Sat,18 April 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Opinion
  3. Imlek, Tradisi yang Selalu Kami Tunggu Walau Berangsur Hilang di Keluarga Kami

Imlek, Tradisi yang Selalu Kami Tunggu Walau Berangsur Hilang di Keluarga Kami

imlek,-tradisi-yang-selalu-kami-tunggu-walau-berangsur-hilang-di-keluarga-kami
Imlek, Tradisi yang Selalu Kami Tunggu Walau Berangsur Hilang di Keluarga Kami
service

Imlek datang hari ini. Karena tahun ini adalah tahun kuda, kita pasti melihat dekorasi kuda dimana-mana. Ornamennya selalu dipenuhi warna merah.

Beberapa dekorasi juga ada di rumah kami, dalam ornamen dan ucapan yang masih kami jaga tradisinya. Walaupun yang tertinggal hanya tradisi kecil. Gegap- gempita, kemeriahan di keluarga, tetap tak seperti dulu.

Bagi keturunan Tionghoa seperti kami, Imlek juga berarti harapan, kebahagian dan waktu bertemunya kami dengan saudara dan keluarga. Sedangkan tahun kuda berarti semangat dan kemandirian.

Kemarin waktu makan siang bareng teman di kantor, kami berempat yang perempuan semua keturunan Tionghoa ini, bicara soal tradisi Imlek di zaman dahulu dan sekarang.

Tahun baru Imlek secara tradisi dianggap sebagai hari libur besar untuk orang Tionghoa dan memiliki pengaruh pada perayaan tahun baru.

Kami semua bercerita betapa menyenangkannya Imlek waktu kami masih kecil. Malam hari kita semua berkumpul dengan keluarga besar dan makan bersama. Ternyata hidangan yang kami sajikan sama dengan keluarga Tionghoa yang lain, yaitu ikan, kerang, unggas, babi, sapi, sayur, lumpia, tanghun atau mie.

Menurut tradisi yang diceritakan oleh kakek dan nenek kami, kenapa harus ada kerang, supaya rezeki nya terbuka dan berlimpah. Ikan utuh menandakan agar setiap tahun ada kelimpahan, sedangkan bebek melambangkan kesuksesan, keharmonisan, dan keberuntungan. Lumpia melambangkan keberuntungan dan kekayaan.

Kue yang disajikan juga beragam, ada kue tok, kue mangkok dan tentu kue keranjang. Dulu, kita bercerita sambil membayangkan makanan yang berbeda.

Baca Juga: Bagi Kami, Imlek Bukan Hanya Tahun Baru, Tapi Momen Dekat dengan Keluarga

Kata temanku Gio, sayangnya, banyak tradisi yang saat ini sudah tidak berjalan karena banyak orangtua yang sudah meninggal.

“Sekarang orang sudah malas masak dan para orang tua sudah banyak yang meninggal jadi tradisi sudah nggak jalan.”

“Tidak hanya itu sih. Generasi kita kurang telaten masak dan lebih banyak memilih membeli makanan yang praktis, apalagi sekarang banyak resto yang menjual set menu perayaan imlek,” sahut Michelle

“Iya, aku masih ingat emak, mamaku, ie-ie dan semua perempuan masak dari subuh sampai hampir sore. Ngeliatnya aja sudah capek, aku cuma bagian incip!,” kata Gio

“Iya tapi rasanya kangen masakan rumah, trus kumpul keluarga sendiri nggak bercampur orang lain, lebih menyenangkan!,” jawabku

“Iya sih, aku kangen makan kue tok!,” sahut Michelle

Imlek sejatinya bukan berlandaskan agama tertentu dalam merayakannya. Imlek tak berdasar agama, tapi tradisi.

“Tapi ada loh yang nggak mau merayakan Imlek, katanya aku Kristen tidak merayakan imlek! Padahal perayaan Imlek itu khan bukan soal agama, tapi pergantihan tahun penanggalan China dan tradisi,” kata Fang-fang, temanku satunya lagi.

Tradisi itu ternyata menyimpan kenangan di hati kami.

Baca Juga: Imlek dan Kue yang Menyatukan Kami

“Aku merasa beruntung pernah merasakan perayaan Imlek di masa lalu, yang kasihan generasi sekarang yang tidak merasakan serunya perayaan Imlek!.”

Lalu kami bercerita tentang bagaimana berburu angpau, senang bila mempunyai keluarga besar dari Papa atau Mama, yang berarti angpau nya makin banyak. Pagi-pagi sudah bangun dan memakai baju baru berwarna merah terang, lalu berkumpul semua keluarga. Saling mengucapkan Gong Xi Fat Choi.

Perayaan Imlek sebenarnya bukan soal agama tetapi bagaimana keturunan Tionghoa menjalakan tradisi yang diajarkan secara turun temurun. Biasanya bila kita makan malam akan diceritai kenapa kita harus makan, ikan, makan kerrang, makan bebek sehingga kita tahu maknanya. Dengan harapan cerita dan tradisi ini akan diteruskan ke anak cucu.

Paginya kita akan berkumpul di rumah engkong (kakek). Seperti yang aku tulis tahun lalu di Konde.co, kebetulan engkong dari mama adalah salah satu pendiri Klenteng Kampung Dukuh. Masih melekat dalam ingatanku, rumah engkong penuh dengan kiriman bunga segar dari kenalannya. Kiriman Kue tart juga berlimpah. Aku sering menghitung berapa kotak kue tart yang didapat, pernah sampai dapat 50 kue tart. Karena tidak mungkin bisa menghabiskan semua, maka kami kemudian bagikan kepada tetangga. Aroma wangi bunga memenuhi ruangan dan sangat menyenangkan. 

Engkong dan emak sudah siap duduk. Papa dan mama melakukan pai-kui (memberi hormat dengan berlutut dan kepala menyentuh lantai, seperti sungkem mencium kaki) kepada engkong dan emak. Tapi saat ini jarang sekali orang melakukannya. Lalu mulailah pembagian angpao buat para cucu, anak-anak yang belum menikah dan bekerja.

Setiap tahun baru Imlek, engkong selalu mengeluarkan XO dan membagikan sloki kepada semua cucunya dan diberi sedikit untuk diminum. Lalu kami melakukan foto bersama. Mama dan saudara perempuannya suka sekali foto, hampir setiap tahun selalu melakukan foto bersama. 

Baca Juga: Perempuan dan Perayaan Imlek

Sayang zaman dulu tidak ada media sosial yang bisa upload foto dan menyimpannya. Banyak foto lama yang rusak karena usia atau kena banjir. 

Setelah itu kami mengunjungi sanak keluarga yang lebih tua. Kami yang anak-anak senang sekali itu tandanya akan dapat tambahan angpao. 

Begitu pula ketika hari Imlek, kitab bisa memberikan “pai” atau “soja”, saat itu kedua tangan seperti mengepal di depan dada, itupun ada aturannya dan tingkatannya, antara perempuan dan laki-laki atau siapa yang lebih tua. Tetapi anak sekarang bisa melihat aturan itu di media social seperti banyak bertebaran di IG atau Tik Tok.

Aku sering beradu pendapatan angpao dengan sepupuku, tentu saja aku yang menang karena keluarga papa banyak dan semua selalu memberikan angpao.

Binus.ac.id merangkum sejarah Imlek berakar dari tradisi masyarakat Tiongkok kuno yang menggunakan kalender lunar untuk menandai pergantian tahun. Perayaan ini telah berlangsung selama ribuan tahun dan awalnya berkaitan erat dengan siklus pertanian. Imlek menjadi momen penting untuk mengucap rasa syukur atas hasil panen serta memanjatkan harapan akan keberuntungan dan kehidupan yang lebih baik di tahun baru.

Tradisi seperti makan malam bersama keluarga, memberi angpao, dan menghormati leluhur menjadi bagian utama dari perayaan ini.

Di Indonesia, Imlek memiliki perjalanan sejarah yang unik. Setelah sempat dibatasi dalam periode tertentu, Imlek kembali diakui secara resmi dan ditetapkan sebagai hari libur nasional sejak tahun 2003. Sejak itu, perayaan Imlek semakin terbuka dan inklusif, dirayakan oleh berbagai lapisan masyarakat.

Dalam kajian intercultural communication, budaya dipandang sebagai sistem makna yang dikomunikasikan melalui simbol, nilai, dan kebiasaan. Imlek menjadi contoh nyata bagaimana simbol budaya dapat dipahami dan diterima lintas budaya.

Baca Juga: Rujak Pare Sambal Kecombrang, Upaya Melawan Lupa Tragedi Kekerasan Seksual Mei 1998

Warna merah, misalnya, tidak sekadar dekorasi, tetapi menyampaikan pesan tentang keberuntungan dan kebahagiaan. Angpao bukan hanya pemberian uang, melainkan simbol doa dan harapan baik. Ketika simbol-simbol ini dibagikan melalui media sosial atau digunakan dalam ruang publik, maknanya ikut tersebar dan dipahami oleh audiens yang lebih luas.

Edward T. Hall menyebut budaya seperti ini sebagai high-context culture, di mana pesan tidak selalu disampaikan secara langsung, melainkan melalui konteks dan simbol. Melalui Imlek, masyarakat dari latar belakang berbeda belajar memahami pesan budaya tanpa harus memiliki pengalaman budaya yang sama.

Kembali ke tradisi, sekarang Imlek dirayakan di jalan, pertokoan, ada hari liburnya, ini menunjukkan pertukaran budaya yang sudah terjadi.

Walaupun di keluarga kami, ada yang berkurang, yaitu ketika para orang tua kami sudah meninggal, kebiasaan mulai banyak yang hilang. Mengucapkan Tahun baru imlek lebih banyak kami lakukan lewat WhatsApp, kadang video call dan angpao yang ditransfer. Tidak lagi ada aroma wangi bunga yang semerbak satu rumah, kue tart yang berlimpah. 

Zaman memang berubah, banyak keluarga yang mulai meninggalkan ritual yang biasa dilakukan ketika tahun baru Imlek. Tetapi sekarang tahun baru Imlek bisa dirasakan semua orang.

(Editor: Luviana Ariyanti)

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.