Sat,2 May 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Opinion
  3. Menteri PPPA Dorong Anak Laki-Laki Berani Ungkapkan Perasaan untuk Jaga Kesehatan Mental

Menteri PPPA Dorong Anak Laki-Laki Berani Ungkapkan Perasaan untuk Jaga Kesehatan Mental

menteri-pppa-dorong-anak-laki-laki-berani-ungkapkan-perasaan-untuk-jaga-kesehatan-mental
Menteri PPPA Dorong Anak Laki-Laki Berani Ungkapkan Perasaan untuk Jaga Kesehatan Mental
service

Jakarta, NU Online

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifatul Choiri Fauzi mendorong anak laki-laki agar berani mengungkapkan perasaan dan keluhan yang mereka alami sebagai bagian dari upaya menjaga kesehatan mental.

“Maka salah satu inisiasi yang kami lakukan adalah memperkuat anak laki-laki untuk bisa speak up juga terhadap apa yang dia dialami,” ujarnya di Kantor Kementerian PPPA, Gambir, Jakarta, Kamis (5/2/2026).

Pernyataan tersebut disampaikan Arifah saat menanggapi kasus Y (10), siswa kelas empat Sekolah Dasar (SD) di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang mengakhiri hidup.

Arifah menegaskan bahwa anak laki-laki, sama seperti anak perempuan, membutuhkan penguatan mental dan emosional serta ruang aman untuk mengekspresikan perasaan dan mencari bantuan ketika menghadapi tekanan.

Menurutnya, anggapan bahwa anak laki-laki harus selalu tampil kuat dan tidak boleh mengeluh masih cukup kuat di tengah masyarakat.

“Anak laki-laki itu boleh loh curhat, karena sekarang anak laki-laki dipaksa harus kuat, anak laki-laki itu pokoknya tidak boleh mengeluh, anak laki-laki itu pokoknya paling hebat, itu yang muncul di budaya kita,” katanya.

Ia menilai stereotipe maskulinitas yang mengakar justru membuat banyak anak laki-laki memilih diam, enggan melapor, dan akhirnya tidak mendapatkan penanganan yang semestinya.

“Tapi kenyataannya bahwa anak laki-laki itu juga manusia, bahkan banyak kasus bahwa anak laki-laki juga mengalami kekerasan,” ucap Arifah.

Kondisi tersebut, lanjutnya, berdampak serius pada kesehatan mental anak dan berpotensi melanggengkan siklus kekerasan, baik terhadap diri sendiri maupun orang lain.

Ia menambahkan, stigma maskulinitas yang menuntut laki-laki selalu mandiri dan menahan emosi kerap menjadi beban psikologis sejak usia dini. Akibatnya, banyak persoalan pribadi dipendam sendiri dan berisiko mempengaruhi kesehatan mental serta perilaku sosial remaja.

“Kita tidak menginginkan anak-anak kita yang mungkin punya semangat luar biasa untuk bisa menempuh pendidikan, tapi karena kondisi yang mungkin belum memungkinkan sehingga dia tidak punya teman untuk berbicara, dia tidak punya saluran untuk menyampaikan keresahan yang dia alami,” pungkasnya.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.