Tue,26 May 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Indonesiana
  3. Bukan Sekadar Pejalan Kaki: Nenek Moyang Nusantara Telah Menaklukkan Laut 70.000 Tahun Silam

Bukan Sekadar Pejalan Kaki: Nenek Moyang Nusantara Telah Menaklukkan Laut 70.000 Tahun Silam

bukan-sekadar-pejalan-kaki:-nenek-moyang-nusantara-telah-menaklukkan-laut-70.000-tahun-silam
Bukan Sekadar Pejalan Kaki: Nenek Moyang Nusantara Telah Menaklukkan Laut 70.000 Tahun Silam
service

26 Januari 2026 13.45 WIB • 2 menit

Bukan Sekadar Pejalan Kaki: Nenek Moyang Nusantara Telah Menaklukkan Laut 70.000 Tahun Silam


Kepulauan Indonesia merupakan tuan rumah bagi beberapa seni cadas (lukisan gua) tertua yang diketahui di dunia. Hal ini terbukti setelah tim peneliti menemukan cap tangan di gua batu gamping di Pulau Muna, Sulawesi Tenggara yang ditaksir berusia 67.800 tahun.

Publikasi jurnal Nature berjudul “Rock art from at least 67,800 years ago in Sulawesi” bukan saja mengungkap  usia seni cadas tertua di dunia, tetapi juga membuka pemahaman baru mengenai jalur migrasi manusia modern di kawasan Asia–Pasifik.

Adhi Agus Octavian, peneliti dari Pusat Riset Arkeometri BRIN, menegaskan bahwa posisi geografis Nusantara bukan sekadar pelengkap peta. Indonesia adalah titik strategis yang menjadi koridor utama pergerakan manusia sejak puluhan ribu tahun silam.

Dalam sejarah migrasi manusia modern awal (Early Modern Human), terdapat dua jalur utama yang melintasi wilayah ini:

1. Rute Utara: Bergerak dari Kalimantan menuju Sulawesi, lalu ke Papua hingga mencapai Australia.

2. Rute Selatan: Jalur alternatif yang juga digunakan pada periode tertentu.

Temuan di Leang Metanduno dan Lidah Air (yang berusia sekitar 70.000 tahun) memberikan validasi kuat bahwa manusia telah menetap dan beraktivitas di Nusantara jauh lebih awal dari yang diperkirakan sebelumnya.

Memecahkan Teka-Teki Migrasi Menuju Sahul

Selama bertahun-tahun, para arkeolog berdebat mengenai rute mana yang digunakan manusia untuk mencapai daratan Sahul (Australia-Papua). Prof. Maxime Aubert menjelaskan bahwa temuan seni cadas berusia 67.800 tahun ini adalah “kunci jawaban” dari perdebatan tersebut.

“Dengan temuan ini, kita tahu pasti manusia menggunakan jalur utara. Semua seni cadas kuno di Indonesia berada di jalur tersebut,” ungkap Maxime.

Pada masa itu, ketika permukaan laut jauh lebih rendah, konektivitas antar pulau tetap membutuhkan kemampuan navigasi. Hal ini membuktikan bahwa nenek moyang kita bukan hanya sekadar “pejalan kaki”, melainkan penjelajah ulung.

Sebaran Seni Cadas di Nusantara

Berdasarkan data BRIN, seni cadas ini tersebar luas dari Sumatera hingga Papua, dengan konsentrasi terbesar di wilayah Indonesia tengah dan timur. Beberapa situs bahkan telah diakui sebagai Cagar Budaya Nasional, di antaranya:

• Gua Harimau

• Leang Timpuseng

• Leang Bulu’ Sipong 4

• Leang Tedongnge

Lebih dari Sekadar Seni: Kehidupan Maritim yang Kompleks

Arkeolog maritim Shinatria Adhityatama menyoroti aspek lain dari penemuan ini. Kehadiran manusia di Sulawesi pada masa itu hanya mungkin terjadi melalui penjelajahan laut yang terencana. Ini menunjukkan bahwa manusia purba di Indonesia sudah memiliki:

• Kemampuan Navigasi: Memahami arus dan angin untuk berpindah antar pulau.

• Struktur Sosial: Kerja sama tim dalam pelayaran dan pembuatan karya seni.

• Budaya Kreatif: Selain berburu, mereka telah mengekspresikan intelektualitas melalui lukisan gua.

Kawasan Wallacea bukan sekadar jalan setapak menuju Australia, melainkan “ruang hidup” utama di mana teknologi maritim dan seni lahir secara berdampingan.

Temuan ini sekaligus memperkuat model kronologi panjang, yang menyatakan bahwa manusia telah mencapai daratan Sahul (Australia–Papua) setidaknya sekitar 65.000 tahun lalu.

Penelitian ini memberikan bukti langsung keberadaan manusia modern di jalur migrasi utara menuju Sahul, yang melibatkan penjelajahan laut antara Kalimantan (Borneo) dan Papua—sebuah wilayah yang hingga kini masih relatif kurang dieksplorasi secara arkeologis.

“Dengan penanggalan seni cadas ini, kita kini memiliki bukti paling awal keberadaan manusia modern di jalur migrasi utara menuju Sahul,” ujar Profesor Renaud Joannes-Boyau dari Southern-Cross University.

Penemuan ini menegaskan bahwa Indonesia merupakan salah satu tempat lahir tradisi penjelajahan laut manusia, di mana seni, teknologi, dan relasi manusia dengan laut telah berkembang hampir 70.000 tahun yang lalu.

“Mereka bukan sekadar pelintas,” tegas Shinatria.

“Manusia yang menghasilkan seni cadas ini hidup dalam rutinitas harian yang kompleks, melibatkan pergerakan antara pesisir, pulau-pulau kecil, dan kawasan karst. Seni, pelayaran, dan pengelolaan lingkungan merupakan satu kesatuan cara hidup.”

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Tim Editorarrow

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.