Bincangperempuan.com– Belum lama ini, publik dikejutkan oleh kasus dugaan kekerasan seksual di industri kreatif yang menyeret nama Mohan Hazian, pemilik brand fashion Thanksinsomnia. Kasus ini ramai diperbincangkan sejak awal Februari 2026. Awalnya, cerita korban muncul lewat unggahan di platform X. Tak lama setelah itu, korban-korban lain ikut bersuara dan membagikan pengalaman serta bukti masing-masing. Beberapa kejadian bahkan disebut sudah terjadi bertahun-tahun lalu, tetapi baru sekarang berani diungkapkan ke publik.
Respons warganet begitu masif. Unggahan korban direpost, dibahas, dan diperdebatkan. Salah satu yang ikut berkomentar adalah Dr. Tirta. Ia menyoroti bahwa lingkar pertemanan atau circle pelaku—yang terdiri dari pemilik brand lokal dan influencer di skena fashion—bisa berperan sebagai enabler. Ia juga menekankan pentingnya memprioritaskan kepercayaan kepada korban dalam kasus kekerasan seksual, bukan bersikap seolah netral atau langsung membela terduga pelaku tanpa memahami situasinya secara utuh.
Lantas apa sebenarnya yang dimaksud dengan enabler dalam kasus kekerasan seksual?
Baca juga: Stop Victim Blaming! Kekerasan Seksual Terjadi Karena Relasi Kuasa
Kekerasan Seksual Bukan Hanya Soal Dua Pihak
Kebanyakan orang memandang kekerasan seksual sebagai persoalan antara dua pihak saja yaitu pelaku dan korban. Padahal, kenyataannya, situasi ini melibatkan lebih banyak orang dengan berbagai peran yang berbeda. Ada yang melihat, ada yang tahu, ada yang mendengar, tetapi memilih diam. Ada pula yang secara aktif membela pelaku.
Dalam kajian psikologi dan dinamika sosial, istilah enabler merujuk pada individu atau kelompok yang secara tidak langsung mendukung, membiarkan, atau memfasilitasi perilaku buruk agar terus berlangsung. Mereka mungkin tidak melakukan kekerasan itu sendiri, tetapi sikap dan tindakan mereka membuat pelaku merasa aman, terlindungi, atau tidak tersentuh konsekuensi.
Mengacu pada penjelasan dari Universal Class, enabler dalam konteks pelecehan dan kekerasan seksual dapat dibagi menjadi dua kategori besar: apologist dan rule bender.
Apologist: Mereka yang Membela Pelaku
Apologist adalah mereka yang tidak secara langsung melakukan kekerasan, tetapi gagal mengecamnya, meremehkannya, atau bahkan membenarkannya dengan berbagai alasan.
Apologist muncul dalam bentuk komentar seperti, “Dia orangnya emang begitu,” atau “Mungkin cuma salah paham.” Ada juga yang beralasan bahwa korban melebih-lebihkan cerita atau memiliki motif tertentu.
Fenomena ini berkaitan dengan apa yang dikenal sebagai bystander effect, yaitu kecenderungan orang untuk diam ketika melihat sesuatu yang salah karena merasa itu bukan tanggung jawabnya. Namun, dalam konteks kekerasan seksual, diam bukanlah sikap netral. Diam bisa berarti membiarkan tindakan buruk terjadi.
Apologist bisa berasal dari mana teman dekat pelaku, rekan kerja, penggemar, bahkan orang yang merasa dirinya mendukung korban kekerasan seksual. Ironisnya, sebagian dari mereka terjebak dalam mitos dan kesalahpahaman tentang kekerasan seksual, seperti anggapan bahwa korban pasti melawan jika benar-benar tidak mau, atau bahwa laporan yang muncul belakangan berarti tidak valid.
Bahaya dari apologist terletak pada narasi yang mereka bangun. Mereka sering menggunakan kata-kata untuk mengecilkan tuduhan, mengaburkan fakta, atau mengalihkan perhatian dari inti persoalan.
Rule Bender: Mereka yang Memilih Diam
Rule bender adalah orang-orang yang sebenarnya menyadari bahwa pelecehan seksual terjadi dan bahwa tindakan tersebut tidak bisa dibenarkan. Namun, di saat yang sama, mereka juga tidak sepenuhnya mengecam apa yang terjadi.
Biasanya, rule bender masih mencoba mencari alasan atau pembenaran atas kejadian tersebut. Mereka bisa saja berkata bahwa situasinya rumit, ada konteks tertentu, atau dampaknya tidak sebesar yang dibayangkan. Ada juga yang berusaha mengecilkan dampak kerugian yang dialami korban.
Sebagian rule bender mungkin memang bingung harus bersikap bagaimana. Kebingungan ini bisa muncul karena informasi yang belum lengkap atau karena pemahaman mereka tentang kekerasan seksual masih terbatas. Ada juga yang enggan langsung mengecam terduga pelaku sebelum merasa memiliki semua fakta. Mereka takut salah menilai dan khawatir ikut merugikan seseorang jika ternyata tuduhan itu keliru.
Sikap seperti ini tidak selalu secara aktif merugikan korban, tetapi juga tidak benar-benar membantu. Pada situasi yang membutuhkan keberpihakan yang jelas, posisi setengah-setengah justru bisa membuat korban tidak mendapatkan dukungan yang dibutuhkan.
Bagaimana Mengidentifikasi Enabler?
Ada beberapa pola yang kerap muncul pada enabler, baik yang berperan sebagai apologist mau pun rule bender.
Pertama, penyangkalan mentah-mentah. Tuduhan dianggap mustahil hanya karena tidak sesuai dengan citra pelaku. Apologist sering berkata bahwa kasus tersebut tidak masuk akal, atau bahkan menyangkal bahwa kekerasan seksual adalah masalah yang serius.
Kedua, victim blaming atau menyalahkan korban. Korban dipertanyakan pakaiannya, sikapnya, motifnya, bahkan waktu ia melapor. Narasi seperti “kenapa baru sekarang?” atau “kenapa dulu tidak menolak?” sering dipakai untuk meragukan kredibilitas korban.
Padahal, banyak korban tidak segera melapor karena takut, trauma, atau khawatir tidak dipercaya. Budaya menyalahkan korban inilah yang justru membuat banyak kasus tidak pernah terungkap.
Ketiga, narasi kekerasan seksual dianggap sebagai tuduhan untuk menjatuhkan reputasi dan karier pelaku. Seolah-olah semua korban bersekongkol untuk menghancurkan seseorang. Padahal, dalam banyak kasus, pelaku justru bisa bertahan bertahun-tahun tanpa konsekuensi berarti. Hukuman sosial atau profesional pun belum tentu terjadi, apalagi sampai membuat pelaku kehilangan segalanya seperti yang sering digembar-gemborkan.
Baca juga: Pentingnya Perspektif Korban dalam Kasus Kekerasan Seksual
Kenapa Penting Membahas Enabler?
Membicarakan enabler penting karena kekerasan seksual dipengaruhi ekosistem yang memungkinkan tindakan itu terus berulang. Ketika lingkungan sekitar memilih diam, menutup mata, atau membela tanpa dasar, pelaku merasa aman.
Mendukung korban bukan berarti menghakimi tanpa proses hukum. Tetapi memberi ruang aman bagi korban untuk bercerita dan tidak langsung meragukan pengalaman mereka.
Jika ingin memutus rantai kekerasan seksual, kita tidak bisa hanya fokus pada pelaku. Kita juga perlu meninjau budaya dan sikap di sekitar kita. Pernahkah kita tertawa ketika ada lelucon yang merendahkan atau bernuansa seksual? Pernahkah kita membela teman hanya karena merasa mengenalnya dengan baik? Atau memilih diam saat melihat ada hal yang tidak beres?
Sekilas mungkin terasa sepele. Namun, dari sikap-sikap kecil seperti itulah budaya yang permisif bisa tumbuh. Karena itu, menjadi bagian dari solusi berarti berani tidak menjadi enabler. Berani menegur ketika candaan sudah melewati batas. Berani mengatakan bahwa sesuatu tidak pantas. Berani tidak ikut membenarkan.
Referensi:
- Universal Class. (n.d.). How to identify the enablers of sexual harassment. https://www.universalclass.com/articles/business/how-to-identify-the-enablers-of-sexual-harassment.htm





Comments are closed.