Thu,30 April 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Lentera
  3. Puasa: Keluar dari Permainan Dunia

Puasa: Keluar dari Permainan Dunia

puasa:-keluar-dari-permainan-dunia
Puasa: Keluar dari Permainan Dunia
service

Allah mengingatkan: “Innamal-ḥayātud-dunyā la‘ibun wa lahwun.”
Sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan senda gurau.

Kalimat ini bukan ajakan membenci dunia, bukan pula seruan untuk meninggalkan kehidupan. Ia adalah peringatan agar kita tidak tertipu oleh panggung yang sementara. Dunia sering tampil memikat, riuh, penuh perlombaan, penuh citra dan gengsi. Kita sibuk mengejar peran, mempertahankan posisi, dan mengumpulkan kesenangan—seakan-akan semua itu abadi.

Di tengah arus itu, puasa hadir sebagai jeda kesadaran.

Ketika kita menahan makan dan minum, kita sedang keluar dari ritme konsumsi yang terus-menerus. Ketika kita menahan amarah, kita keluar dari drama ego yang biasa menguasai relasi. Ketika kita memperbanyak dzikir dan tafakkur, kita sedang menarik diri dari hiruk-pikuk permainan menuju keheningan makna.

Puasa mengajarkan jarak.

Selama ini kita begitu dekat dengan dunia hingga sulit melihatnya secara jernih. Kita terlibat, tenggelam, bahkan terikat. Lapar beberapa jam saja mampu mengubah perspektif kita tentang kebutuhan. Haus seharian cukup untuk menyadarkan bahwa hidup tidak sesederhana menuruti keinginan.

Di situlah hikmahnya: puasa membuka tirai ilusi. Apa yang tampak mendesak ternyata bisa ditunda. Apa yang terasa mutlak ternyata tidak sepenting yang kita kira. Apa yang selama ini kita kejar dengan penuh ambisi ternyata hanyalah bagian dari permainan yang akan selesai.

Namun puasa tidak mengajarkan pelarian. Kita tetap bekerja, tetap berkarya, tetap berinteraksi. Bedanya, batin kita tidak lagi terhisap sepenuhnya oleh permainan itu. Kita hadir di dunia, tetapi tidak larut dalam kelalaiannya.

Dalam kesadaran ruhani, dunia menjadi berbahaya bukan karena ia ada, tetapi karena kita melekat padanya. Puasa melatih kita memegang tanpa menggenggam, memiliki tanpa diperbudak, menikmati tanpa kehilangan arah pulang.

Maka Ramadhan bukan sekadar bulan ibadah tambahan. Ia adalah latihan melihat dunia dari sudut yang lebih tinggi. Kita tidak lagi sekadar menjadi pemain yang sibuk memenangkan pertandingan, tetapi hamba yang sadar bahwa panggung ini sementara.

Dan ketika kesadaran itu tumbuh, dunia tidak lagi menjadi la‘ibun wa lahwun yang melalaikan. Ia berubah menjadi jalan pembelajaran—tempat kita diuji, dibentuk, dan dipersiapkan untuk kembali kepada-Nya dengan hati yang lebih tenang. (Har)

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.