DATA BADAN Nasional Penanggulangan Bencana (BPBD) Bengkulu menunjukkan tren bencana di provinsi ini mengalami fluktuasi dalam beberapa tahun terakhir. Meski angka bencana naik-turun, banjir menjadi kejadian alam yang paling sering terjadi setiap tahun.
Sedari 1 Januari hingga 26 April 2026, ada sepuluh kejadian bencana. Dari jumlah itu, delapan di antaranya merupakan banjir. Sedangkan dua lainnya disebabkan oleh cuaca ekstrem. Meski angka ini terlihat lebih rendah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, periode pencatatan yang belum genap satu tahun membuat tren tersebut masih bersifat sementara.
Pada 2025, jumlah kejadian bencana mencapai 17 kasus. Banjir kembali mendominasi dengan 11 kejadian, disusul tanah longsor dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masing-masing 2 kejadian. Selain itu, terdapat masing-masing satu kejadian gelombang pasang dan abrasi serta gempa bumi.
Baca juga: Mengapa Bencana Banjir dan Kebakaran Hutan di Bengkulu Terus Berulang?
Sementara itu, pada 2024 tercatat 18 kejadian bencana, dengan komposisi 9 banjir, 4 tanah longsor, 3 cuaca ekstrem, serta masing-masing satu kejadian karhutla dan gempa bumi. Peristiwa tersebut menunjukkan penurunan signifikan dibandingkan 2023 yang mencatat 38 kejadian bencana. Pada tahun itu, banjir dan karhutla menjadi penyumbang terbesar dengan masing-masing 11 kejadian. Selain itu, terdapat 7 kejadian cuaca ekstrem, 6 tanah longsor, 2 kekeringan, dan 1 gempa bumi.
Jumlah kejadian bahkan lebih tinggi pada 2021 dan 2022. Tahun 2022 mencatat 44 kejadian, didominasi oleh 36 banjir, sementara pada 2021 tercatat 45 kejadian dengan rincian 25 banjir, 11 cuaca ekstrem, dan 9 tanah longsor. Pada 2020, terdapat 37 kejadian bencana yang terdiri dari 22 banjir, 8 cuaca ekstrem, 6 tanah longsor, serta 1 kejadian gelombang pasang dan abrasi. Sedangkan pada 2019, tercatat 25 kejadian dengan dominasi banjir sebanyak 15 kejadian, diikuti oleh karhutla, tanah longsor, cuaca ekstrem, dan gelombang pasang.
Konsistensi tingginya angka banjir dari tahun ke tahun menunjukkan adanya persoalan yang belum terselesaikan secara struktural di Bengkulu. Alih fungsi lahan, deforestasi, buruknya tata kelola drainase, serta krisis iklim menjadi faktor yang saling berkaitan.
Penurunan jumlah kejadian dalam beberapa tahun terakhir tidak otomatis menandakan berkurangnya risiko bencana. Tanpa perbaikan tata ruang dan mitigasi berbasis data, potensi bencana tetap tinggi, bahkan berpeluang meningkat baik dari sisi intensitas maupun dampaknya. Liputan di Bincang Perempuan dengan dukungan Tempo dan Teras.id dalam edisi “Darurat Bencana Ekologis” di Bengkulu akan menggambarkan fenomena bencana yang terjadi menahun dan minim solusi dari pemerintah untuk menyelesaikannya.(**)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel





Comments are closed.