Sat,15 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Opinion
  3. Seni Mengelola Amarah Menurut Prof Quraish Shihab

Seni Mengelola Amarah Menurut Prof Quraish Shihab

seni-mengelola-amarah-menurut-prof-quraish-shihab
Seni Mengelola Amarah Menurut Prof Quraish Shihab
service

Jakarta, NU Online

Marah merupakan emosi manusiawi yang pasti pernah dirasakan setiap individu. Namun, di tengah dinamika sosial yang kian memanas, baik di dunia nyata maupun media sosial, pelampiasan amarah memerlukan batas yang jelas agar tidak berujung pada kerusakan.

Pakar tafsir Al-Qur’an Prof Muhammad Quraish Shihab menekankan pentingnya regulasi emosi agar kemarahan tidak berkembang menjadi tindakan destruktif. Hal itu ia sampaikan dalam pengajian Ramadhan Tafsir Al-Misbah: Hidup Bersama Al-Qur’an bertajuk Marah dan Batasannya di kanal YouTube Pusat Studi Al-Qur’an, Rabu (25/2/2026).

Menurutnya, Islam tidak melarang rasa marah sepenuhnya. Dalam kondisi tertentu, marah bahkan dapat dibenarkan, seperti ketika menyaksikan kezaliman atau pelanggaran nilai-nilai agama. Namun, kemarahan harus dikendalikan secara ketat.

“Marah boleh. Tetapi kalau bisa, jangan sampai kemarahan itu terlihat di wajah. Kalau tidak bisa, jangan sampai disertai dengan ucapan. Kalau harus berucap, jangan sampai ucapan itu kasar dan membekas terlalu dalam,” ujarnya.

Ia menjelaskan adanya hierarki pengendalian diri yang kerap diabaikan. Kemarahan, katanya, tidak boleh meluap hingga mencederai martabat apalagi fisik orang lain.

“Banyak individu yang saat merasa marah, langsung melompat pada tahap verbal atau mengeluarkan kata-kata kasar bahkan kekerasan fisik. Jangan sampai tangan bergerak. Kalau harus bergerak, jangan sampai mencederai,” tegasnya.

Prof Quraish juga menyoroti pola asuh yang mengedepankan hukuman emosional. Ia mengingatkan bahwa tidak sedikit orang berdalih memberi pelajaran, padahal sejatinya sedang melampiaskan dendam pribadi.

“Kalau menghukum itu karena kita marah, kita ingin membuat dia jera dengan menyiksa. Sementara kalau mendidik, kita melakukannya karena ingin dia mendapat pelajaran dan manfaat kebaikan,” tuturnya.

Ia mengajak masyarakat meneladani sifat halim, yakni kemampuan menahan amarah demi memberi ruang bagi orang lain untuk introspeksi dan memperbaiki diri.

Sebagai langkah praktis, ia menyarankan membaca ta’awudz, berwudhu, atau berpindah posisi saat marah. Cara-cara tersebut, menurutnya, dicontohkan para nabi sebagai bentuk pengendalian diri.

“Mengendalikan amarah adalah kewajiban moral. Kalau ingin marah, ingat-ingat kalimat, jangan marah, maka bagimu surga, nanti akan reda perlahan,” ujarnya.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.