Sun,26 April 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Lentera
  3. Mengapa Industri Perfilman Rentan Menjadi Sarang Predator Seksual?

Mengapa Industri Perfilman Rentan Menjadi Sarang Predator Seksual?

mengapa-industri-perfilman-rentan-menjadi-sarang-predator-seksual?
Mengapa Industri Perfilman Rentan Menjadi Sarang Predator Seksual?
service

ndustri Perfilman

Mubadalah.id – Jagad industri perfilman lagi berduka selepas beredarnya kabar tentang dugaan tindak pelecehan seksual oleh salah seorang sineas tanah air. Dugaan tindak pelecehan seksual itu menyeret nama Erza Octa Azis, sutradara sekaligus penulis film “Tirai Jagal”.

Desas-desus tentang pelecehan seksual yang mengarah pada diri Erza bermula dari postingan sebuah akun X (twitter) yang mengunggah kisahnya kala mengikuti casting untuk film garapan sineas muda itu. Korban mengaku jika Erza memanipulasinya lewat serangkaian dalih.

Selaku insan yang bergelut di industri perfilman dan menjadikannya ladang kreasi dan memburu pendapatan, Erza agaknya telah overlapping. Ia menyalahgunakan posisi dan kuasa strukturalnya sekadar demi memuaskan syahwat bejatnya.

Korban mengaku jika Erza acap menghubunginya secara rutin dengan alibi membangun ikatan (chemistry) sembari memberi ancaman halus agar ia mau merespon. Selepas lama berulang, korban pun merasa muak. Ia akhirnya memutuskan untuk berani speak up.

Namun, alih-alih bertanggung jawab dan mengakui perbuatannya, Erza justru bersikap denial. Melalui unggahan instagram, ia menyebut jika proses casting-nya berlangsung secara terbuka. “Casting kita di tempat umum. Orang tua datang, bisa melihat, bisa bertanya langsung,” dalihnya.

Bukan anomali, bahkan dinormalisasi

Tindak pelecehan di industri perfilman mungkin hampir-hampir tak lagi merupakan sebuah anomali atau kejanggalan. Seorang kawan yang bergerak di bidang produksi film lokal pernah menyinggung hal itu dengan kalimat ringan.

“Yang kaya gitu udah biasa di dunia film,” ujarnya waktu itu. Kata “gitu” yang ia maksud merujuk kepada tindak pelecehan verbal seperti sapaan seksis serta pelecehan fisik seperti “sekadar” meraba atau merangkul seolah ingin membangun keakraban.

Naba’ dari kawan itu beroleh amplifikasi saat kawan lain dari sebuah lokakarya teater bercerita betapa industri perfilman tak ubahnya momok bertopeng. Di balik wujud karya akhir yang kerap membikin pecinta film angkat topi, menyelip beragam luka yang tak pernah mengemuka.

Tak sampai di situ, belum lama ini, aktris sekaligus aktivis perempuan, Hannah Al Rashid, juga angkat bicara perihal ganasnya industri perfilman. Co-founder Kawanpuan.id itu sejujurnya mengaku lelah dan kecapaian dengan pelbagai tindak pelecehan yang menimpa kaum perempuan.

Pengakuan muak serta kecapaiannya menunjukkan jika kasus ini tidaklah berlangsung sekali atau dua kali saja. Namun, laku bejat ini telah menempel erat dalam jalannya nadi industri. Mirisnya, banyak korban yang malah disalahkan; bukannya mendapat dukungan atau pembelaan.

It’s so triggering. Tapi yang penting, bagaimana kita bisa mengubah trigger itu menjadi perubahan nyata,” ujar Hannah jujur melalui unggahan video di feed instagramnya. Ia pun tak lepas dari mengkritik kecenderungan publik yang selalu kepo, tapi tak berkontribusi bagi perbaikan industri perfilman.

Menelusuri Sebab, Merumuskan Solusi

Maraknya kasus pelecehan seksual di industri perfilman pada kanal akhirnya menuntut penelusuran serius. Kita mesti berupaya mengungkap sebab mengapa praktik ini begitu subur menjamur. Toh, hanya dengan mengetahui akar masalahnya lah, kita dapat merumuskan solusi yang tepat sasaran.

Deepika Singh, peneliti bidang hukum di Universitas Amity India, mengemukakan tiga sebab mengapa praktik kekerasan seksual begitu lazim di dunia film. Tiga hal itu ia tuangkan dalam sebuah artikel jurnal bertajuk Workplace Sexual Harrasment in The Film Industry: Systemic Challenges and Pathways to Reform.

Menurut Deepika Singh, kekerasan itu muncul sebagai hal normal lantaran model kerja yang tak jelas (unstable), kendali yang melembaga namun rumit, serta tiadanya komponen perlindungan penentu. Lebih lanjut, Deepika juga menemukan jika hierarki kuasa yang begitu dominan serta gaya kerja lepas (freelance) turut memperparah kerentanan.

Penelitian Deepika Singh tak menampik jika sebagian pelaku industri perfilman telah berupaya melakukan beragam upaya pelatihan untuk mencegah terjadinya kekerasan. Namun, akibat besarnya ketakberimbangan kuasa (power imbalance) antara para pihak, upaya mulia itu acap menemui kegagalan—juga kebuntuan.

Karenanya, kita membutuhkan sebuah sinergi dan kolaborasi antarpihak yang memadukan langkah hukum, perbaikan organisasi, serta perubahan budaya. Beragam aktor kunci, seperti pembuat film atau sineas, para pekerja film, aktivis, serta pemerhati buruh dan pekerja (labor scholar) mestinya saling bergandengan tangan untuk satu praktik baik.

Kini kita menyadari bahwa untuk membongkar—dan tentunya menuntaskan—masalah kekerasan seksual di industri perfilman tidaklah mudah. Perlu kerja “keroyokan” yang tak bisa digarap oleh segelintir orang, melainkan memerlukan kerja sama serentak. Karenanya, diam dan membiarkan bukanlah pilihan.

Lalu, akan dari mana kita mulai sekarang? []

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.