kalau rumah anggota DPR RI, Ahmad Sahroni bakal disatroni massa. Dua hari sebelumnya, ramai beredar alamat rumah Sahroni imbas dari pernyataannya yang bilang, “Hanya orang tolol yang ingin membubarkan DPR.”
Narasi pembubaran DPR muncul saat terkuaknya kenaikan tunjangan bagi anggota DPR. Hal yang memantik kemarahan publik di saat kepercayaan publik ke parlemen melemah, dan masyarakat juga tengah mengalami masalah ekonomi.
Rizal dan beberapa warga Tanjung Priok juga kecewa dengan pernyataan Sahroni. Sekitar pukul 1 siang, mereka berkumpul di Gelanggang Remaja Jakarta Utara lalu membentangkan spanduk bertuliskan, “Pertemuan Pemuda dan Warga Tanjung Priuk: Lebih Cerdas, Lebih Intelek, Lebih Beradab, Lebih Beretika, Lebih Berwibawa”.
“Warga minta pecat Sahroni dari DPR RI,” kata Rizal kepada Project Multatuli, September 2025.
Selain menyampaikan keresahannya, Rizal mengatakan alasan mereka berkumpul juga untuk mengantisipasi kerusuhan. Ia berkaca dari kejadian penyerangan sejak beberapa hari sebelumnya. Kala itu, sejumlah kantor-kantor polisi menjadi target penyerangan, terutama setelah kematian Affan Kurniawan.
Dari Gelanggang Remaja, Rizal dan kawan-kawannya melanjutkan aksi protes di depan rumah Sahroni. Mereka berjalan kaki dari Jl. Yos Sudarso ke Jl. Swasembada dengan waktu perjalanan sekitar 10 menit. Dalam aksi ini juga dihadiri Kasat Intelkam Polres Jakarta Utara, Kompol Timur Tri Prasetya dan anak buahnya. Mereka hadir memantau aksi yang berjalan tanpa ada huru-hara.
Begitu tiba di dekat rumah Sahroni, Kaka, salah satu orang dari rombongan Rizal, melihat gang sudah dipenuhi kerumunan orang. Rizal dan teman-temannya terus berjalan sampai depan gerbang rumah Sahroni, berorasi sebentar lalu membubarkan diri setelah diminta warga setempat.
Warga lantas menutup portal menuju rumah Sahroni. Saat itulah provokasi mulai terjadi. Kaka mendengar beberapa orang mulai berteriak untuk menjebol dan menjarah rumah Sahroni.
“Udah, jarah aja!” kata Kaka, mengulangi teriakan provokasi sejumlah orang di lokasi. Ia tak bisa memastikan siapa mereka. Tak sampai setengah jam kemudian, orang-orang sudah mulai keluar membawa barang-barang dari rumah Sahroni.
Dari kerumunan, orang tak dikenal terus memprovokasi: Bakar! Bakar!
Mendengar teriakan itu Sugeng, Ketua RW 06 Kebon Bawang, wilayah tetangga rumah Sahroni, langsung mendatangi orang tak dikenal itu. Ia menghardik si provokator dan membuatnya langsung terdiam lalu pergi.
“Akhirnya dia ketakutan juga,” ujar Sugeng.
Fragmen menarik dari fase awal penjarahan ini adalah saat kami menemukan sosok yang diduga kuat bertindak sebagai koordinator. Pria ini yang pertama kali berlari menerobos dan mendobrak portal jalan. Ia dengan berani mendorong Kasat Intelkam Polres Jakarta Utara yang mengadang di depan portal.
Pria ini bukan massa dari gelombang pertama. Ia terdeteksi berkumpul dengan massa gelombang kedua di bagian selatan Jalan Swadaya. Ia terlihat berdiri tenang, diam, dan mengamati. Seringkali ia memegang ponselnya, seperti berkomunikasi menunggu arahan.
Massa hanya bisa bertahan di luar. Sementara itu, pria ini masih berfokus pada ponselnya. Satu menit sebelum insiden pendobrakan, ia berlari ke arah kerumunan.
Gerak-geriknya juga tak seperti penjarah. Saat masa melempari rumah Sahroni, ia hanya memprovokasi massa dan merekam aktivitas pelemparan. Begitupun saat massa memasuki rumah Sahroni. Ia terlihat merekam video dan membuka ponselnya, saat orang lain sibuk menjarah barang berharga.
Menjelang malam, rumah Sahroni sudah ludes. Sebuah mobil mewah dan sejumlah perabotan rusak parah. Jam tangan mewah hingga patung Iron Man koleksinya digondol massa.
Kami tidak berhasil melacak identitasnya. Beberapa narasumber di lapangan juga tidak mengenal sosok tersebut. Seorang lainnya berhasil kami identifikasi, namun berdasarkan keterangan yang kami kumpulkan ia adalah warga yang terprovokasi.
Berdasarkan analisis video yang kami kumpulkan, setidaknya ada tiga kelompok massa yang berada di rumah Sahroni.
Kelompok pertama adalah warga setempat, kelompok kedua adalah massa dari luar kampung, dan ketiga adalah orang tak dikenal yang diduga menjadi provokator.
Sejumlah warga dan massa dari luar kampung sebagian terprovokasi untuk menjarah. Sebagian besar dari mereka telah teridentifikasi oleh kepolisian. Misalnya, beberapa warga sekitar yang ikut menjarah akhirnya teridentifikasi dan mengembalikan barang-barang berharga milik Sahroni.
Beberapa orang dari luar kampung yang tidak ikut menjarah, seperti Rizal, justru memantau situasi di lapangan. Dari pemantauan itu, mereka menemukan kelompok yang sama sekali asing dan bukan dari Priok.
Kelompok yang tidak teridentifikasi ini yang melakukan provokasi, seperti mendorong portal di gang hingga teriakan “jarah” dan “bakar.”
- Rumah Eko Patrio
Suparman, satpam di sekitar kawasan Jalan Karang Asem 1, Kuningan, Setiabudi, Jakarta Selatan, sudah menangkap sinyal buruk lebih awal. Di media sosial, ia melihat percakapan dan potongan video yang mengerahkan massa yang menjarah rumah Sahroni bergerak ke satu titik: kediaman Eko Patrio.
Benar saja, sejak pukul 7 malam, massa mulai terlihat berkumpul di Jalan Denpasar Raya. Pada momen itu massa masih menunggu di pinggir jalan: menatap ke arah akses masuk, melihat situasi, mengukur siapa yang berjaga, dan menunggu jumlah orang cukup banyak.
Kerumunan datang bertahap, dimulai dari kelompok kecil yang berdiri di pinggir jalan, lalu menerobos portal pengamanan. Kondisi ini mirip seperti terjadi di rumah Sahroni.
Banyak di antara mereka berpostur badan tegap dan kekar, memakai jaket hoodie dan masker. Dari video yang dirilis Rakyat Merdeka Online terlihat sebelum menerobos portal, massa mengerubungi seseorang tepat di depan pintu masuk Jalan Karang Asem Raya karena aktivitas mereka dipotret seseorang.
Selang beberapa menit, mereka memaksa menerobos portal. Beberapa pria berbadan tegap memprovokasi massa agar masuk dan mengabaikan satpam yang berusaha menahan pergerakan massa. Jarak dari portal depan kompleks ke rumah Eko relatif dekat, hanya 50 meter. Massa memasuki rumah Eko dan menjarah beberapa barang.
Massa gelombang kedua datang jam 10 malam, dengan jumlah lebih besar. Babinsa dan personel Kodam Jayakarta turut mengadang mereka. Negosiasi alot antara massa dan TNI terjadi.
Dari kronologi video dirilis Rayben Entertaiment ini terlihat, usai salah satu personel Babinsa berbicara melalui telepon, tak lama kemudian pihak TNI melonggarkan penjagaan karena massa yang semakin memaksa masuk.
Rumah Eko kembali dibobol. Aksi ini ditandai dengan letupan kembang api yang ditembakkan massa sebagai penanda. Kali ini, gelombang massa yang datang lebih besar, dan penjarahan berlangsung lebih intens.
- Massa Mabuk dan Kode Laser
Petruk, bukan nama sebenarnya, seorang petugas keamanan di sekitar rumah anggota DPR RI Uya Kuya, sudah mendapatkan kabar bahwa pukul 5 sore akan ada massa yang datang untuk menjarah. Namun, informasi itu ia simpan lantaran khawatir menimbulkan ketakutan. Apalagi, malam itu akan ada kegiatan warga.
Sejam kemudian, massa mulai berdatangan dengan mengendarai sepeda motor. Sebagian besar dari mereka adalah pemuda usia 20 tahunan. Beberapa di antaranya bonceng tiga, mengenakan masker dan sepatu.
Menurut petugas keamanan, sebagian besar sepeda motor yang digunakan massa menggunakan plat B dengan huruf belakang huruf S (Jakarta Selatan), K (Kota Bekasi), dan F (Kabupaten Bekasi). Justru tidak ada plat dengan akhiran huruf T yang berasal dari Jakarta Timur.
Menjelang pukul 8 malam, massa sudah berkumpul di depan rumah Uya Kuya. Semula massa sempat berkumpul di Alfamidi Teluk Mandar, tak jauh dari rumah Uya Kuya.
Dari pengamatan Petruk, ia menilai orang-orang yang datang itu seperti orang mabuk. Hal serupa juga disampaikan oleh seorang warga di lokasi kejadian. Menurutnya, orang-orang yang datang tidak sepenuhnya sadar.
Beberapa dari mereka juga mengendarai mobil. Petruk sempat menegur salah seorang massa pengendara mobil yang hendak ke rumah Uya Kuya.
Petruk mencurigai semacam ada kode untuk mulai penjarahan.
“Saya perhatikan orang itu beda sama yang jarah. Mantau terus. Soalnya bedanya gini. Aparat sama massa itu beda. Nggak tahu apakah polisi atau TNI, rambutnya cepak. Pakai topi, pakai masker. Itu ganti-gantian dia. Badan besar, tegap,” kata Petruk.
Massa yang berjumlah besar bikin pihak keamanan tidak berani menghalau. Mereka akhirnya berkompromi, massa boleh masuk ke dalam kompleks tapi dilarang melakukan pembakaran karena khawatir api akan merambat ke rumah warga lainnya.
Massa gelombang pertama merobohkan pagar rumah Uya Kuya sekitar pukul 10 malam dan mulai melakukan penjarahan. Dari sejumlah video yang direkam warga, massa terlihat mengangkut barang dengan menggunakan sepeda motor. Warga tidak bisa mengidentifikasi orang-orang yang berada dalam video itu.
Massa gelombang kedua datang sekitar pukul 11 malam, hampir bersamaan dengan beberapa polisi yang membawa pelontar gas air mata.
Salah seorang warga bercerita bahwa sejumlah massa gelombong kedua tampak hanya duduk di motor yang mereka parkir di Alfamidi. Mereka terus mengecek layar HP seolah sedang menunggu aba-aba.
Ketika polisi datang, massa penjarahan memanas dan mengeluarkan makian ke polisi. Dari arah massa, seseorang menembakkan laser ke arah polisi. Setelah itu polisi merangsek maju dan bentrok terjadi.
Informasi lain, ada sebuah flare menyala, sebelum massa bergerak ke rumah Uya Kuya.
Mereka sempat diadang polisi yang menurut warga jumlahnya tak sampai 10 anggota. Dari rekaman video warga, massa meneriaki polisi dengan kata-kata makian “Pembunuh!”, “Anjing!”, “Babi!”, dan “Serang!”. Polisi membalas makian itu dengan mengejar sejumlah orang dan menembakkan gas air mata.
Menurut seorang warga, massa gelombang kedua baru terkendali setelah aparat TNI berseragam datang. “Setelah itu, baru bisa bubar, lho. Bisa teratur,” kata seorang warga memberikan kami sejumlah rekaman video penjarahan.
Kami juga berupaya mewawancarai ketua RT dan ketua RW rumah Uya Kuya, tapi keduanya menolak dengan alasan kasus sudah diserahkan kepada polisi.
*
Rabu, 13 Mei 1998
Bambang, bukan nama sebenarnya, adalah perwira menengah ABRI. Pada 13 Mei, ia diberi tugas mengamankan kawasan Jakarta Pusat. Saat itu, ia merasa kerusuhan bakal meledak.
Dalam wawancaranya dengan Majalah Tempo yang dirilis 25 Mei 2003, Bambang bercerita ketika sedang berjaga ia menyaksikan tiba-tiba puluhan orang meloncat dari mobil pikap dan Metromini. Kelompok itu memprovokasi massa yang berkerumun di pinggir jalan.
“Mari kita jarah! Bakar toko-toko Cina!”
Bambang melihat jelas kawanan itu rata-rata berbadan tegap dan berambut cepak. Mereka memakai kaus. Ada yang membawa pentungan dan tas ransel, ada pula yang menenteng handy-talkie. “Dari cara membakar dan menggerakkan massa, mereka tampak terlatih. Saya yakin mereka aparat,” kata Bambang, sebagaimana dikutip Tempo.
Kelompok itu juga menjarah pertokoan. Kawanan orang berbadan kekar membongkar pintu pertokoan dan semakin menggila. Bambang dan anak buahnya mencoba menghentikan tapi kalah jumlah dan akhirnya mundur.
Menjelang malam, Bambang menyaksikan seorang perempuan Tionghoa ditarik ke dalam sebuah toko oleh belasan orang, dan menjerit-jerit minta tolong. “Saya yakin, wanita Cina itu diperkosa. Saya sangat syok.”
Esoknya, Bambang kembali bertugas memimpin pasukan, tapi dengan menahan marah dan bingung. “Saya tidak mengerti, mengapa saat kerusuhan pasukan hanya sedikit sekali, terutama dari Angkatan Darat dan polisi?”
Kesaksian Bambang ini selaras dengan temuan TGPF. Tidak ada pengamanan yang ketat di Jakarta membuat kerusuhan segera menjalar. Bermula dari Jakarta Barat, lalu merembet ke sejumlah lokasi lainnya, terutama pusat perbelanjaan dan daerah strategis.
Di Klender, Jakarta Timur, massa sudah berkumpul di sekitar Yogya Plaza. Sejak pagi, isu sudah menyebar bahwa pusat perbelanjaan itu akan menjadi sasaran pembakaran. Isu itu berubah menjadi kenyataan ketika puluhan pemuda berseragam SLTA melakukan perusakan. Tak lama berselang, ada rombongan pemuda yang diturunkan dari truk fuso membawa jeriken, lalu bergerak cepat membakar Yogya Plaza.
Berdasarkan catatan kejanggalan modus operandi peristiwa kerusuhan 13-15 Mei 1998, dari massa pertama pemuda berseragam SLTA sampai pembakaran, semuanya terjadi hanya dalam tempo dua jam, dari jam 11.00 hingga 13.00
Pada jam yang kurang lebih sama, penjarahan dan pembakaran terjadi di Jatinegara Plaza. Di lokasi ini, ada banyak aparat, tapi massa dengan leluasa melakukan penjarahan dan pembakaran.
Sementara itu di Citraland, Grogol, sekitar pukul 12.00-15.00, kelompok berseragam SLTA tapi berwajah tua maju di garis depan melakukan perusakan. Setelah itu disusul oleh deretan pemuda berambut cepak, berbadan kekar meneriakan yel-yel anti-Cina. Begitu perusakan dan pembakaran sudah terjadi, kedua kelompok itu segera menghilang.
TGPF dalam laporannya menyimpulkan ada pengkondisian massa untuk berkumpul di lokasi yang akan menjadi sasaran perusakan, penjarahan dan pembakaran.
Dua cara yang dipakai untuk melakukan pengkondisian massa ini adalah, pertama, penyebaran isu tentang ada aksı perusakan, penjarahan dan pembakaran di suatu lokasi. Isu itu disebarluaskan lewat telepon, sopir-sopir angkutan, dan orang per orang; kedua, ada sekelompok orang yang membakar kayu, ban-ban bekas, atau benda-benda lain disertai semacam tuduhan dan ajakan.
Selain itu, dalam mengkoordinasikan perusakan dan penjarahan, TGPF mencatat ada kelompok orang yang berperan sebagai pengajak dan/atau sekaligus pemimpin-pengarah massa agar melakukan pengrusakan, penjarahan dan pembakaran.
Massa pada umumnya berasal dari daerah sekitar lokasi kejadian. Sementara kelompok orang pengajak perusakan dan pembakaran bukan berasal dari daerah setempat, atau dari tempat yang tidak diketahui oleh warga setempat.
*
Sabtu, 30 Agustus 2025
Sejak aksi di Jakarta memanas, provokasi penjarahan mulai menjamur di media sosial. Seperti pada tragedi Mei 1998, provokasi penjarahan juga menyasar warga Tionghoa di Jakarta.
Ajakan menjarah rumah atau toko milik warga Tionghoa sebagian besar diorkestrasi akun-akun anonim. Modusnya mereka memberikan komentar pada postingan kondisi aksi dan live di platform TikTok.
“Jarah toko Chindo!”
“Boleh jarah tapi toko China”
Provokasi penjarahan ini muncul sejak 28 Agustus, dan semakin masif setelah kematian Affan. Keberadaan akun-akun ini hilang dan tidak dapat ditelusuri lagi setelah TikTok menutup fitur live pada 30 Agustus malam.
Selain narasi penjarahan, ada pula hoaks yang menyebar bahwa telah terjadi penjarahan di sejumlah toko milik warga Tionghoa. Sebuah video di TikTok menunjukkan kerusuhan di depan Mako Brimob Kwitang pada 29 Agustus, tapi dinarasikan sebagai penjarahan toko milik warga Tionghoa.
Video tersebut diverifikasi oleh CekFakta dan hasilnya adalah hoaks.
Hasutan rasis itu tidak mempan. Sejumlah influencer dan netizen mengkonter narasi tersebut. Pada saat bersamaan, sasaran penjarahan mulai bergeser ke rumah pejabat publik.
Sejak 29 Agustus, alamat pejabat publik mulai disebarkan di postingan dan kolom komentar live TikTok dan terus terjadi provokasi penjarahan rumah pejabat hingga tanggal 30 Agustus.
Sekitar pukul 5 sore, Iqbal Rezeki Awal, Ketua RT 05 sekaligus koordinator keamanan RW 10 Pondok Karya, mendapat pesan dari banyak orang terkait beredarnya alamat rumah Menteri Keuangan Sri Mulyani di media sosial dan ajakan untuk melakukan penjarahan.
Dari koordinasi dengan RW dan RT 02 yang wilayahnya mencakup rumah Sri Mulyani, akan ada bantuan keamanan dari Kementerian Keuangan. Menurut Iqbal, sudah ada koordinasi juga antara RT 02 dengan suami Sri Mulyani. Dari koordinasi itu, juga didapati informasi bahwa Koramil dalam status siaga untuk membantu pengamanan.
Keberadaan Koramil ini selaras dengan informasi yang disampaikan oleh Pemimpin Redaksi IDN Times, Uni Lubis, dalam Podcast Total Politik. Sri Mulyani sempat menelepon Menteri Pertahanan Sjafrie Syamsudin untuk meminta bantuan pengamanan di rumahnya. TNI lantas mengirimkan beberapa orang dari Koramil untuk melakukan penjagaan.
Sekitar pukul 9 malam, Ali, petugas keamanan RT 02, sudah menandai ada rombongan motor yang berkerumun di depan Taman Mandar Utama Bintaro. jumlah mereka cepat bertambah hingga ke depan Ruko Victorian, Abuba Steak, dan Richeese Factory.
“Mulai ramai orang ngumpul di depan Taman Intermedia dan depan ruko Victorian,” kata Ali.
Jam setengah 9 malam, 6 tentara dari Koramil Bintaro datang dan langsung berjaga di depan rumah Sri Mulyani. Sekitar pukul 11 malam, massa berusaha masuk ke kompleks dengan alasan akan ke SMP Negeri 13 Tangerang Selatan.
Namun, alih-alih menuju ke sekolah, rombongan itu berhenti di Pos Mandar IX, yang menjadi jalan masuk ke rumah Sri Mulyani. Mereka sempat berdiam di sana selama 5 menit, lalu diusir satpam.
Menjelang tengah malam, situasi makin ramai. Jumlah orang di depan Taman Mandar Utama dan ruko Victoria terus bertambah. Di saat bersamaan, Jayadi, rekan Ali sesama sekuriti, memperhatikan seorang anak muda mendekati pos.
“Dia muda, rapi, tinggi, pakai masker rapat. Gayanya bukan kayak anak-anak itu,” kata Jayadi kepada Project Multatuli. “Dia ngomong sopan tapi maksa mau masuk.”
Lelaki itu, yang belakangan ia sebut sebagai koordinator, berulang kali meminta izin lewat gerbang utama untuk menuju belakang kompleks. Namun Sarwono, Koordinator Keamanan RT 02, menolak dengan tegas dan meminta orang tersebut menggunakan jalan lain. Suara koordinator itu makin meninggi. Ketika perdebatan memanas, lelaki itu mundur beberapa langkah.
Lalu, massa yang nongkrong di depan taman bergerak serentak. Portal besi Pos Mandar Utama digoyang-goyang oleh massa agar bisa terbuka dan dimasuki massa.
“Saya mundur, kalau enggak bisa kena pukul,” kata Jayadi.
Pukul 01.20, massa memaksa masuk dengan memotong tali pengikat portal. Petugas keamanan memilih tidak melawan untuk menghindari bentrokan fisik, Tapi keputusan itu menjadi titik pecah. Ratusan orang menerobos masuk ke dalam kompleks Mandar Utama, sebagian membawa bambu bekas umbul-umbul bendera merah putih, kayu, dan tiang lampu jalan yang dicabut massa dari pinggir trotoar.
“Mereka terlihat muda-muda, rata-rata umur belasan sampai dua puluh tahun,” ujar Jayadi. “Begitu dapat perintah, langsung jalan bareng-bareng. Kayak ada komando.”
Berdasarkan rekaman CCTV di depan rumah Sri Mulyani yang diperoleh Project Multatuli, terlihat sekelompok orang datang pada pukul 01.28. Massa menutup wajah dengan umbul-umbul bendera berwarna merah, sebagian lainnya memakai masker dan kain penutup wajah. Mereka membawa bambu, balok kayu hingga tiang penunjuk arah yang dicabut dari pinggir jalan.
Di antara kerumunan massa itu, seorang pria mengenakan jaket ojek online terbalik tampak memberi aba-aba, mengajak massa di Pos Mandar IX untuk masuk ke dalam rumah Sri Mulyani.
Lima menit berselang, tepatnya pukul 01.33, seorang pria dengan wajah tertutup kain merah keluar dari rumah Sri Mulyani membawa dua gitar akustik. Tak lama, massa lainnya keluar membawa lukisan, monitor, sepeda, dan koper.
Di tengah kekacauan itu, ada seorang koordinator lainnya menghampiri Sarwono di tengah jalan dengan berkata, “Saya ini warga”. Sarwono menjawab dengan nada tegas, “Saya juga warga”.
Namun di tengah perdebatan, sebatang bambu menghantam punggung Sarwono. Massa mulai menyerang. Jayadi spontan menarik Sarwono ke arah pos keamanan agar tidak diamuk massa.
Penjarahan itu berlangsung cepat, hanya 5 menit, pada pukul 2 dini hari, kata Iqbal. Namun situasi di Jalan Mandar Utama belum benar-benar tenang. Ia meyakini ada massa yang akan datang lagi sehingga tim keamanan kompleks tetap bersiaga.
Aksi bakar ban dan kedatangan massa gelombang kedua membuat situasi berubah cepat. Sebagian dari mereka datang dengan wajah mabuk, mata merah, langkah gontai.
Saat Iqbal sedang bernegosiasi, tiba-tiba suara kembang api meletus ke langit malam. Ada sekitar 6 tembakan kembang api.
Ledakan itu seolah jadi sinyal.
Massa serempak merangsek ke depan. Portal Pos Mandar Utama jebol. Ratusan orang menerobos masuk, jauh melebihi jumlah petugas yang berjaga. Pada saat itu sebuah drone diterbangkan orang tak dikenal menuju pos mandar IX.
“Yang rusuh itu sebenarnya nggak banyak, cuma sebagian kecil,” kata Iqbal.
Asmat, salah satu petugas keamanan di kompleks ruko Victorian, masih ingat jelas bagaimana gelombang massa datang bergantian malam itu. Menurutnya, gelombang pertama sebenarnya tidak besar. Mereka datang cepat, lalu menghilang begitu saja.
“Awalnya ramai, terus sempat sepi lagi,” kata Asmat kepada Project Multatuli. “Tapi tiba-tiba, datang lagi yang kedua.”
Wajah-wajah mereka tertutup rapat; pakai masker, helm, dan kain bendera yang dicabut dari sepanjang jalan.
“Bendera di sini habis dicabut-cabutin buat nutup muka,” ujar Asmat.
- Jejak Mercy Merah dalam Iringan Massa

Usai menjarah rumah Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati di Mandar Utama, Bintaro, massa tak langsung bubar melainkan bergerak ke rumah politisi Nasdem lainnya, Nafa Urbach. Fulan, bukan nama sebenarnya, seorang petugas keamanan, memantau informasi di jaringan radio amatir dengan HT miliknya.
Dari pantauan itu, ia bisa mendapat informasi dari anggota keamanan di wilayah sekitar terkait pergerakan massa.
“Dari komunikasi itu, saya dengar jelas mereka nyari-nyari rumah Nafa Urbach,” katanya.
Rombongan motor berangkat dari Mandar Utama menuju Rajawali Residence Bintaro. Sekitar 50 motor berhenti di depan gerbang, berharap menemukan alamat yang dicari. Namun mereka mendapat kabar bahwa rumah Nafa di Rajawali hanyalah kontrakan lama.
“Dikonfirmasi udah enggak tinggal di situ. Rumah sewa,” kata Fulan.
Lalu massa kembali bergerak ke Emerald Bintaro, kluster perumahan yang masih berada di Sektor 9 Bintaro. Lagi-lagi massa belum menemukan rumah Nafa Urbach. Kemudian massa bergerak lagi dan berhenti di depan eks supermarket Giant, lalu bergerak lagi ke Dharmawangsa Bintaro.
Tak lama kemudian, arah massa mulai jelas. Mereka mendapat titik baru, yakni Kebayoran Residence, kawasan besar dengan sembilan kluster. Namun, massa belum tahu di kluster mana rumah Nafa Urbach berada.
Saat azan subuh, motor massa penjarah memasuki kawasan Kebayoran Residence. “Masuknya rame banget,” kata Fulan. “Ada sekitar 50 motor.”
Meteka masuk ke Jalan Kebayoran Residence, lalu putar di depan kluster Kebayoran Essence dan berhenti di depan Kebayoran Height seperti menunggu arahan.
“Mereka ngumpul di situ,” ujarnya lagi.
Tak lama, sebuah mobil sedan Mercedes Benz (Mercy) merah muncul di tengah kerumunan. Mobil itu berhenti sebentar di Kebayoran Height. Sejak mobil itu datang, motor bergerak beriringan menuju Cluster Kebayoran Essence, lokasi rumah Nafa Urbach, sekitar pukul 5 pagi.
Salah satu motor dari rombongan itu sempat menepi, menanyakan ke petugas keamanan masjid arah ke Cluster Kebayoran Essence. Nurcholis, petugas keamanan yang berjaga saat itu, hanya menjawab singkat, “Coba cek aja ke sana,” tanpa menunjukkan lokasi pasti.
Ia menduga, massa mulai terburu-buru karena langit sudah mulai terang. Tak lama berselang, motor yang sama datang lagi. Mereka datang berdua. Kali ini, pertanyaannya sama.
“Bang, Essence di mana, sih?”
“Coba cek aja sana,” jawab Nurcholis lagi.
Jarak antara kedatangan pertama dan kedua hanya sekitar 5-10 menit. Dari dekat, Nurcholis memperhatikan salah satu dari mereka bukan anak kecil, mungkin usia SMA atau baru lulus. Tak lama kemudian, massa yang membawa motor dan mobil menemukan rumah Nafa Urbach di Kebayoran Essence.
Mobil Mercy itu langsung berada di bagian depan rombongan. Seorang pria turun dan langsung meneriakkan kalimat provokasi dan memerintahkan massa masuk dengan mendobrak portal yang sudah ditutup petugas keamanan. Situasi kian tegang. Akhirnya demi mencegah kericuhan meluas, petugas keamanan terpaksa membuka portal dengan syarat tidak mengganggu rumah lain selain milik Nafa Urbach.
- Pengusaha Mebel Asal Solo
Sejumlah orang mengakui melihat mobil sedan Mercedes Benz berwarna merah di dekat lokasi penjarahan. Seorang petugas keamanan dari Patroli Kawasan Bintaro (PKB) melihat mobil sedan merah dari sekitar rumah Sri Mulyani lanjut ke rumah Nafa Urbach. Mercy itu sempat berhenti di depan Kebayoran Heights lalu menuju Kebayoran Essence, rumah Nafa Urbach.
Seorang warga bernama Remos, bukan nama sebenarnya, mengira mercy merah itu milik warga di kluster Kebayoran Residence. Tapi saat mercy itu berhenti di depan pintu gerbang Essence, ia baru sadar mobil itu datang bersama massa penjarah.
Ia sempat merekam situasi dengan ponselnya saat massa melewati salah satu kluster di Kebayoran Residence. Tapi salah satu massa yang menggunakan motor melihat dan langsung mengancam.
“’Kamera matiin, video matiin!’ Langsung gue matiin. Ada yang bawa senapan angin sama sajam. Kicep juga gue,” ungkapnya.
Setelah kejadian itu, Remos tetap mendekati lokasi massa. Ia melihat mercy merah menutup plat depan menggunakan kain untuk menutupi identitas mobil. Namun, kain itu dibuang oleh salah satu warga yang baru pulang salat subuh dari masjid. Warga itu sempat memfoto plat nomor kendaraan mercy merah.
Remos masih ingat betul platnya; AD 1 IW. Mobil tersebut terlalu mencolok bersama massa yang membawa motor.
Hal serupa diaminkan Fulan. Ia sempat merekam video saat mobil sedan itu keluar dari lokasi rumah Nafa Urbach. Fulan melihat plat kendaraan itu AD 1 IW. Sebelum mobil pergi, ia melihat orang yang naik mercy merah itu pake kaus, masker, kupluk dan topi.
Sementara itu, Komandan Regu (Danru) Kebayoran Pizza bercerita sempat berpapasan dengan mercy merah tersebut. Pasalnya, mobil tersebut lawan arah dari putaran Kebayoran Essence ke Kebayoran View.
Jayadi, sekuriti Mandar Utama, berkata mobil sedan merah itu dicari oleh tim buser (buru sergap) polisi. Beberapa orang polisi menemuinya dan menanyakan informasi soal mobil sedan merah itu.
“Entah BMW atau Mercy, pokoknya sedan merah. Kalau ambil CCTV warga luar, mungkin kebaca itu,” katanya.
Tim Project Multatuli melacak mercy merah itu hingga ke Boyolali dan Solo.
Dari informasi yang kami dapatkan, mobil ini teregistrasi beralamat di Boyolali dan dimiliki seorang bernama Kurniawan atau biasa dipanggil Iwan Kurnia. Ia dikenal pengusaha mebel di Solo. Berdasarkan data registrasi dan pembayaran pajak terakhir pada Agustus 2024, mobil ini masih terdaftar atas namanya. Iwan juga sempat mengunggah mobil ini pada akun Instagramnya.

Kami mendatangi alamat pemilik mobil dan showroom mebel di Solo, tapi tidak mendapatkan informasi apapun. Temuan kami, showroom mebel itu sudah tutup dan pindah ke alamat lain.
Kami mengkonfirmasi Kurniawan melalui sambungan telepon pada 17 Desember 2025. Namun ia tidak memberikan jawaban terkait dugaan keterlibatan dalam penjarahan dan langsung menutup telepon. Kami terus menghubungi pada hari berikutnya tapi tidak direspons.
*
Kamis, 14 Mei 1998
Pangkostrad Letjen Prabowo Subianto bersama rombongan Pangab Jenderal Wiranto mendarat di bandara Halim Perdana Kusuma pukul 12.30. Mereka mempercepat kepulangan ke Jakarta, karena mendapat kabar tentang kerusuhan yang menjalar di Jakarta. Seharusnya, rombongan dijadwalkan pulang pukul 2 siang.
“Dipercepat pulangnya karena sewaktu kami di Malang, kami dengar telepon-telepon ke Pangab di ruang VIP tentang kerusuhan di Jakarta,” kata Prabowo, seperti dipublikasi majalah Tempo, 16 November 1998.
Begitu tiba, Prabowo menuju ke Markas Kostrad dan melihat ada helikopter Pangkoops di helipad Makostrad (Markas Garnisun tidak memiliki helipad). Ia lantas bertemu dengan Mayjen Sjafrie Sjamsoeddin di Markas Garnisun, kemudian diajak terbang dengan helikopter dan menyaksikan berbagai aksi pembakaran sudah terjadi.
Setelah mendarat di Makostrad, Prabowo berangkat ke Kantor ICMI di Gedung Departemen Agama untuk menemui Ketua ICMI Ahmad Tirtosudiro, tapi Ahmad tidak ada di kantor, karena itu Prabowo kembali ke Kostrad.
Dalam perjalanan menyaksikan kerumunan yang mulai beringas di sekitar Jalan M.H. Thamrin, ia mengajak Mayjen Sjafrie Sjamsoeddin berpatroli mengecek situasi.
“Saya lihat ada 16 panser yang parkir di depan Departemen Hankam mengamankan Dephankam dan Mabes ABRI. Saya bilang, saran saya, 16 panser itu jangan nongkrong saja. Sebagian suruh patroli sepanjang Sudirman-Thamrin mencegah pembakaran,” tutur Prabowo dalam publikasi majalah Tempo, 16 November 1998.
Selama Prabowo dan Sjafrie melakukan patroli, kerusuhan terus terjadi di mana-mana, bahkan terus melebar.
Menurut catatan TGPF, paling tidak ada 24 titik perusakan dan penjarahan yang diprovokasi orang tak dikenal. Dari kerusuhan itu, sepanjang 12 Mei – 2 Juni 1998, total ada 27 orang meninggal karena senjata dan kekerasan, 1.190 orang meninggal dibakar, 91 orang luka, dan 313 orang hilang.
Saat Prabowo berpatroli bersama Sjafrie pada 14 Mei 1998, ada 101 orang diperkosa, 17 orang diperkosa dan dianiaya yang menyebabkan 7 orang mati, 6 orang diperkosa dan dibakar hingga mati, dan 8 orang mengalami pelecehan seksual hingga 1 orang mati. Total korban pada satu hari itu 132 orang, dengan 14 orang meninggal.
Sampai hari ini, tidak satu pun provokator, pelaku, hingga dalang kerusuhan diungkap apalagi dihukum.
*
Minggu, 31 Agustus 2025
Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin segera pulang dari Australia ketika kondisi di Jakarta kian memanas. Ia semula dijadwalkan berada di Australia sampai 31 Agustus lalu terbang ke China, menemani Presiden Prabowo Subianto menghadiri pawai militer di sana.
Kondisi di Jakarta pasca-kematian Affan memang kian memanas. Begitu tiba di Tanah Air, Sjafrie bertugas menemani Prabowo melayat ke rumah duka Affan pada 29 Agustus malam.
Dua hari setelahnya, Sjafrie kembali muncul ke publik dalam konferensi pers selepas sidang paripurna kabinet di Istana Merdeka. Ia diminta Prabowo untuk menyampaikan hasil sidang, ditemani Menteri Dalam Negeri, Tito Karnavian, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, Panglima TNI Jenderal Agus Subianto, dan Kepala BIN Letjen TNI (Purn.) Muhammad Herindra.
“Apabila terjadi hal-hal yang menyangkut soal keselamatan bagi pribadi maupun pemilik rumah pejabat yang mengalami penjarahan, maka petugas tidak ragu-ragu untuk mengambil tindakan tegas terhadap para pelaku kerusuhan dan penjarah yang memasuki wilayah pribadi maupun wilayah institusi negara yang memang sudah dipastikan untuk selalu dalam keadaan aman,” kata Sjafrie.
Sjafrie juga menambahkan: “Kepolisian Negara Republik Indonesia dan Tentara Nasional Indonesia akan bersikap tegas terhadap semua hal-hal yang bisa mengganggu keamanan dan ketertiban masyarakat, serta juga bisa mengganggu kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia.”
Sikap tegas ini yang tidak terjadi pada hari penjarahan. Sesudah konferensi pers, fokus penegakan hukum justru diarahkan pada warga sipil yang bersuara kritis, bukan pada para pelaku utama penjarahan. Sejumlah warga sipil yang bersuara di media sosial ditangkap setelah menyampaikan kritik dan ajakan untuk berdemonstrasi.
Catatan Kontras, dari aksi 25 Agustus dan seterusnya paling tidak ada 5.101 orang menjadi korban, 661 luka, 134 korban kekerasan, dan 4.291 korban penangkapan sewenang-wenang. Kontras juga menerima 46 laporan penangkapan paksa, dengan 34 orang di antaranya mengalami penghilangan secara paksa dalam jangka pendek.
Sejumlah nama aktivis yang ditangkap seperti Delpedro Marhaen, Muzaffar Salin, Syahdan Husein, dan Khariq Anhar. Selain mereka ada pula warga sipil yang bersuara mengkritik di media sosial juga ditangkap, salah satunya Laras Faizati. Laras baru-baru ini mendapat vonis hukuman masa percobaan 6 bulan penjara dari Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.
Muhammad Farhan Hamid dan Reno Syahputra Dewo, dua orang yang dinyatakan hilang, diduga ditemukan sudah meninggal dalam kondisi hangus terbakar di dalam gedung di Kwitang.
Dari peristiwa itu, tidak satu pun aparat yang melakukan kekerasan terhadap demonstran dijatuhi sanksi dan tidak ada otak penjarahan, provokator penjarahan di media sosial yang diungkap. Semuanya hilang tanpa jejak, persis peristiwa Mei 1998.
Reporter: Johannes Hutabarat, Permata Adinda, Reja Hidayat, dan Aryo Bhawono
Riset dan Analisis: Aqwam Fiazmi Hanifan




Comments are closed.