Thu,30 April 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Lentera
  3. Puasa: Menjernihkan Nurani Demokrasi

Puasa: Menjernihkan Nurani Demokrasi

puasa:-menjernihkan-nurani-demokrasi
Puasa: Menjernihkan Nurani Demokrasi
service

Partai politik senantiasa membutuhkan rakyat yang tolol.”
— Tan Malaka

Puasa mengajarkan manusia menahan lapar dan dahaga. Namun hakikat puasa bukan sekadar menahan perut, melainkan menahan kerakusan kekuasaan, keserakahan harta, dan kebutaan nurani.

Dalam kehidupan politik kita, aturan kerap dijadikan tameng pembenaran. Sesuatu dianggap sah karena “sesuai ketentuan yang berlaku”, meski rasa keadilan publik terluka. Ketentuan dipatuhi secara formal, tetapi nurani dilanggar secara moral.

Fenomena kembalinya figur publik ke kursi Parlemen—setelah didepak oleh gelombang demonstrasi—melalui celah prosedural memperlihatkan satu kenyataan: jarak antara suara rakyat dan telinga kekuasaan bukan sekadar jauh, melainkan kehilangan empati.

Kekuasaan sejati bukan dominasi, melainkan amanah. Jabatan bukan kehormatan, tetapi beban pertanggungjawaban di hadapan Tuhan dan sejarah.

Ketika parlemen berubah menjadi stempel kepentingan elit dan partai menjadi pabrik kebijakan pesanan sponsor, politik kehilangan ruhnya. Ia tak lagi menjadi sarana kemaslahatan, melainkan transaksi kepentingan.

Namun kita tidak bisa hanya menyalahkan elite. Pertanyaan yang lebih jujur adalah: apakah rakyat juga telah terbiasa memaafkan pengkhianatan, melupakan kezaliman, dan menukar masa depan dengan imbalan sesaat?

Kemiskinan struktural dan ketimpangan pendidikan membuat suara hati mudah dibeli. Selembar uang kecil menjelang pemilu dapat mengalahkan kesadaran politik yang matang. Ini bukan sekadar kesalahan individu, melainkan tanda sistem yang membiarkan kebodohan tetap lestari.

Dalam perspektif spiritual, kebodohan bukan sekadar ketiadaan ilmu, tetapi matinya kesadaran. Ketika kesadaran mati, manusia mudah diperalat. Ketika kesadaran hidup, manusia sulit diperbudak.

Puasa melatih manusia menunda keinginan. Zakat melatih melawan keserakahan. Ibadah malam melatih merendahkan ego. Bacaan wahyu melatih mendengar kebenaran.

Jika latihan ini berhasil, masyarakat akan menjadi sulit dibeli, sulit ditipu, dan sulit ditundukkan oleh manipulasi kekuasaan.

Negeri ini tidak kekurangan pemimpin, tetapi kekurangan kesadaran kolektif.

Perubahan tidak selalu dimulai dari istana. Ia dimulai dari hati manusia yang berani menjaga nurani.[]

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.