Ditulis oleh Moh. Alpin Pulungan •
KABARBURSA.COM — Keputusan OpenAI bekerja sama dengan Departemen Pertahanan Amerika Serikat memicu gejolak di internal perusahaan. Salah satu petinggi yang memegang peran penting dalam pengembangan perangkat keras akhirnya memilih mundur.
Kepala Robotika dan Perangkat Keras Konsumen OpenAI, Caitlin Kalinowski, mengumumkan pengunduran dirinya pada Sabtu. Ia menyebut keputusan perusahaan menyetujui kerja sama dengan Pentagon menimbulkan kekhawatiran serius mengenai tata kelola dan penggunaan kecerdasan buatan.
Pengumuman itu disampaikan Kalinowski melalui akun media sosial X. Ia menilai OpenAI terlalu cepat mengambil keputusan untuk menempatkan model kecerdasan buatan mereka di jaringan komputasi awan rahasia milik militer Amerika.
Kalinowski menegaskan bahwa teknologi kecerdasan buatan memang memiliki peran penting dalam keamanan nasional. Namun menurutnya, penerapannya harus melalui pertimbangan yang jauh lebih matang.
“Kecerdasan buatan memiliki peran penting dalam keamanan nasional,” tulis Kalinowski, dikutip dari Reuters, Ahad, 8 Maret 2026. “Namun pengawasan terhadap warga Amerika tanpa pengawasan peradilan dan otonomi mematikan tanpa otorisasi manusia adalah batas yang seharusnya mendapat pertimbangan lebih serius daripada yang terjadi.”
Ia juga menyampaikan perusahaan seharusnya menetapkan aturan pengaman yang jelas sebelum mengumumkan kesepakatan dengan Pentagon. Dalam unggahan lanjutan di X, Kalinowski menegaskan bahwa persoalan ini terutama berkaitan dengan tata kelola teknologi.
“Ini pertama dan terutama adalah persoalan tata kelola,” tulisnya. “Isu-isu ini terlalu penting untuk kesepakatan atau pengumuman yang terburu-buru.”
Hubungan Tetap Baik dengan Pimpinan OpenAI
Meski memutuskan keluar, Kalinowski menegaskan tetap menghormati pimpinan dan tim di OpenAI. Ia menyebut memiliki rasa hormat yang besar terhadap Chief Executive Officer OpenAI Sam Altman serta tim pengembang di perusahaan tersebut.
Namun menurutnya, kesepakatan dengan Pentagon diumumkan sebelum kerangka pengamanan penggunaan teknologi benar-benar disusun secara jelas. Reuters tidak dapat segera memperoleh tanggapan langsung dari Kalinowski setelah pengumuman tersebut.
Sehari setelah kerja sama dengan Pentagon diumumkan, OpenAI menyatakan perjanjian tersebut mencakup sejumlah langkah pengamanan tambahan. Langkah ini dimaksudkan untuk memastikan penggunaan teknologi kecerdasan buatan tetap berada dalam batas yang diizinkan.
Perusahaan kembali menegaskan ada garis merah yang tidak akan dilanggar dalam penggunaan teknologi mereka. Batas tersebut mencakup larangan penggunaan kecerdasan buatan untuk pengawasan domestik maupun senjata otonom. Dalam pernyataan kepada Reuters, OpenAI menyebut perusahaan memahami bahwa isu tersebut memicu pandangan yang kuat di masyarakat.
“Kami menyadari orang-orang memiliki pandangan yang kuat mengenai isu-isu ini dan kami akan terus berdiskusi dengan karyawan, pemerintah, masyarakat sipil, dan komunitas di seluruh dunia,” katanya.
Kalinowski bergabung dengan OpenAI pada 2024. Sebelumnya ia memimpin pengembangan perangkat keras augmented reality di Meta Platforms. Kepergiannya menambah daftar diskusi publik mengenai batas penggunaan kecerdasan buatan, terutama ketika teknologi tersebut mulai terhubung langsung dengan kepentingan militer dan keamanan negara.(*)
Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.





Comments are closed.