
Hikayat Persijatim, Klub Pencetak Pemain Legendaris & Cikal Bakal Sriwijaya FC
Nama Persijatim boleh jadi asing bagi pencinta sepak bola Indonesia masa kini. Namun, ada kalanya Persijatim begitu beken dan jadi salah satu klub papan atas di negeri ini.
Jika Persijatim kurang terkenal, Kawan mungkin lebih akrab dengan nama klub Sriwijaya FC. Nah, Persijatim adalah cikal bakal berdirinya Sriwijaya FC.
Awalnya, Persijatim Jakarta Timur lahir pada era perserikatan. Tim asal ibu kota ini kemudian mulai mencuri perhatian publik secara luas saat bergulirnya kompetisi Liga Indonesia pada pertengahan tahun 1990-an.
Bermarkas di Stadion Bea Cukai, Rawamangun, Persijatim menjadi klub yang mewakili Jakarta Timur. Berkompetisi satu kasta dengan klub-klub legendaris seperti PSM Makassar, PSMS Medan, dan Persib Bandung sudah tentu jadi kebanggaan tersendiri.
Di balik kebanggaan itu, masalah finansial yang membelit. Berkompetisi di kasta tertinggi sudah tentu membutuhkan banyak uang, sementara menggaet sponsor pun sulit.
Memang, kala itu klub sepak bola masih boleh menerima kucuran uang dari pemerintah untuk operasionalnya. Hanya saja, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta lebih condong untuk mendukung Persija Jakarta yang namanya lebih mentereng.
Selain soal duit, mencari suporter juga jadi tantangan tersendiri bagi Persijatim untuk menjaga eksistensinya. Lagi-lagi, mereka kalah unggul dari Persija yang basis suporternya jauh lebih kuat dan besar.
Di tengah masalah inilah Persijatim melakukan sebuah manuver demi menyelamatkan diri: hengkang dari Jakarta Timur dan berkelana ke daerah lain.
Dari Jakarta Timur, Lahirlah Persijatim Solo FC dan Sriwijaya FC
Pada 2002, Persijatim hijrah ke Solo, Jawa Tengah. Saat itu, Solo sedang tidak punya klub elite setelah ditinggal Pelita Solo yang hijrah ke Cilegon dan berganti nama menjadi Pelita Krakatau Steel.
Kehadiran Persijatim Solo FC disambut meriah para pencinta sepak bola di Solo. Masyarakat yang awalnya mendukung Pelita Solo kini ganti memberi dukungan kepada Persijatim Solo FC yang menempati Stadion Manahan.
Kawan mungkin bertanya-tanya, di mana Persis Solo hingga masyarakat Solo malah mendukung Persijatim Solo FC? Jawabannya adalah saat itu Persis masih bermain di Divisi 1, bukan di kasta tertinggi seperti sekarang.
Di Solo, Persijatim Solo FC diperkuat oleh para pemain berbakat. Beberapa di antaranya bahkan menjadi legenda di kemudian hari, seperti Ismed Sofyan, Maman Abdurahman, juga Eka Ramdani dan Tony Sucipto.
Skuad ciamik dan dukungan banyak suporter ternyata tidak lantas membuat Persijatim Solo FC awet di Kota Bengawan. Baru dua tahun di Solo, Persijatim Solo FC kembali angkat kaki, kali ini ke Palembang, Sumatra Selatan.
Pemerintah Provinsi Sumatra Selatan membeli Persijatim Solo FC, lalu mengubah namanya menjadi Sriwijaya FC. Bukan cuma nama, logo hingga warna kebesaran klub pun turut diganti sesuai identitas khas Sumsel. Dari sanalah, Sriwijaya FC kemudian menjadi salah satu kekuatan utama sepak bola Indonesia.
Soal prestasi, Sriwijaya FC tak main-main pada tahun-tahun awal kemunculannya. Bagaimana tidak, klub berjuluk Laskar Wong Kito itu sampai pernah meraih double winners alias gelar ganda pada satu musim, yakni Liga Indonesia dan Piala Indonesia pada musim 2007-2008.
Total, Sriwijaya FC pernah dua kali juara liga, yakni pada 2007-2008 dan 2011-2012. Sementara itu untuk Piala Indonesia, mereka menjadi juara pada 2007-2008, 2008-2009, dan 2009-2010.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News
Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Aulli Atmam lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Aulli Atmam.
Tim Editor





Comments are closed.